Close Menu
JalaStoria.idJalaStoria.id
  • Home
  • Ragam
  • Perspektif
  • Storimini
  • Sosok
  • Telaah
    • Hukum
    • Riset
    • Buku
    • Film
  • Konsultasi
  • Mitra
  • Media
  • English Version
Facebook X (Twitter) Instagram YouTube LinkedIn TikTok
  • Tentang Kami
  • Makna Logo
  • Daftar Isi
  • Tim Kami
  • Kirim Tulisan
  • Kontak Kami
  • Arsip
Facebook X (Twitter) Instagram YouTube LinkedIn TikTok
JalaStoria.idJalaStoria.id
  • Home
  • Ragam
  • Perspektif
  • Storimini
  • Sosok
  • Telaah
    • Hukum
    • Riset
    • Buku
    • Film
  • Konsultasi
  • Mitra
  • Media
  • English Version
JalaStoria.idJalaStoria.id
Home»Storimini»Maskulinitas Jalan Raya dalam Perspektif Pengendara Motor Perempuan

Maskulinitas Jalan Raya dalam Perspektif Pengendara Motor Perempuan

Storimini Redaksi Jalastoria3 April 2026

Oleh: Indira Isvandiary

Pengendara perempuan khususnya motor kerap mendapat perlakuan diskriminasi di jalan raya. Hal itu bukan tanpa alasan. Salah satu penyebab fenomenal yang sering terjadi adalah kebiasaan mengaktifkan lampu sen kiri ketika motor hendak berbelok ke kanan—pun sebaliknya. Kecerobohan tersebut membuat pengendara perempuan dipandang sebelah mata oleh pengendara laki-laki. Mereka memukul rata semua pengendara perempuan sebagai makhluk yang harus dihindari karena gemar membuat oleng sekaligus membahayakan baik untuk dirinya sendiri maupun orang lain.

Nyatanya tidak semua pengendara motor perempuan demikian. Ada juga yang bahkan lebih mahir daripada laki-laki karena pada akhirnya semua kembali pada pengalaman atau jam terbang masing-masing. Sayangnya, stigma negatif yang terlanjur beredar membuat pengendara perempuan tidak bisa serta merta membela diri—sekalipun dalam posisi benar. Alhasil, perempuan tidak mendapatkan haknya sebagai sesama pengemudi maupun pengguna jalan raya, sebagaimana pengalaman saya di pertengahan tahun 2021.

Saya sedang mengendarai motor di daerah Kalimalang, Jakarta Timur menuju Bekasi. Kalimalang memiliki fitur jalan lebar memanjang karena menyatukan dua kota. Siang itu situasi cukup lengang. Kecepatan mengemudi saya juga terbilang konsisten bahkan senada dengan kendaraan lain. Namun, saya terkejut ketika mobil pribadi di belakang saya tiba-tiba membunyikan klakson. Padahal, jarak antara kami cukup aman dan muat jika memang mobil itu ingin mendahului. Saya pun refleks bergeser sedikit ke kiri bersamaan mobil tersebut melaju dengan gagahnya. Yang menjadi pertanyaan: apakah yang bersangkutan akan melakukan hal serupa jika saya adalah laki-laki?

Klakson pada motor ataupun mobil sejatinya dibunyikan untuk memberi sinyal kepada pengendara lain agar waspada atau berhati-hati. Bisa dikatakan, klakson adalah bahasa komunikasi antar kendaraan di jalan umum tanpa perlu pengemudinya ikut bersuara. Pernah lihat dua mobil saling menyapa dengan berbalas klakson? Namun, lain halnya jika klakson digunakan untuk memperlihatkan eksistensi, arogansi, dan kekuasaan diri atas pengendara lain.

Di kesempatan lain menuju persimpangan lampu merah, saya memperlambat laju kecepatan motor hingga akhirnya benar-benar berhenti. Hanya berselang sepersekian detik, tiba-tiba sebuah motor menghantam cukup keras bagian belakang motor saya. Kemungkinan besar karena dia ingin mengejar kesempatan agar tidak tercegat lampu merah, tetapi tidak keburu. Beruntung, tangan saya masih menekan rem sehingga saya hanya terdorong sedikit. Saya menoleh, mendapati seorang pria paruh baya buru-buru menggeser motornya menjauh dari belakang saya, berpindah ke tempat lain tanpa ada kata maaf sedikitpun.

Lampu pun berubah hijau. Saya kembali melaju dengan hati yang tentu saja masih bergemuruh. Hingga tiba-tiba, seorang pemuda pejalan kaki berseru kepada saya, “Mbak, platnya!”

Saya yang kaget sekaligus bingung, memutuskan untuk melipir ke tepi jalan untuk memastikan. Betapa terkejutnya saya mendapati sebagian baut plat sudah terlepas. Pelindungnya juga retak, sehingga terlihat miring dan ngampleh-ngampleh. Pantas saja, motor yang menghantam saya tadi langsung menghindar. Apa yang saya alami tersebut semakin memperjelas bahwa jalan raya bukanlah ruang yang ramah bagi pengendara motor perempuan karena selain selalu dianggap salah, perempuan juga kerap dianggap lemah sehingga mudah diakal-akali.

