Close Menu
JalaStoria.idJalaStoria.id
  • Home
  • Ragam
  • Perspektif
  • Storimini
  • Sosok
  • Telaah
    • Hukum
    • Riset
    • Buku
    • Film
  • Konsultasi
  • Mitra
  • Media
  • English Version
Facebook X (Twitter) Instagram YouTube LinkedIn TikTok
  • Tentang Kami
  • Makna Logo
  • Daftar Isi
  • Tim Kami
  • Kirim Tulisan
  • Kontak Kami
  • Arsip
Facebook X (Twitter) Instagram YouTube LinkedIn TikTok
JalaStoria.idJalaStoria.id
  • Home
  • Ragam
  • Perspektif
  • Storimini
  • Sosok
  • Telaah
    • Hukum
    • Riset
    • Buku
    • Film
  • Konsultasi
  • Mitra
  • Media
  • English Version
JalaStoria.idJalaStoria.id
Home»Telaah»Buku»Perlawanan Perempuan pada Takdir

Perlawanan Perempuan pada Takdir

Buku Redaksi Jalastoria12 Februari 2026

Oleh: Ni’ma

Judul buku : Perempuan yang Memesan Takdir

Penulis : W. Sanavero

Penerbit : Buku Mojok

Jumlah halaman : 100 halaman

Cetakan : Januari, 2022

Album prosa Perempuan yang Memesan Takdir menghadirkan delapan belas kisah kehidupan perempuan dengan luka yang disembunyikan di balik kesehariannya. Welda Sanavero memberikan definisi perempuan perkasa yang berbeda dari biasanya. Mereka adalah perempuan yang hidup dalam belitan standar sosial yang keras, tapi mampu menghadapinya dengan jalan yang mereka tentukan sendiri.

Buku ini tidak berhenti pada luka dan penderitaan. Sanavero tidak semata-mata menuliskan tokoh-tokohnya sebagai korban pasif. Para perempuan di sini memanglah terluka, tetapi mereka memilih cara untuk menghadapi luka itu mesti yang dilakukan tidak selalu berupa teriakan ataupun perlawanan. Kisah-kisah pendek ini mengingatkan bahwa meskipun luka perempuan bukanlah pilihan hidupnya, mereka tetap memiliki hak untuk merawat dirinya sendiri.

Pada kisah-kisah awalnya, buku ini mengantarkan isu mengenai bagaimana tubuh perempuan selalu menjadi objek penilaian. Dalam prosa Bunga Aster, Daisy sebagai tokoh utama digambarkan dengan perempuan yang kehilangan keperawanannya. Di desanya, pemuda lebih menyukai janda dan hal ini membuat Daisy dianggap tidak berharga. Meskipun begitu, Daisy memilih untuk memesan takdirnya sendiri dengan menata masa depannya. Dia menghidupkan dirinya kembali dengan menerima sepupunya, Lanang dan memutuskan menjadi ibu.

Tekanan yang sama juga terdapat dalam prosa Tisu Kering yang Basah, seorang perempuan merasa mati setelah kehilangan keperawanannya lima tahun yang lalu. Dia masih saja terus menyimpan tisur merah sebagai bukti luka yang tidak hilang.

Suatu saat ketika ada yang datang dan mengetuk pintu, aku bukakan lipatan tisu ini di depannya. Agar mereka tahu, kalau yang mereka inginkan tidak ada padaku lalu pergi tanpa harus masuk kamarku dan meninggalkan liur yang masih basah di bibir. (halaman 35)

Selain tubuhnya, sasaran penilaian dan tekanan sosial yang dialami perempuan adalah rahimnya. Monolog untuk Didengar menggambarkan seorang istri yang memutuskan pergi dari suaminya karena keluarga menuduhnya tidak mampu memberikan keturunan. Perempuan itu memilih berpisah agar cinta mereka tidak berubah menjadi luka. Baginya, kepergian adalah bentuk lain dari cinta untuk melindungi keduanya.

Demikian pula tokoh dalam Tanpa Ruang, seorang istri dikritik karena tidak sengaja bangun sedikit siang. Sang suami merendahkankannya dan menganggap bangun siang adalah aib bagi mertua. Suaminya lalu memintanya belajar masak nasi dengan takaran air yang cukup, belanja kebutuhan makan untuk seminggu, menyeduh kopi dengan rasa yang pas, bahkan memintanya belajar dari ibunnya. Tapi, sang istri menolak standar perempuan ideal yang dilekatkan padanya karena selama ini diapun sudah berusaha mengerjakannya.

