Oleh: Siti Nuraida
Dunia saat ini sedang mengalami euforia teknologi. Kita percaya bahwa kecerdasan buatan (AI) dan algoritma adalah solusi untuk subjektivitas manusia. Kita berasumsi bahwa mesin tidak memiliki perasaan, tidak punya prasangka, dan bekerja murni berdasarkan logika matematika. Namun, kenyataannya jauh dari itu. Teknologi yang kita ciptakan sebenarnya adalah cermin dari masyarakat kita sendiri—dan sayangnya, cermin itu sering kali menampilkan bayangan diskriminasi gender yang sudah lama kita coba hapuskan.
Hal ini tergambar dalam beberapa hal seperti berikut:
Diskualifikasi Perempuan karena Gender
Masalah utama dalam teknologi modern bukanlah pada mesinnya, melainkan pada “makanan” yang kita berikan padanya: yaitu data. Algoritma belajar dari data historis. Jika data selama puluhan tahun menunjukkan bahwa posisi manajer lebih banyak diisi oleh laki-laki, maka AI akan menyimpulkan bahwa “laki-laki lebih cocok menjadi manajer”.
Ini bukan sekadar teori. Beberapa tahun lalu, sebuah raksasa teknologi harus menghentikan penggunaan alat perekrutan AI mereka karena sistem tersebut secara otomatis mendiskualifikasi pelamar perempuan. Mengapa? Karena sistem itu dilatih menggunakan resume yang masuk selama sepuluh tahun, yang sebagian besar berasal dari laki-laki. Secara otomatis, sistem tersebut menganggap kata “perempuan” (seperti dalam “kapten tim basket perempuan”) sebagai sinyal negatif. Di sini kita melihat diskriminasi yang sangat efisien dan otomatis: pembersihan kandidat berbakat hanya karena identitas gender mereka.
Asisten Virtual dan Stereotip “Pelayan”
Pernahkah Anda bertanya-tanya mengapa asisten virtual seperti Siri, Alexa, atau Cortana hampir selalu menggunakan suara perempuan secara default? Ini adalah bentuk diskriminasi visual dan auditori yang sangat halus. Dengan memberikan identitas perempuan pada asisten digital yang bertugas untuk membantu, mengatur jadwal, dan menerima perintah, kita sebenarnya sedang memperkuat stereotip kuno bahwa peran perempuan adalah untuk melayani.
Lebih parah lagi, penelitian menunjukkan bahwa ketika asisten virtual ini diberikan pelecehan verbal secara seksual, respon awal mereka sering kali bersifat genit atau pasif. Ini memberikan pesan yang sangat berbahaya kepada pengguna, terutama generasi muda, bahwa perlakuan tidak hormat terhadap “entitas” perempuan adalah hal yang bisa diterima atau bahkan lucu.
Membangun Teknologi yang Manusiawi
Kita tidak bisa menyalahkan “mesin” selamanya. Mesin hanyalah alat. Tanggung jawab sepenuhnya ada pada kita—para pembuat kebijakan, pengembang teknologi, dan masyarakat sebagai konsumen. Untuk memutus rantai diskriminasi digital ini, kita membutuhkan langkah-langkah yang konkret.
Pertama, transparansi data. Perusahaan teknologi harus diaudit secara berkala untuk memastikan dataset yang mereka gunakan representatif dan inklusif. Kedua, keberagaman di ruang kendali. Selama industri teknologi masih didominasi oleh satu gender saja, bias-bias yang tidak disadari akan terus muncul dalam produk yang mereka ciptakan. Kita butuh lebih banyak perempuan di posisi pengambil keputusan teknis agar perspektif mereka menjadi bagian dari arsitektur masa depan kita.
Ketiga, kita butuh etika digital yang kuat. Kita harus mulai mempertanyakan: apakah kita ingin teknologi ini hanya mengulang kesalahan masa lalu, atau kita ingin menggunakannya untuk memperbaiki masa depan?
Diskriminasi gender dalam bidang teknologi adalah pengingat bahwa kemajuan teknis tidak selalu berarti kemajuan moral. Jika kita membiarkan algoritma bekerja tanpa pengawasan etika, kita sebenarnya sedang membangun penjara digital yang memperkuat tembok-tembok prasangka lama.
Masa depan digital haruslah menjadi ruang di mana setiap individu dihargai berdasarkan kapasitas dan keunikannya, bukan dikotakkan oleh bias yang ada dalam kode. Kita harus menuntut teknologi yang tidak hanya cerdas secara komputasi, tetapi juga cerdas secara emosional dan adil secara sosial. Karena pada akhirnya, teknologi terbaik bukanlah yang paling cepat, melainkan yang paling mampu memanusiakan semua manusia, tanpa kecuali.
Penulis adalah seorang Freelancer dan sangat peduli dengan kesenjangan sosial perempuan