Sejak kecil, perempuan tidak langsung diperkenalkan dengan mainan otomatif seperti mobil-mobilan atau mainan transportasi lainnya. Sehingga saat dewasa, memang perlu beradaptasi lebih keras dibanding laki-laki. Pola pengasuhan yang cenderung memberikan akses kepada anak laki-laki menjadi salah satu sebab mengapa laki-laki lebih adaptif dan lebih ahli, karena ketimpangan akses.

Lantas, bagaimana agar di kemudian hari pengendara motor perempuan bisa lebih dihargai keberadaannya di jalan raya dan mendapat hak yang sama?

Pertama adalah awareness atau peka terhadap kondisi sekitar seperti memperhatikan arus kendaraan. Pastikan untuk tidak hanya fokus ke depan saja. Dengan begitu, kita bisa lebih tenang dan siap jika ada kendaraan lain yang tiba-tiba menyalip atau mendahului.

Kedua, gunakan spion & tengok seperlunya. Kaca spion bukan sekadar aksesoris kendaraan apalagi untuk bercermin wajah. Spion digunakan untuk mengawasi kendaraan lain yang ada di belakang kita khususnya ketika kita hendak berpindah jalur atau belok. Itu membuat kita lebih antisipatif, sehingga pengendara lain juga bisa membaca gerakan kita.

Berkaitan dengan poin kedua, yang

ketiga adalah memberikan tanda atau signal yang jelas ketika berpindah jalur atau berbelok sembari sesekali melihat kaca spion. Nyalakan lampu sen dengan tepat waktu (sekitar 3-5 detik sebelum belok). Pastikan sennya sesuai arah, sehingga fenomena sen kiri tetapi beloknya ke kanan atau sebaliknya, tidak terulang kembali.

Keempat adalah menjaga kecepatan kendaraan tetap stabil. Maksudnya, tidak melakukan rem mendadak atau menarik gas tanpa alasan jelas. Konsistensi membuat kita terlihat lebih ‘pasti’ di mata pengendara lain.

Kelima, posisi berkendara yang aman. Gunakan lajur lambat di sebelah kiri jika kita sedang tidak terburu-buru. Sebaliknya, gunakan lajur cepat di sebelah kanan jika kita ingin mendahului pengendara lain. Hindari menyalip dari sebelah kiri!

Keenam adalah percaya diri, tetapi tidak agresif. Jangan ragu untuk mengambil jalan sesuai hak kita. Kita sama-sama pengguna jalan, sehingga tidak perlu minder. Namun, juga tetap hindari emosi berlebihan yang bisa memicu konflik dengan pengendara lain. Apabila konflik terlanjur terjadi, jangan takut untuk membela diri atau mempertahankan argumen. Terlebih lagi jika kita memang tidak bersalah.

Ketujuh, melengkapi diri dengan perlindungan selama mengendarai motor seperti memakai helm berstandar nasional (SNI), jaket, dan sepatu tertutup. Selain demi keselamatan, ini juga menunjukkan keseriusan kita sebagai pengendara. Sekalipun jarak tujuannya dekat, usahakan minimal tetap memakai helm.

Sementara untuk pengendara lain adalah dengan menghilangkan stigma negatif terhadap perempuan di jalan raya. Siapapun bisa ahli selama ia latihan dan belajar mempelajari. Baik itu perempuan ataupun laki-laki sama-sama memiliki hak berkendara aman, dan setara serta bebas dari beragam stigma.

Selain tujuh poin di atas, ada hal lain yang juga perlu diperhatikan. Sesuatu yang sering pengendara motor perempuan abaikan karena sebagian besar dari kita hanya berpikir bahwa: bensin penuh sama dengan aman. Pengendara yang baik adalah yang rutin melakukan pengecekan dan pemeliharaan kendaraan ke bengkel. Kendaraan yang terawat akan memberikan keamanan dan kenyamanan bagi kita selama berkendara di jalan raya.

Kesimpulannya, kita perlu melakukan beberapa upaya yang bermanfaat bagi diri kita sendiri terlebih dahulu; menjadi pengendara motor perempuan yang siap secara ilmu dan mental. Alhasil, dampak baiknya pun akan turut dirasakan oleh pengendara lain. Sehingga, tak ada lagi jalan raya sebagai ruang maskulin, melainkan ruang bersama bagi seluruh pengguna dan pengendara.

 

Penulis kelahiran 1995 yang telah berkecimpung di dunia penulisan sejak remaja. Karya-karyanya telah terbit secara cetak maupun platform online. Kunjungi dia di Instagram: @indiraisva

Share. WhatsApp Facebook Twitter LinkedIn Tumblr Email Telegram

Related Posts

Perlunya Dukungan Keluarga terhadap Perempuan Tulang Punggung Keluarga

3 April 2026

Pernikahan Merenggut Identitas Perempuan

3 Maret 2026

Sore yang Menghapus Aman

10 Februari 2026

Comments are closed.

Relasi Gender di Suku Tuareg: Perempuan Tidak Bercadar, Laki-Laki yang Harus Melakukannya

9 Mei 2026

Mengecam Keras Pelaku Kekerasan yang Berlindung di Balik Otoritas Pendidikan dan Keagamaan

9 Mei 2026

Kala Split Bill Sentil Maskulinitas Pria

7 Mei 2026

Menjaga Perempuan atau Mendidik Laki-laki?

4 Mei 2026
banner jalastoria
Facebook X (Twitter) Instagram YouTube LinkedIn TikTok
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Makna Logo
  • Kirim Tulisan
© 2026 | All rights reserved

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.