Close Menu
JalaStoria.idJalaStoria.id
  • Home
  • Ragam
  • Perspektif
  • Storimini
  • Sosok
  • Telaah
    • Hukum
    • Riset
    • Buku
    • Film
  • Konsultasi
  • Mitra
  • Media
  • English Version
Facebook X (Twitter) Instagram YouTube LinkedIn TikTok
  • Tentang Kami
  • Makna Logo
  • Daftar Isi
  • Tim Kami
  • Kirim Tulisan
  • Kontak Kami
  • Arsip
Facebook X (Twitter) Instagram YouTube LinkedIn TikTok
JalaStoria.idJalaStoria.id
  • Home
  • Ragam
  • Perspektif
  • Storimini
  • Sosok
  • Telaah
    • Hukum
    • Riset
    • Buku
    • Film
  • Konsultasi
  • Mitra
  • Media
  • English Version
JalaStoria.idJalaStoria.id
Home»Storimini»Aku Tidak Mau Menikah

Aku Tidak Mau Menikah

Storimini Redaksi Jalastoria1 November 2025
pelecehan
Ilustrasi (Sumber: Free-vector/Freepik.com)

Oleh: Nazwa Davega

Ketika aku bilang pada ibu  bahwa aku tidak akan menikah, mereka menertawakanku. Aku ikut tersenyum kaku, tapi jauh di dalam hati, aku bertanya-tanya bagian mana dari pernyataanku yang terdengar lucu. Mereka mengira aku hanya bercanda, padahal aku benar-benar serius. Ucapanku lahir dari pengalaman yang membekas, pengalaman yang diwariskan oleh rumah tempatku tumbuh.

Kenangan masa kecil masih sering hadir, seakan tidak pernah benar-benar pergi. Tangisan ibu, suara pecahan piring, dan pertengkaran yang berulang begitu jelas terekam dalam ingatan. Sulit bagiku memahami makna keluarga yang seharusnya menjadi ruang aman, ketika justru di situlah aku melihat banyak luka.

Perkenalkan, namaku Mentari. Dulu, aku hanya ingin punya keluarga sederhana. Seperti menyambut pagi dengan aroma masakan ibu, ayah yang bersiap berangkat kerja, dan anak-anak yang merasa terlindungi. Namun kenyataannya berbeda. Sebagian besar pekerjaan rumah ditanggung ibu, sementara ayah lebih banyak menikmati waktunya sendiri.

Di keluargaku, laki-laki sering mendapat perlakuan istimewa. Mereka selalu didahulukan, sementara anak perempuan dididik untuk melayani. Aku juga melihat bagaimana perbedaan perlakuan antara anak laki-laki dan perempuan dalam hal perhatian dan pemberian. Lambat laun, aku menyadari ada ketidakadilan yang dianggap normal.

Suatu hari aku menemukan buku catatan ibu, yang tersimpan rapi namun sudah menguning. Isinya membuat dadaku sesak, ibu menuliskan perselingkuhan yang dilakukan ayah. Ditulis dengan tangan ibu yang indah meski penuh luka. Malam harinya, aku melihat ibu dan ayah bertengkar hebat hingga hari itu menjadi hari terburukku.

Sejak saat itu, aku semakin mempertanyakan, apa sebenarnya alasan pernikahan mereka?, Dimana cinta yang seharusnya jadi pondasi rumah tangga itu?, Apakah hanya sekadar kewajiban sosial, atau ada hal lain yang sengaja mereka sembunyikan?

Kadang aku merasa, hubungan mereka lebih mirip kontrak tanpa jiwa ketimbang ikatan yang penuh kasih. Senyum yang mereka tunjukkan di depan orang lain seolah hanyalah topeng, menutupi retakan yang makin lama makin lebar. Saat itu aku belajar bahwa tidak semua rumah tangga dibangun di atas cinta. Ada yang bertahan karena kebiasaan, ada pula karena rasa takut untuk sendiri. Tapi tetap saja, aku berharap ada secercah ketulusan di balik semua itu.

Pernah ada masa ketika aku merasa, mungkin lebih baik aku tidak hadir di dunia ini, asal ibu bisa bahagia. Pikiran itu datang dari rasa tidak berdaya, tapi sekaligus membuatku sadar bahwa aku tidak ingin mengulang pola yang sama.

