Oleh: Aisha Rahmadanny
Sejak aku remaja, tak pernah terbesit di pikiranku untuk menikah. Menurutku, pernikahan merusak segalanya tentang perempuan. Secara fisik dan secara batin. Saat aku berkunjung ke rumah saudara, aku selalu dibuat terkejut dengan perubahan saudaraku yang mayoritas ibu-ibu muda yang belum lama menikah. Terakhir kali bertemu, aku ingat pipinya berseri, gincunya berkilau, serta dirinya yang dibalut pakaian berwarna merah muda. Namun, yang ada di hadapanku sekarang adalah ibu-ibu berdaster dengan wajah yang terlihat lelah serta helai rambut yang mencuat kemana-mana.
Aku ingat beberapa dari mereka ada yang berprofesi sebagai perawat, guru, atau SPG kecantikan. Setelah bertemu kembali, mereka sudah berhenti dari pekerjaan tersebut. Beberapa menyebutkan setelah menikah dan punya anak mereka belum dapat bekerja karena masih kerepotan mengurus anak. Ada juga yang berhenti karena dilarang suaminya bekerja. Dari percakapan yang aku dengar, beberapa dari mereka juga ingin kembali bekerja tetapi tertahan karena alasan-alasan tersebut.
Dari situasi itu, timbul pertanyaan dalam benakku. Apakah menikah menanggalkan kebahagiaan perempuan? Bagaimana bisa seseorang yang dulu memoles wajahnya kembali setiap 60 menit, sekarang menyentuh pelembab wajah pun tak sempat? Bukan, aku bukan bicara soal cantiknya. Kecantikan tak pernah luntur dari wajah mereka. Namun, rasanya sumber kebahagiaan mereka seperti direnggut begitu saja setelah menikah. Sumber kebahagiaan yang sekecil memoles wajah, merawat badan, dan pergi bekerja. Kehidupan mereka kini penuh dengan merawat kehidupan lain yang terikat dengannya, yang bila mana mereka melepas pandangan sedikit, cibiran akan datang mengenainya.
Jika anak menjadi nakal, itu karena ibunya tak pandai mendidiknya. Jika suami jarang di rumah, itu karena istrinya tak pandai merawatnya. Perempuan di rumah dianggap lemah dan tidak berdaya, namun jika perempuan bekerja dianggap abai terhadap tanggung jawab rumah. Perempuan dilihat sebagai objek dengan begitu banyak celah yang dapat dikendalikan kapanpun itu. Ironinya, cibiran tersebut kerap datang dari orang-orang terdekat yang seharusnya merangkul mereka. Tak jarang di antara mereka adalah perempuan. Seakan bermain estafet stik, mereka memindahkan beban tersebut kepada perempuan lainnya.
Kehidupan perempuan menjadi semakin terikat dengan kehidupan orang-orang di sekitarnya. Tindak laku dan keputusan perempuan tidak hanya didasarkan pada dirinya sendiri, tetapi juga harus berdasarkan orang tuanya, suaminya, dan anaknya. Tanggung jawab telah berubah menjadi dikte sosial yang menanggalkan kebahagiaan. Seakan hidupnya bukan miliknya, namun kehidupan lainnya wajib ia rawat. Inilah yang menyebabkan kebahagiaan kecil perempuan sekadar memoles wajah, merawat badan dan pergi bekerja sulit mereka lakukan. Sangkar yang mengungkungnya dirakit oleh kehidupan lain yang ia rawat sendiri.
Dunia sosial kita pun telah banyak menggagalkan hak-hak perempuan, baik secara sadar maupun tidak sadar. Aturan tidak terlulis seperti batas usia maksimal perempuan dewasa harus menikah, ataupun perempuan yang tidak dianjurkan menjadi pemimpin masih sering kita jumpai saat ini. Seakan mutlak, aturan tersebut telah dikenalkan sejak perempuan masih umur belasan. Aku pertama kali mendengar hal-hal semacam ini sebelum menginjak 18 tahun lewat cerita orang-orang di sekitarku. Sebagai seorang observant, aku menjadi pemerhati yang diam-diam mengutuk tindakan mengerdilkan perempuan semacam itu. Sayangnya, aturan ini telah hidup mengakar kuat di dunia sosial kita. Setelah menginjak kepala dua, aku pun beberapa kali menemui kejadian semacam itu. Kebijakan saja tidak cukup mengentaskan ini, perlu adanya pemahaman bahwa perilaku tersebut menodai hak-hak perempuan.
Perempuan kerap memaknai dirinya sesuai dengan identitas yang dibentuk melalui relasi. Hal ini menjadikan sulit bagi perempuan untuk meninggalkan kehidupan yang menyertai mereka dan kembali merawat kehidupannya sendiri. Sejak kecil, perempuan selalu disuguhi peran-peran yang harus mereka lakukan. Saat kecil harus menjadi putri yang baik untuk orang tuanya, setelah dewasa harus menjadi istri yang baik untuk suaminya, dan harus menjadi ibu yang baik untuk anaknya. Perempuan diajarkan menjadi penjaga kehidupan orang lain, sehingga ketika ia mencoba memprioritaskan dirinya sendiri, maka akan timbul pertanyaan, “apakah aku mengkhianati peran putri, istri dan ibu yang diberikan kepadaku?”.
Kenyataannya, di luar peran-peran yang dijalankan, perempuan memiliki hidupnya sendiri, memiliki ruangnya sendiri. Membebaskan diri bukan berarti meninggalkan orang-orang terkasih, tetapi itu merupakan bentuk menolak hidup hanya sebagai penjaga kehidupan orang lain. Sebagai seorang perempuan yang hidupnya dirawat oleh perempuan juga, aku berharap perempuan dapat bebas berbahagia apapun peran yang sedang ia jalankan. Berikan ruang bagi perempuan untuk dapat mengenali dan mengeksplorasi identitasnya sebagai dirinya sendiri. Sebab, perempuan berhak untuk menyalakan api kehidupannya sebelum menyalakan api kehidupan orang-orang di sekitarnya.

