Close Menu
JalaStoria.idJalaStoria.id
  • Home
  • Ragam
  • Perspektif
  • Storimini
  • Sosok
  • Telaah
    • Hukum
    • Riset
    • Buku
    • Film
  • Konsultasi
  • Mitra
  • Media
  • English Version
Facebook X (Twitter) Instagram YouTube LinkedIn TikTok
  • Tentang Kami
  • Makna Logo
  • Daftar Isi
  • Tim Kami
  • Kirim Tulisan
  • Kontak Kami
  • Arsip
Facebook X (Twitter) Instagram YouTube LinkedIn TikTok
JalaStoria.idJalaStoria.id
  • Home
  • Ragam
  • Perspektif
  • Storimini
  • Sosok
  • Telaah
    • Hukum
    • Riset
    • Buku
    • Film
  • Konsultasi
  • Mitra
  • Media
  • English Version
JalaStoria.idJalaStoria.id
Home»Telaah»Riset»Riset: Film dengan Protagonis Perempuan Raup Pendapatan Lebih Banyak

Riset: Film dengan Protagonis Perempuan Raup Pendapatan Lebih Banyak

Riset jalastoria14 Desember 2019

Keputusan untuk memilih pemeran utama berdasarkan gender tidak bisa dipandang sebelah mata di industri film dunia.

Setidaknya riset terbaru menunjukkan, film dengan protagonis perempuan meraup pendapatan lebih banyak ketimbang film dengan tokoh utama laki-laki.

Creative Artists Agency (CAA) dan Shift7 yang bekerjasama dengan TIME’S UP — organisasi penentang pelecehan seksual di tempat kerja bentukan sejumlah tokoh perempuan di industri hiburan — menganalisis 350 film paling laris (Box Office) di dunia yang dirilis dalam rentang waktu 2014-2017.

Dari 350 film itu, sebanyak 105 di antaranya punya pemeran utama perempuan. Sedangkan sisanya, 245 film, menghadirkan tokoh sentral berjenis kelamin laki-laki.

Analisis riset menunjukkan, rata-rata film — baik yang diproduksi dengan bujet rendah maupun tinggi — dengan protagonis perempuan unggul dalam perolehan pendapatan global.

Untuk jenis film yang diproduksi dengan anggaran $ 100 juta, misalnya, film dengan tokoh utama perempuan, rata-rata, meraup $ 586 juta atau unggul $ 70 juta lebih dibandingkan dengan film dengan tokoh utama laki-laki yang, secara rerata, mendulang pendapatan $ 514 juta.

Kemudian film yang lolos Tes Bechdel juga punya hasil serupa yakni menempatkan film dengan tokoh utama perempuan sebagai peraih pendapatan lebih banyak tinimbang film dengan protagonis laki-laki.

Tes Bechdel merupakan sistem penilaian film berdasarkan dua tokoh perempuan yang saling bercakap mengenai apapun selain soal laki-laki.

“Dan sejak 2012, semua film yang berhasil mencatatkan pendapatan di atas $ 1 miliar adalah film yang lulus Tes Bechdel,” tulis Shift7 di laman websitenya saat diakses pada Kamis (13/12/2018).

Sebagai catatan, periode rilis film yang menjadi obyek riset di atas bersamaan waktunya dengan populernya gerakan menuntut persamaan perlakukan dan hak aktris perempuan di industri Hollywood yang lebih dikenal dengan tagar #OscarsSoWhite dan #MeToo.

Adapun di antara film paling laris yang menjadi obyek analisis adalah “Wonder Woman”, “Moana”, “Trolls”, dan “Beauty and The Beast”. (asw)

sumber data: Shift7; CNBC
sumber gambar: Rotten Tomatoes

ringkasan riset: https://shift7.com/media-research/

Riset tentang Perempuan
Share. WhatsApp Facebook Twitter LinkedIn Tumblr Email Telegram

Related Posts

Survei: Tenaga Kerja Perempuan Indonesia di Sektor Teknologi Terendah di Asia Tenggara 

1 Maret 2023

Karya Perempuan Kepala Daerah

17 Februari 2023

Cyberbullying Intai Anak dan Remaja

26 Desember 2022

Comments are closed.

Relasi Gender di Suku Tuareg: Perempuan Tidak Bercadar, Laki-Laki yang Harus Melakukannya

9 Mei 2026

Mengecam Keras Pelaku Kekerasan yang Berlindung di Balik Otoritas Pendidikan dan Keagamaan

9 Mei 2026

Kala Split Bill Sentil Maskulinitas Pria

7 Mei 2026

Menjaga Perempuan atau Mendidik Laki-laki?

4 Mei 2026
banner jalastoria
Facebook X (Twitter) Instagram YouTube LinkedIn TikTok
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Makna Logo
  • Kirim Tulisan
© 2026 | All rights reserved

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.