Oleh: Elisa Fitri
Dua kasus mengenai perselingkuhan yang sangat menarik perhatian banyak pihak untuk ikut bertindak maupun menelaah. Kasus-kasus ini ramai diperbincangkan melalui pemberitaan media daring serta unggahan video di platform media sosial seperti YouTube dan TikTok yang kemudian melahirkan gelombang komentar bernada hujatan.
Di sini saya tidak membela, tidak pula menghakimi, tetapi kritik atas cara masyarakat menghakimi. Jika kita lihat dengan tajam dan valid, maka yang saya temukan adalah sebuah penghakiman bagi perempuan lebih banyak. Tentu saja, ini bukan hanya lintas semata, bukan pula dukungan atas kasus yang terjadi.
Pola yang sama di dua kasus, tetapi pelaku yang berbeda. Masalah utamanya bukan, “siapa yang selingkuh” tapi “siapa yang dihukum lebih kejam.”
Kasus 1 : Ketika seorang istri terlibat dalam perselingkuhan.
Dilihat dari kasus yang pertama, pelakunya seorang istri, memiliki anak-anak yang lucu, mungil, tampan dan cantik. Begitu pula, sosok suami yang tampan, baik, mapan. Terlihat begitu sempurna di mata semua orang, terlihat sangat harmonis. Tanpa diketahui, ada ruang-ruang sunyi yang tidak pernah terlihat kamera, retak yang tidak terdengar, perasaan yang tidak pernah diberi nama dan persoalan yang hanya hidup dibalik pintu rumah.
Sebagaimana hasil penelusuran penulis di berbagai platform media sosial, seperti YouTube dan TikTok, muncul tren konten yang menjadikan tubuh dan identitas perempuan sebagai bahan ejekan. Di sini juga bisa kita lihat bagaimana respon-respon, komentar-komentar, ejekan, dan hujatan dari masyarakat yang berkeliaran untuk perempuan yang sudah melakukan kesalahan dalam rumah tangganya.
“(…) kalau ketemu cowok mana tahan?”
“Dia m*** karena apa, yah?”
Perselingkuhan memang salah, bahkan di dalam Islam hukuman bagi suami atau istri yang berselingkuh adalah rajam. Dihujat di mana-mana, diolok-olok sana-sini, video-video yang berisi ejekan untuknya, menyamakannya dengan hewan dan lain-lain.
Apakah itu pantas ia dapatkan?
Di sisi lain, mungkin bisa dikatakan, iya. Tapi, jika kita lihat sisi lainnya, dia adalah seorang perempuan yang sudah memiliki keluarga dan anak-anak. Perempuan juga bisa salah, bisa gagal, dan tetap layak diperlakukan sebagai manusia. Kesalahan layak dipertanggungjawabkan, tetapi penghinaan massal bukanlah keadilan.
Yang saya sampaikan bukan pembelaan terhadap pelaku, tapi pergeseran fokus moral. Artinya, ketika satu perempuan dijadikan sasaran hinaan kolektif, tubuhnya, moralnya, martabatnya dijadikan tontonan, maka perempuan lain ikut terseret ke dalam stereotip yang sama. Seolah-olah kesalahan satu perempuan menjadi cermin untuk menghakimi perempuan secara umum.
Dan ketahuilah, di situ letak berbahayanya. Sebab, tubuh perempuan dijadikan panggung penghinaan, dan perempuan lain yang tidak melakukan apa pun ikut “ditelanjangi” secara simbolik. Itu bukan lagi kritik atas perbuatan, itu dehumanisasi berbasis gender.
Kasus 2 : Perselingkuhan yang dilakukan oleh seorang suami dengan perempuan janda.
Beberapa hari mendengar berita ini muncul di mana-mana. Sampai akhirnya, ada satu video podcast dari salah satu pelaku (perempuan) di salah satu platform internet. Tidak sengaja saya mendengar keseluruhannya. Ada pertanyaan dalam pikiran saya.
Kenapa hanya dia yang hadir dan menjelaskan?
Maksudnya, dari banyaknya komentar dan hujatan, yang lebih banyak mendapatkannya adalah perempuan. Yang paling banyak dimintai keadilan, penjelasan, adalah perempuan. Tidak perlu membahas tentang masa lalunya yang pernah menjadi korban perselingkuhan, tetapi yang saya soroti adalah cara masyarakat menghakimi perempuan lebih dulu daripada laki-laki.
