Close Menu
JalaStoria.idJalaStoria.id
  • Home
  • Ragam
  • Perspektif
  • Storimini
  • Sosok
  • Telaah
    • Hukum
    • Riset
    • Buku
    • Film
  • Konsultasi
  • Mitra
  • Media
  • English Version
Facebook X (Twitter) Instagram YouTube LinkedIn TikTok
  • Tentang Kami
  • Makna Logo
  • Daftar Isi
  • Tim Kami
  • Kirim Tulisan
  • Kontak Kami
  • Arsip
Facebook X (Twitter) Instagram YouTube LinkedIn TikTok
JalaStoria.idJalaStoria.id
  • Home
  • Ragam
  • Perspektif
  • Storimini
  • Sosok
  • Telaah
    • Hukum
    • Riset
    • Buku
    • Film
  • Konsultasi
  • Mitra
  • Media
  • English Version
JalaStoria.idJalaStoria.id
Home»Storimini»Menghadang Pelecehan Dari Kisah Buruk Masa Lalu

Menghadang Pelecehan Dari Kisah Buruk Masa Lalu

Storimini jalastoria29 Desember 2022
pelecehan
Ilustrasi (Sumber: Free-vector/Freepik.com)

Kisahnya bermula saat dia, sebut saja Dini, duduk di kelas 1 SMP. Jauhnya jarak antara rumah dan sekolah terkadang mengharuskan Dini singgah bahkan menginap di rumah kenalan dekat orangtuanya. Di sinilah kisah pahit Dini bermula.

Kenalan orang tua Dini tinggal di rumah sederhana. Berdinding bilik bambu. Memiliki tiga orang anak. Satu di antaranya adalah laki-laki.

Siang itu seperti biasa, saat Dini menunggu orangtuanya menjemput, dia singgah di rumah tersebut.  Namun Dini mengamati, setiap kali dia mandi, anak laki-laki itu selalu sibuk di dapur yang letaknya persis di depan kamar mandi.

Semula Dini menganggap itu hanya kebetulan saja. Namun di lain hari, usai Dini mengikuti ekstrakurikuler pramuka di sekolah, seperti biasa Dini kembali singgah. Tak tahan dengan rasa kantuknya, Dini pun langsung merebahkan badan di kamar. Di saat hendak lelap, Dini merasakan ada seseorang berdiri dan menarik-narik roknya. Sontak Dini terjaga. Didapatinya anak laki-laki itu tengah membuka roknya. Dini meloncat kaget. Begitu pun anak laki-laki itu yang langsung kabur ke luar kamar.

Dari sini Dini masih belum percaya. Hingga suatu malam, saat Dini menginap, anak laki-laki itu kembali melecehkannya. Dini tidur bersama dua saudara perempuan anak laki-laki itu. Anehnya anak laki-laki itu masuk ke kamar dan pura-pura membaca di bawah tempat tidur. Dini pun waspada, pura-pura tidur untuk meyakinkan bahwa yang dilakukan laki-laki itu salah.

Baca Juga: Lawan Mitos di Seputar Pelecehan Seksual

Saat laki-laki itu hendak menarik celananya, Dini bangun. Lagi-lagi laki-laki itu kabur. Di malam berikutnya  Dini lebih waspada. Menggunakan celana panjang lapis tiga dan mengikatnya. Laki-laki itu kembali melakukan pelecehan. Masuk ke kamar, duduk di bawah dekat kasur dan mulai mendekati Dini, berusaha membuka celana panjang Dini. Sontak Dini bangun. Sekali lagi, laki-laki yang saat itu duduk di bangku SLTA itu pun kabur.

Dari kejadian itu Dini lalu menceritakan kepada adik perempuannya. Rupanya adik Dini, yang masih sekolah dasar, juga sering dipeluk bahkan diciumi oleh anak laki-laki itu sembari berucap i love you. Keduanya lalu bersepakat, menolak untuk dititipkan di rumah kenalan orang tuanya. Upaya ini berhasil karena kemudian orang tuanya memilih menitipkan Dini kepada saudara sepupunya. Saat itu Dini memilih tidak menceritakan kepada orangtuanya karena malu dan takut tidak dipercaya.

Peristiwa yang sudah puluhan tahun itu menjadikan Dini tak pernah bisa tidur dengan lelap sampai saat ini. Dini bahkan sempat menolak berpacaran karena menganggap laki-laki pendiam seperti pelaku saja masih bisa berbuat mesum, apalagi laki-laki lain.

Saat Dini dan adiknya sudah dewasa dan bekerja, Dini menceritakan kisah buruknya kepada orangtuanya. Mendengar itu ibunya kaget dan marah. Ia bahkan menanyakan alasan Dini tidak menceritakannya sejak dulu.

Kini Dini dan adiknya sudah menikah. Keduanya selalu menolak jika orangtuanya mengajak mereka untuk mengunjungi kenalan orangtuanya itu.

***

Baca Juga: Pelecehan Seksual Dekat dengan Perkosaan

Saat ini Dini memiliki dua anak, perempuan dan laki-laki. Kisah buruknya di masa lalu menjadikan Dini mengajarkan banyak hal kepada anak-anaknya. Mengenalkan kepada anaknya tentang organ tubuh dan batasan yang boleh dan tidak boleh dipegang baik oleh perempuan maupun laki-laki. Mengajarkan anaknya agar jangan pernah takut untuk menceritakan apa saja yang dialami baik di sekolah, saat bermain, maupun saat berada di mana pun.

Suatu hari, anak perempuannya yang berusia 5 tahun bilang kalau dia dicium oleh bapak tukang sampah di lingkungan tempat tinggalnya. Dini geram, mengekspresikannya lewat status Whatsapp. Warga pun merespons status Dini. Dari sini kemudian pengurus berembug dan memutuskan untuk memberhentikan petugas kebersihan tersebut.

Dini lega. Paling tidak ketakutannya dulu telah berubah menjadi keberanian. Berani menghadang pelecehan yang membidik anak perempuannya. Berani memecahkan malu seperti yang dulu dia rasa. [Nur Azizah]

korban pelecehan
Share. WhatsApp Facebook Twitter LinkedIn Tumblr Email Telegram

Related Posts

Perlunya Dukungan Keluarga terhadap Perempuan Tulang Punggung Keluarga

3 April 2026

Maskulinitas Jalan Raya dalam Perspektif Pengendara Motor Perempuan

3 April 2026

Pernikahan Merenggut Identitas Perempuan

3 Maret 2026

Comments are closed.

Relasi Gender di Suku Tuareg: Perempuan Tidak Bercadar, Laki-Laki yang Harus Melakukannya

9 Mei 2026

Mengecam Keras Pelaku Kekerasan yang Berlindung di Balik Otoritas Pendidikan dan Keagamaan

9 Mei 2026

Kala Split Bill Sentil Maskulinitas Pria

7 Mei 2026

Menjaga Perempuan atau Mendidik Laki-laki?

4 Mei 2026
banner jalastoria
Facebook X (Twitter) Instagram YouTube LinkedIn TikTok
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Makna Logo
  • Kirim Tulisan
© 2026 | All rights reserved

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.