Close Menu
JalaStoria.idJalaStoria.id
  • Home
  • Ragam
  • Perspektif
  • Storimini
  • Sosok
  • Telaah
    • Hukum
    • Riset
    • Buku
    • Film
  • Konsultasi
  • Mitra
  • Media
  • English Version
Facebook X (Twitter) Instagram YouTube LinkedIn TikTok
  • Tentang Kami
  • Makna Logo
  • Daftar Isi
  • Tim Kami
  • Kirim Tulisan
  • Kontak Kami
  • Arsip
Facebook X (Twitter) Instagram YouTube LinkedIn TikTok
JalaStoria.idJalaStoria.id
  • Home
  • Ragam
  • Perspektif
  • Storimini
  • Sosok
  • Telaah
    • Hukum
    • Riset
    • Buku
    • Film
  • Konsultasi
  • Mitra
  • Media
  • English Version
JalaStoria.idJalaStoria.id
Home»Perspektif»Parenting Ala Milenial dan Gen Z yang Melunturkan Patriarki

Parenting Ala Milenial dan Gen Z yang Melunturkan Patriarki

Perspektif Redaksi Jalastoria15 Juni 2026

Oleh: Laurensia Junita Della

Setiap anak tumbuh dengan menyerap apa yang ada di sekitarnya. Anak belajar dengan cara merekam dan meniru perilaku orang tua, atau orang terdekat mereka. Entah itu cara mereka berbicara, beraktivitas, bersikap, hingga mengambil keputusan. Mereka cenderung tumbuh dengan menirukan contoh. Akan tetapi, keluarga yang menjadi fondasi utama dalam pendidikan anak tidak pernah netral. Karena tanpa kita sadari, orang dewasa juga melekat dengan nilai-nilai tertentu.

Cara mereka dalam membimbing anak sering kali dipengaruhi oleh nilai-nilai yang dulu mereka terima saat masih kecil. Apa yang dianggap “benar” atau “wajar” oleh orang tua, sebenarnya adalah hasil dari proses panjang yang mereka alami sendiri. Nilai-nilai itu kemudian diteruskan kembali pada anak-anak mereka. Sering kali pewarisan nilai dilakukan tanpa pernah dipertanyakan, seolah memang sudah seharusnya begitu, termasuk mengenai gender.

Bagaimana Patriarki Dilestarikan

Dalam pendidikan keluarga, sering kali perempuan mendengar kalimat-kalimat yang terkesan mengikat sesama perempuan. Kalimat-kalimat ini terdengar gamblang, namun jarang untuk disadari, karena selalu dibungkus kewajaran dan tradisi luhur.

Misalnya saja:

“Dapur itu memang tempatnya perempuan.”

“Perempuan itu lemah lembut.”

“Istri tugasnya memang di rumah, melayani suami dan anak-anak.”

“Suami itu nggak boleh dilawan.”

“Wajar kalau laki-laki nggak bisa masak.”

Sering kali, kalimat-kalimat seperti ini beredar dalam hubungan antarperempuan yang umumnya lebih dekat. Misalnya, antara ibu dan anak perempuan, dengan saudara ipar, atau antara menantu dengan ibu mertua. Kedekatan ini membuat nilai-nilai tersebut lebih mudah terserap, lalu diwariskan kembali tanpa banyak dipertanyakan.

Tentu saja, ini bukan hanya membatasi, tetapi juga menekan. Tekanan itu dapat dirasakan dan diamati, baik secara emosional maupun sosial. Lebih buruknya, beban terbesar yang harus diterima dari pelestarian nilai-nilai tersebut justru lebih banyak ditanggung oleh perempuan itu sendiri.

Menyadari Konsep Patriarki

Selama ini, banyak perempuan hidup dengan ketimpangan yang jarang mereka disadari. Alasannya, bukan karena mereka tidak merasakan dampaknya. Akan tetapi, hal itu terjadi karena tidak ada cukup ruang bagi mereka untuk mempertanyakannya dengan sudut pandang lain.

Tetapi, dunia yang heterogen semakin banyak mempertemukan berbagai individu dengan sudut pandang baru. Sehingga, lambat laun, apa yang dulu terasa mutlak di dalam keluarga, perlahan bisa mulai dipertanyakan. Banyak perempuan yang semakin mengerti dan terdorong untuk merefleksikan pengetahuan yang ada pada pengalaman hidup mereka.