 

Memulihkan Luka untuk Memaknai Keluarga

Waktu semakin berlalu Mentari kecil, kini aku genap berusia 25 tahun. Aku mengatakan bahwa menikah bukan prioritas dalam hidupku saat ini. Aku memilih untuk merawat diri lebih dulu, memaafkan masa lalu, menjalani terapi, dan perlahan-lahan mengelola trauma yang pernah membebani.

Pada akhirnya, aku belajar bahwa pulih itu bukan garis lurus. Ada hari ketika napasku terasa ringan, ada hari ketika suara pecahan piring kembali hidup di kepala. Tapi kini aku tahu, aku tidak sendirian, dan aku tidak salah. Yang salah adalah pola yang membiarkan kekerasan dibungkus tradisi, dan patriarki yang mengajarkan diam sebagai kebajikan.

Aku mulai memahami bahwa pernikahan yang dibangun di atas trauma yang belum pulih, selain meneruskan rantai kekerasan, dalam jangka panjang hal ini akan memperlebar diskriminasi terhadap perempuan. Hal ini kujadikan alasan kuat untuk tidak menikah, sebelum aku benar-benarpulih dan bisa memberi keluarga dengan makna yang sebenarnya pada anak-anakku kelak.

 

Kamu tidak Sendirian

Kalau kamu pernah melihat dirimu dalam kisahku, entah sebagai anak, teman, atau tetangga ketahuilah bahwa percaya pada dirimu adalah langkah pertama. Cari ruang aman bersama sahabat yang mendengar tanpa menghakimi, konselor, komunitas yang menerima. Meminta bantuan bukan tanda lemah, sebaliknya itu tanda kamu berani bertahan hidup.

Aku juga ingin kita, sebagai masyarakat, berhenti menertawakan luka yang tidak kita pahami. Dengarkan cerita anak-anak yang suaranya kerap dipatahkan. Tanyakan kabar ibu-ibu yang bertahan sendirian. Hentikan candaan yang menormalisasi kekerasan. Dukungan paling sederhana adalah percaya pada korban, menemani ke layanan bantuan, atau sekadar duduk bersama untuk memutus rantai yang selama ini terasa mustahil.

Aku tidak tahu apakah suatu hari pandanganku tentang pernikahan akan berubah. Yang aku tahu, aku berhak atas hidup yang tenang dan bermartabat. Jika ada yang bisa kupilih untuk generasi setelahku, aku ingin mereka tumbuh di rumah yang tidak perlu berisik untuk didengar, dan tidak perlu takut untuk dicintai.

Kalau kamu membaca ini dan merasa perlu bantuan, ambillah langkah kecil hari ini. Tulis pesan. Telepon seseorang. Buat janji profesional. Kita tidak harus melompat jauh untuk keluar dari gelap kadang cukup satu langkah, lalu satu lagi. Aku sudah melakukannya. Kamu juga bisa.

Penulis adalah mahasiswa Hubungan Internasional di Universitas Singaperbangsa Karawang. Ia memiliki ketertarikan mendalam pada isu Women, Peace, and Security (WPS) serta berbagai isu keamanan non-tradisional.

 

 

 

Share. WhatsApp Facebook Twitter LinkedIn Tumblr Email Telegram

Related Posts

Perlunya Dukungan Keluarga terhadap Perempuan Tulang Punggung Keluarga

3 April 2026

Maskulinitas Jalan Raya dalam Perspektif Pengendara Motor Perempuan

3 April 2026

Pernikahan Merenggut Identitas Perempuan

3 Maret 2026

Comments are closed.

Relasi Gender di Suku Tuareg: Perempuan Tidak Bercadar, Laki-Laki yang Harus Melakukannya

9 Mei 2026

Mengecam Keras Pelaku Kekerasan yang Berlindung di Balik Otoritas Pendidikan dan Keagamaan

9 Mei 2026

Kala Split Bill Sentil Maskulinitas Pria

7 Mei 2026

Menjaga Perempuan atau Mendidik Laki-laki?

4 Mei 2026
banner jalastoria
Facebook X (Twitter) Instagram YouTube LinkedIn TikTok
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Makna Logo
  • Kirim Tulisan
© 2026 | All rights reserved

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.