“Kau melewatkan satu hal, Suamiku. Kau lupa aku sudah melakukan semua itu. Jika kau ingin hasil yang aku lakukan persis seperti yang dilakukan ibumu, maka tukarlah punggungku dengan punggung ibumu. Bahkan ketika kau menginginkan janin baru, tukarlah lubangku dengan lubang ibumu,” (halaman 77)

Trauma perempuan juga hadir dalam prosa Dialog kepada Tuhan. Seorang perempuan terus dihantui mimpi buruk yang berisi penolakan keluarga dan kenangan cinta yang berubah menjadi luka. Tetapi, dia memilih menghadapi ketakutannya dengan merawat dirinya sendiri pelan-pelan, seperti bermeditasi, berdoa, dan membaca ayat-ayat tujuh. Dia memang tidak bisa menghapus mimpi buruk itu, tapi dia bisa mengatur ulang caranya bernapas di antara kenangan yang menyakitinya.

Dalam banyak prosa, Sanavero memperlihatkan cara perempuan untuk bertahan dapat dilakukan dengan mengambil pilihannya sendiri. Kadang berupa keputusan untuk tetap hidup, kadang berupa keberanian untuk pergi, kadang berupa doa yang dipanjatkan diam-diam, atau kadang berupa kemampuan menerima diri meski dunia memandangnya dengan hina. Perempuan-perempuan ini tetaplah menang, menang melawan keputusasaan dalam dirinya sendiri.

Perlahan, aku menyadari, sejatinya dunia sudah cukup keras tanpa perlu hantaman-hantaman penuh kemarahan, teriakan-teriakan kasar, lalu tangis yang membuat hati luluh dan persetubuhan yang membuat keesokan hari seolah dibuka dengan selembar halaman kosong. (halaman 27–28)

Ketika ruang-ruang perempuan diintervensi, lalu terus dimaki, aku ingin tahu hormat semacam apa yang dilakukan seorang istri untuk suami. (halaman 77)

Membaca kisah-kisah ini membuat saya sadar, luka perempuan ternyata masih banyak berasal dari faktor luar dirinya. Suara-suara di sekitar perempuan terus mengikut untuk menentukan bagaimana tubuh dan hidupnya harus dijalani. Untuk saya, buku ini juga mengingatkan bahwa perempuan tidak pernah memilih lukanya sendiri, stigma dan pandangan masyarakatlah yang memberikan beban besar itu. Namun, buku ini menunjukkan bahwa perempuan selalu memiliki cara untuk menjaga dirinya sendiri, sekecil apa pun langkah itu.

Perempuan yang Memesan Takdir menjadi pengingat bahwa luka perempuan merupakan luka sosial, sekaligus kemampuan untuk bertahan yang selalu lahir dari dalam diri mereka sendiri. Sanavero menghadirkan tokoh-tokoh yang tidak sempurna, tidak selalu kuat, tetapi tetap berusaha hidup pada ruang-ruang sempit yang tersisa. Buku ini layak dibaca, untuk memahami bagaimana perempuan terluka, dan bagaimana mereka bangkit. Mungkin pelan-pelan, mungkin dalam diam, yang pasti adalah dengan cara yang hanya mereka sendiri yang mengerti.

 

Penulis adalah mahasiswi Sastra Indonesia yang belajar memahami sisi lain perempuan lewat kritik sastra feminis.

Share. WhatsApp Facebook Twitter LinkedIn Tumblr Email Telegram

Related Posts

Ketika Pengguna Jilbab Kini Menjadi Mayoritas

28 April 2026

Kesadaran Mengenal Identitas Diri Sebagai Perempuan

12 Februari 2026

Sepatu Lusuh Saksi Bisu Idealisme Guru

12 Januari 2026

Comments are closed.

Relasi Gender di Suku Tuareg: Perempuan Tidak Bercadar, Laki-Laki yang Harus Melakukannya

9 Mei 2026

Mengecam Keras Pelaku Kekerasan yang Berlindung di Balik Otoritas Pendidikan dan Keagamaan

9 Mei 2026

Kala Split Bill Sentil Maskulinitas Pria

7 Mei 2026

Menjaga Perempuan atau Mendidik Laki-laki?

4 Mei 2026
banner jalastoria
Facebook X (Twitter) Instagram YouTube LinkedIn TikTok
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Makna Logo
  • Kirim Tulisan
© 2026 | All rights reserved

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.