Generasi Pemutus Rantai Patriarki

Disadarinya konsep patriarki melahirkan ruang yang lebih terbuka bagi para perempuan untuk menentukan pilihan mereka sendiri. Mereka bisa lebih selektif untuk memilih pasangan dan lebih aktif untuk menghindari prinsip-prinsip patriarki. Di saat yang sama, laki-laki pun mulai menunjukkan keterbukaan dan kesadaran akan ketimpangan gender dalam sistem patriarki.

Seiring proses, pertumbuhan kesadaran akan kesetaraan melahirkan peran baru bagi orang dewasa yang mulai menjadi orang tua. Para orang tua baru yang didominasi oleh generasi Z dan milenial didorong untuk lebih reflektif dan netral dalam pengasuhan anak. Mereka tidak lagi sekadar meneruskan nilai yang diwariskan. Mereka mulai memilih antara yang perlu dipertahankan dan yang perlu diubah.

Tanggung jawab pengasuhan dan pendidikan anak pun tidak lagi dibebankan sepenuhnya pada perempuan. Laki-laki juga didorong untuk lebih hadir dan menunjukkan peran ayah. Pembagian peran gender antara laki-laki dan perempuan dalam hal pengasuhan dan pendidikan anak tidak serta merta dihilangkan, tetapi dijalankan beriringan dengan cara yang dianggap lebih sehat.

Pendidikan dalam keluarga mulai diarahkan untuk membangun hubungan dan pembagian peran yang lebih setara. Baik anak laki-laki atau perempuan memiliki ruang yang sama untuk berkembang dan berekspresi. Mereka tak perlu lagi terbebani oleh peran atau ekspektasi gender yang kaku. Anak-anak mulai tumbuh dalam lingkungan yang perlahan menanamkan nilai kesetaraan.

Ketika tiba saatnya bermain, anak laki-laki yang membayangkan dirinya sebagai seorang juru masak dapat bermain masak-masakan. Sementara itu, anak perempuan yang membayangkan petualangan liar di jalan raya dapat leluasa bermain mobil-mobilan. Keduanya memiliki kebebasan yang sama untuk bermain dengan boneka atau berpura-pura membuka toko kue.

Para orang tua mulai mendorong anak-anak perempuan untuk melakukan lebih banyak hal di luar ruang domestik. Mereka berpetualang, melakukan seni bela diri, hingga mengikuti turnamen olahraga. Tak ada lagi tuntutan untuk selalu berada di dalam rumah.

Di sisi lain, anak laki-laki juga didorong untuk lebih banyak mengeksplorasi dan mengerjakan pekerjaan domestik. Anak laki-laki mulai belajar untuk memasak, membersihkan rumah, dan mencuci piring, seperti yang seharusnya dilakukan oleh semua orang untuk memenuhi kebutuhan dasar mereka. Dengan begitu, tidak ada lagi ketergantungan berbasis gender.

Proses untuk melunturkan warisan patriarki semacam ini tidak perlu hadir secara muluk-muluk. Cukup dengan praktik kecil dalam kehidupan sehari-hari, yang mulai bergeser dan dilakukan secara sadar. Semuanya, bermula dari rumah, bersama keluarga tempat anak tumbuh.

 

Saat ini penulis sebagai mahasiswa aktif yang memiliki minat terhadap filsafat dan pengetahuan lokal Nusantara. Meski begitu, penulis tetap suka jalan-jalan dan nonton anime.

Share. WhatsApp Facebook Twitter LinkedIn Tumblr Email Telegram

Related Posts

Kala Split Bill Sentil Maskulinitas Pria

7 Mei 2026

Menjaga Perempuan atau Mendidik Laki-laki?

4 Mei 2026

Teror terhadap Perempuan Pembela HAM dan Erosi Kebebasan Berpendapat

28 April 2026

Comments are closed.

Parenting Ala Milenial dan Gen Z yang Melunturkan Patriarki

15 Juni 2026

Memperkuat Komnas Perempuan Melalui RUU HAM

15 Juni 2026

Relasi Gender di Suku Tuareg: Perempuan Tidak Bercadar, Laki-Laki yang Harus Melakukannya

9 Mei 2026

Mengecam Keras Pelaku Kekerasan yang Berlindung di Balik Otoritas Pendidikan dan Keagamaan

9 Mei 2026
banner jalastoria
Facebook X (Twitter) Instagram YouTube LinkedIn TikTok
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Makna Logo
  • Kirim Tulisan
© 2026 | All rights reserved

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.