Close Menu
JalaStoria.idJalaStoria.id
  • Home
  • Ragam
  • Perspektif
  • Storimini
  • Sosok
  • Telaah
    • Hukum
    • Riset
    • Buku
    • Film
  • Konsultasi
  • Mitra
  • Media
  • English Version
Facebook X (Twitter) Instagram YouTube LinkedIn TikTok
  • Tentang Kami
  • Makna Logo
  • Daftar Isi
  • Tim Kami
  • Kirim Tulisan
  • Kontak Kami
  • Arsip
Facebook X (Twitter) Instagram YouTube LinkedIn TikTok
JalaStoria.idJalaStoria.id
  • Home
  • Ragam
  • Perspektif
  • Storimini
  • Sosok
  • Telaah
    • Hukum
    • Riset
    • Buku
    • Film
  • Konsultasi
  • Mitra
  • Media
  • English Version
JalaStoria.idJalaStoria.id
Home»Ragam»Perlu Ekosistem Dukungan bagi UMKM

Perlu Ekosistem Dukungan bagi UMKM

Ragam jalastoria8 Mei 2021
Ilustrasi (Macrovektor/Freepik.com)

JAKARTA, JALASTORIA.ID – Dukungan terhadap UMKM merupakan salah satu jalan untuk memberikan dukungan kepada perempuan, khususnya yang menjadi pelaku UMKM.

Data dari Kementerian Koperasi dan UKM menunjukkan, tingkat kewirausahaan di Indonesia perempuan cukup tinggi. Survey menunjukkan 49% perempuan Indonesia berwirausaha.

Hal itu disampaikan Eddy Satriya, Deputi Usaha Mikro Kementerian Koperasi dan UMKM, dalam Webinar Perempuan Pelaku UMKM di Tengah Pandemi, yang diselenggarakan oleh Maju Perempuan Indonesia (MPI) dan Kaukus Perempuan Politik Indonesia (KPPI), (7/5).

Berdasarkan survey BPS 2020, perempuan penduduk Indonesia berjumlah total 133,54 juta jiwa. Artinya, terdapat setidaknya 65,434 juta orang perempuan Indonesia yang berwirausaha.

Sementara itu, berdasarkan data dari Kementerian Keuangan, pada sektor UMKM, 53,76%-nya dimiliki oleh perempuan, dengan 97% karyawannya adalah perempuan, dan kontribusi dalam perekonomian 61% (Kemenkeu, 21/4).

Oleh karena itu, menurut Eddy, Pemerintah menggelontorkan sejumlah program untuk mendukung UMKM, antara lain yang ditujukan untuk menaikkan skala usaha mikro menjadi usaha kecil. Termasuk mendorong transformasi dari sektor informal ke sektor formal, antara lain untuk memperoleh perijinan sehingga tidak lagi terjadi penggusuran oleh Satpol PP. Selain itu, memiliki pembukuan yang rapi, lokasi yang menetap, sampai akhirnya dapat membayar pajak.

“Kebijakan diharapkan tidak hanya populis, tapi bisa berkontribusi menaikkan kesejahteraan masyarakat, mengurangi tingkat kemiskinan, dan menambah lapangan kerja,” ungkap Eddy.

UMKM Pelaku Ekspor

Adapun data dari Gabungan Pengusaha Ekspor Indonesia (GPEI), perempuan pelaku eskpor banyak bergerak di bidang kerajinan tangan, bumbu masak masakan Indonesia, fashion, sanitasi, hingga produk spa. Yuyun Yunastuti dari GPEI mencontohkan, produk makanan yang diekspor dari Indonesia ke Hongkong merupakan produk UMKM yang dibantu promosinya oleh Konsul Perdagangan KJRI di Hongkong.  Awalnya, target market adalah masyarakat Indonesia di sana, tapi kemudian juga menyasar masyarakat setempat.

Yuyun menengarai, banyaknya perempuan yang bergerak di sektor UMKM karena pekerjaan ini dapat dikerjakan di rumah dan tidak terikat waktu. Selain itu, pekerjaan ini juga dapat dilakukan sambil mengurus keluarga.

Tulang Punggung Perekonomian

Sementara itu, Ketua Presidium Kaukus Perempuan Parlemen Republik Indonesia Diah Pitaloka mengingatkan, di situasi pandemi seperti saat ini, Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) adalah tulang punggung dari perekonomian skala makro di Indonesia. “UMKM juga tidak terlepas dari upaya rill masyarakat Indonesia untuk melepaskan diri dari kemiskinan,” tandas Wakil Ketua Komisi VIII DPR RI ini.

Oleh karena itu, menurut Diah, diperlukan kebijakan terintegrasi di tingkat nasional yang memberikan tindakan afirmasi bagi UMKM. Hal itu perlu dilakukan melalui regulasi yang membangun keterkaitan antara bantuan permodalan dengan kebijakan pasar, finansial, sampai ekspor.

Oleh karena itu, Diah berharap, bantuan permodalan yang digelontorkan oleh negara perlu dibangun sebagai strategi ekonomi, sehingga tidak hanya bersifat populis sebagai bantuan modal.

“Selain bantuan modal, juga perlu bantuan teknologi untuk peningkatan kualitas dan perlu konsistensi dalam kualitas,” tandasnya.

Selain itu, dukungan terhadap UMKM juga seharusnya terintegrasi dengan kebijakan di bidang lainnya, seperti pertanahan dan perairan. Diah mencontohkan, ada potensi pasar bagi petani sayur namun mereka mengalami kesulitan karena misalnya tidak selalu tersedia air.  Oleh karena itu, ekosistem dukungan terhadap UMKM seharusnya tidak bersifat sporadis.

“Banyak negara yang mampu bangkit dari home industry, membangun kekuatan makro dari kekuatan ekonomi mikro,” ungkap Diah, seraya menambahkan agar ada strategi nasional yang sungguh-sungguh menguatkan UMKM sebagai tulang punggung ekonomi Indonesia. [MUK]

 

Sumber Ilustrasi: <a href=’https://www.freepik.com/vectors/food’>Food vector created by macrovector – www.freepik.com</a>

 

ekonomi Pandemi Pemberdayaan perempuan UMKM usaha mikro
Share. WhatsApp Facebook Twitter LinkedIn Tumblr Email Telegram

Related Posts

Relasi Gender di Suku Tuareg: Perempuan Tidak Bercadar, Laki-Laki yang Harus Melakukannya

9 Mei 2026

Mengecam Keras Pelaku Kekerasan yang Berlindung di Balik Otoritas Pendidikan dan Keagamaan

9 Mei 2026

Duka di Rel Kereta Api: Evaluasi Layanan dalam Perspektif Gender

3 Mei 2026

Comments are closed.

Relasi Gender di Suku Tuareg: Perempuan Tidak Bercadar, Laki-Laki yang Harus Melakukannya

9 Mei 2026

Mengecam Keras Pelaku Kekerasan yang Berlindung di Balik Otoritas Pendidikan dan Keagamaan

9 Mei 2026

Kala Split Bill Sentil Maskulinitas Pria

7 Mei 2026

Menjaga Perempuan atau Mendidik Laki-laki?

4 Mei 2026
banner jalastoria
Facebook X (Twitter) Instagram YouTube LinkedIn TikTok
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Makna Logo
  • Kirim Tulisan
© 2026 | All rights reserved

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.