Oleh: Desak Gede Fianda Intan Nareswari
Budaya Bali memiliki kekayaan tradisi yang kuat, namun dibalik itu masih terdapat realitas sosial yang sarat dengan pengaruh patriarki. Perempuan Bali seringkali ditempatkan dalam posisi subordinat dengan beban rangkap tiga, yakni tanggung jawab domestik, kontribusi ekonomi, serta kewajiban sosial-adat (Ngayah/Mebraya). Gambaran ini begitu melekat hingga kerap dianggap hal yang wajar. Padahal, beban berlapis tersebut juga menciptakan keterbatasan, mulai dari akses pendidikan, peluang karir, hingga ruang untuk mengekspresikan diri.
Fenomena inilah yang mendorong lahirnya Sakapuan pada tahun 2021. Komunitas ini didirikan oleh tiga perempuan muda Bali, yaitu Ketut Shinta Savita Dewi, S.Psi. sebagai Co-Founder & Managing Director, Putu Azmellya Putri Sanjaya, S.T. sebagai Co-Founder & Program Director, dan Made Ayu Kurniati Atmaja, S.Ked. sebagai Co-Founder.
Nama Sakapuan dipilih sebagai simbol keberanian dan kemandirian. Berangkat dari keprihatinan terhadap kuatnya sistem patriarki, Sakapuan berkomitmen untuk membuka ruang aman bagi perempuan muda agar bisa tumbuh tanpa terbelenggu stereotip.
Mengusung Nilai Empati, Keberanian, dan Kemandirian
Sakapuan dikenal dengan tagar #BerhatiBeraniBerdikari. Tiga kata ini bukan sekadar slogan, melainkan arah gerakan mereka. Berhati berarti menghadirkan empati dan ruang untuk saling mendengar tanpa menghakimi. Berani dimaknai sebagai dorongan agar perempuan muda bersuara, menantang norma diskriminatif, dan yakin pada kapasitas dirinya. Sementara Berdikari menekankan kemandirian, baik secara mental maupun pengambilan keputusan.
Nilai-nilai tersebut menegaskan bahwa kesetaraan gender bukanlah upaya melawan laki-laki, melainkan membangun keseimbangan relasi dalam keluarga dan masyarakat.
Ruang Aman dalam Berbagai Program
Sebagai komunitas, Sakapuan tidak berhenti pada wacana. Mereka merancang sejumlah program nyata yang langsung menyentuh kebutuhan perempuan muda Bali. Melalui advokasi media sosial, mereka membongkar mitos seputar peran perempuan sekaligus menyajikan edukasi publik dengan bahasa yang ringan. Program Sakapuan Talks menjadi wadah diskusi dan berbagi pengalaman, sehingga perempuan muda bisa tampil di ruang publik dan menyuarakan aspirasinya.
Selain itu, ada Peer Counseling, layanan konseling sebaya khusus bagi perempuan di bawah usia 25 tahun, yang memberi ruang aman dan suportif untuk berbagi cerita. Program unggulan lainnya, Sakapuan Club, berfokus pada pengembangan personal, profesional, kesehatan mental, serta keseimbangan antara tradisi dan modernitas.
Semua ini dirancang agar perempuan muda Bali tidak hanya bisa bertahan dalam tekanan, tapi juga berdaya penuh atas hidupnya.
Capaian Tiga Tahun
Walau baru berdiri sejak 2021, Sakapuan sudah melibatkan lebih dari 300 perempuan muda, didukung oleh 80 relawan, serta menjalin kerja sama dengan lebih dari 35 mitra. Melalui media sosial, lebih dari 4.000 pengikut aktif terhubung dengan kampanye dan kegiatan mereka.
Lebih dari sekadar angka, yang paling berharga adalah transformasi peserta. Banyak yang kini lebih percaya diri, berani menyampaikan pendapat di keluarga, hingga mantap melanjutkan pendidikan atau meniti karier. Kisah-kisah kecil ini adalah bukti nyata bahwa ruang aman benar-benar bisa mengubah cara perempuan memandang dirinya sendiri.
Saat ini, aktivitas Sakapuan banyak berpusat di Denpasar dan sekitarnya. Namun, mereka mulai memperluas jangkauan ke beberapa kabupaten lain di Bali. Harapannya, semakin banyak perempuan di desa-desa juga dapat merasakan ruang aman ini, mengingat tekanan adat dan stigma kerap lebih kuat di wilayah pedesaan.
Tentu saja, perjalanan Sakapuan tidak lepas dari tantangan. Keterbatasan dana dan akses membuat sebagian besar kegiatan hanya terpusat di wilayah perkotaan. Padahal, kebutuhan ruang aman justru lebih besar di desa-desa, di mana tekanan adat dan stigma sering kali lebih kuat.
Untuk itu, Sakapuan membuka peluang kolaborasi. Dukungan tidak hanya berupa dana, tetapi juga penyediaan tempat kegiatan, donasi logistik, maupun sekadar membantu menyebarkan informasi. Dengan kolaborasi yang luas, Sakapuan berharap jangkauan program bisa semakin meluas.
Menjembatani Tradisi dan Masa Depan
Sakapuan hadir bukan untuk menolak budaya, melainkan menjembatani tradisi dengan kebutuhan zaman. Visi ini sejalan dengan tujuan pembangunan berkelanjutan atau Sustainable Development Goals (SDG) ke lima tentang Kesetaraan Gender; menghapus diskriminasi, mengakui nilai kerja domestik perempuan, serta membuka jalan bagi kepemimpinan perempuan.
Perempuan Bali selama ini sering dilihat sebagai penopang budaya, tetapi jarang diberi ruang untuk menentukan jalan hidupnya. Sakapuan hadir untuk mengubah itu, menghadirkan empati, menumbuhkan keberanian, dan membangun kemandirian.
Dengan dukungan banyak pihak, Sakapuan bisa terus berkembang dan menjangkau lebih banyak perempuan muda. Sebab pemberdayaan perempuan bukan hanya urusan individu, melainkan langkah bersama untuk menciptakan masyarakat yang lebih adil dan setara.
Kontak Sakapuan: [email protected]
Instagram: @sakapuan
