Oleh : Nadia Nahdatur Ramadhani
Judul Buku : Esok Jilbab Kita Dirayakan
Penulis : Kalis Mardiasih
Penerbit : Buku Mojok
Tahun Terbit : 2025
Halaman : vi + 180 halaman
Apa yang terlintas dalam bayangan kalian jika mendengar buku dengan judul “Esok Jilbab Kita Dirayakan”? Jika kalian membayangkan buku ini penuh dengan kumpulan ayat dan hadis terkait dengan perintah berjilbab maka kalian keliru. Meskipun terdapat kutipan ayat dan hadis, tulisan ini penuh dengan realitas sosial jilbab. Buku ini ditulis dengan gaya khas Kalis yang kritis dan gamblang dalam menjabarkan sebuah fenomena. Kalis sendiri adalah seorang penulis sekaligus aktivis yang menyuarakan kesetaraan gender.
Bagian pertama dalam buku ini dibuka dengan refleksi pengalaman pribadi Kalis yang menerima kritikan tentang model jilbabnya saat ia pulang kampung. “Piye to jilbabban kok modele ngene iki? Ora niat jilbaban.” (Jilbab model apa sih ini? Kayak orang nggak niat berjilbab) (Halaman 1). Dari sinilah Kalis menilik ulang pengalaman berjilbabnya mulai dari saat ia menjadi minoritas orang yang berjilbab hingga sekarang orang berjilbab menjadi mayoritas di Indonesia. Bagian ini mengajarkan pembaca tentang pentingnya menghormati pakaian orang lain karena sekarang orang yang menggunakan jilbab menjadi mayoritas.
Sorotan Kalis terhadap jilbab tak lepas dari realitas sosial yang ada di sekitarnya, termasuk kondisi sosial dan ekonomi yang mempengaruhi jilbab seseorang dengan cerita sederhana. Kalis menggambarkannya dengan pengasuh anaknya yang memiliki gaya berpakaian yang khas dengan celana loreng, kaos panjang ketat dan tentu saja hijabnya yang pasti akan dilabeli oleh netizen sebagai “jilboobs”. Gaya jilbab pengasuh anaknya ini tentu tidak lepas dari ketersediaan pakaian yang tersaji di pasar terdekat. Kalis juga mengamati pemanfaatan jilbab dalam komoditas ekonomi melalui film-film dan iklan produk kecantikan wanita yang identik dengan muslimah. Pengamatannya juga merambah pada perkembangan jilbab dari tahun ke tahun mulai tahun 1970an di mana jilbab yang digunakan adalah selembar kain yang menutupi kepala dan disampirkan ke pundak hingga perizinan penggunaan jilbab kembali di sekolah pada tahun 1991 (Halaman 30).
Bagian-bagian selanjutnya Kalis mulai menyoroti tentang isu-isu jilbab di Indonesia, seperti kerentanan dalam berjilbab. Dia menceritakan dan menganalisis kisah Nia Kurniasari, seorang perempuan muda yang menjadi korban pelecehan dan pembunuhan pada saat menggunakan jilbab. Tidak hanya bercerita Kalis juga menuliskan keresahannya tentang jilbab Nia yang malah menjadi saksi atas perilaku keji yang dialaminya. Dari bagian ini kita diingatkan jikalau pelecehan seksual tidak memandang apa yang dikenakan korbannya.
Selain isu kerentanan, Kalis juga menuliskan isu konten jilbab seksi yang menuai kontroversi. Pada tulisan ini Kalis tidak muluk-muluk, dia mengambil realitas kasus dari fenomena di dunia maya yang hangat diperbincangkan saat itu, yakni konten Oklin Fia dan Wiki Etika yang dinilai memamerkan tubuh. Kalis menyoroti hal lain yang tidak tersorot, yakni objektifikasi perempuan berjilbab. Komentar-komentar pengguna dunia maya yang cenderung memojokkan sebuah hal yang memang bersifat kodrat seperti memiliki payudara yang menonjol. Bukannya memberi solusi mereka justru sibuk menghina sana-sini. Kalis tidak melarang kritik atas konten mereka, yang dia soroti adalah objektifikasi, karena objektifikasi adalah hal yang berbahaya. Kalis menuliskan bahwa objetifikasi mengarah pada anggapan bahwa perempuan adalah benda yang tidak punya perasaan dan pikiran.
Tidak hanya tentang ironi, Kalis juga menuliskan tentang perempuan-perempuan yang bisa berdaya dengan hijabnya. Ia mengambil contoh tiga perempuan keren dari Jawa Timur yakni Khofifah Indar Parawansa, Tri Rismaharini dan Luluk Nur Hamidah. Mereka bertiga adalah contoh bagaimana perempuan berjilbab bisa berdaya dan berkarya. Kisah lain juga datang dari seorang wanita bercadar, Ainun Jamilah yang tangguh dengan prinsip toleransi dan kesetaraan gendernya. Ainun, wanita bercadar yang tidak ragu untuk menolong sesama manusia dan berusaha membangkitkan citra bahwa cadar bukan bentuk keekseklusifan diri.
Buku ini adalah buku yang ringan untuk dibaca, berisi kumpulan pandangan Kalis tentang realitas wanita berjilbab di sekelilingnya. Meskipun ringan, namun bukan berarti tidak sarat pembelajaran. Buku ini mengajak kita untuk membangun perspektif penuh empati terhadap perempuan, utamanya kita akan sadar bahwa perempuan berjilbab memiliki kerentanan-kerentanan. Dari buku ini kita akan belajar bahwa jilbab tidak hanya dipengaruhi oleh agama, ekonomi dan tren juga erat pengaruhnya dengan jilbab. Inspirasi perempuan yang merdeka dengan jilbabnya juga kita bisa serap lewat bagian bab Jilbab Tiga Srikandi Jawa Timur dan bab Jilbab Cadar Ainun Jamilah.
Namun sayangnya bagian-bagian dari buku ini bukan merupakan sebuah kerangka yang berkesinambungan karena memang isinya mencakup realitas-realitas yang ada tentang jilbab di Indonesia. Bagian-bagiannya merupakan sebuah esai-esai Kalis yang memiliki topik jilbab. Ada bagian yang menjadi pengantar, namun sebenarnya menarik jika dibahas seperti pada halaman 41 yang menceritakan tentang pencukuran rambut siswa karena tidak menggunakan ciput.
Kendati demikian buku ini adalah buku yang layak dan patut dibaca, bagi wanita buku ini akan mengajarkan kita tentang bagaimana berempati dan tidak merasa paling benar dengan jilbab yang kita kenakan. Bagi laki-laki pun buku ini adalah rekomendasi yang apik untuk membuka wawasan agar tidak terlalu merendahkan perempuan dengan penggunaan jilbab yang menurut kalian kurang pas, karena dibalik itu semua kita tidak pernah tahu bagaimana usaha perempuan berdamai dengan segala bentuk tubuh yang dianugerahkan padanya.