Dalam kasus ini, laki-laki sebagai pelaku utama justru absen dari ruang klarifikasi. Mungkin sudah, tetapi nyatanya sulit mendapatkan titik terang. Padahal, pelaku utama adalah si laki-laki. Namun yang paling ditarik untuk menjelaskan secara lugas, meminta maaf, dan menanggung penghakiman lebih banyak adalah perempuan.
Selain itu, ada banyak kata-kata hujatan, cemoohan, hinaan yang mana itu tersebar di mana-mana, bahkan sampai ke luar negeri. Padahal pada kasus kedua pelaku utamanya adalah laki-laki yang berselingkuh, bukan perempuan.
“(…) mah gampangan 2 jam juga beres”
“Terasa tak punya harga diri.”
Tidak hanya itu saja, masih banyak hinaan yang mengandung seksualitas, tubuh, bahkan peran seorang wanita. Mirisnya, banyak orang tidak menyadari bahwa hal tersebut merupakan bentuk pelecehan dengan kedok dukungan untuk perempuan lain, padahal yang dilecehkan tetaplah perempuan.
Publik figur memang lebih terbuka pada sorotan, punya tanggung jawab moral tertentu, tapi bukan berarti tubuhnya boleh dijadikan bahan hinaan, identitas gendernya boleh dihancurkan, kesalahannya boleh diseret lintas negara sebagai hiburan. Yang lebih saya kritik adalah hukuman sosial kita sudah kehilangan batas.
Dihujat, dihina, sampai lintas negara, dilanggengkan, direplika, dijadikan konten. Penulis menemukan sejumlah video di beberapa platform media sosial yang memperlihatkan praktik menonton kesalahan perempuan secara kolektif yang bertujuan menghukum lewat rasa malu (public shaming), mulai dari reaksi para penonton, hingga tuntutan agar perempuan tersebut terus-menerus menerus menjelaskan dan mempertanggungjawabkan dirinya di ruang publik. Maka, yang terjadi kesalahan personal berubah jadi tontonan global. Dan di titik itu, manusia berubah jadi objek, terutama perempuan.
Mereka memang perlu klarifikasi, tapi tidak layak dihukum publik tanpa batas. Hak untuk menjelaskan tidak otomatis berarti hak publik untuk merobek martabatnya. Sebab pada akhirnya, hinaan terhadap satu perempuan akan selalu beresonansi sebagai hinaan terhadap perempuan lain. Karena yang diserang bukan hanya individu, tapi tubuh perempuan sebagai simbol, identitas perempuan sebagai kelompok, dan standar moral yang dilekatkan secara kolektif pada perempuan.
Secara tidak langsung tubuh perempuan boleh dijadikan senjata penghinaan dan nilai perempuan bisa dicabut kapan saja saat ia salah. Faktanya, laki-laki yang melakukan kesalahan jarang dihukum lewat tubuhnya, tapi perempuan hampir selalu dihukum lewat seksualitasnya. Penghakiman publik yang menggunakan bahasa seksual, merendahkan tubuh, dan menyerang identitas gender bukanlah bentuk kontrol moral, melainkan dehumanisasi perempuan.
Dari fenomena ini menunjukkan perlunya literasi gender di ruang digital agar perempuan tidak harus menjadi objek penghukuman sosial. Penting bagi masyarakat menghentikan kekerasan bahasa dalam merespons kesalahan sebab mengakui dan mengecam perbuatan tidak pernah harus dibarengi dengan perendahan tubuh, identitas gender, atau penghapusan martabat manusia. Sikap kritis juga dapat dimulai dengan menolak ikut merayakan hujatan, tidak membagikan konten ejekan, termasuk praktik ‘roasting’ yang mengandung bahasa merendahkan dan melecehkan, karena kerap kali sikap paling radikal adalah tidak ikut-ikutan. Perubahan cara bicara, terutama di antara sesama perempuan. Pada akhirnya, empati perlu dipahami bukan sebagai pembenaran, melainkan sebagai pengakuan bahwa seseorang tetap manusia, bahkan ketika ia bersalah.
Tulisan ini tidak bertujuan membenarkan perselingkuhan, melainkan mengajak kita menggeser fokus, dari hasrat menghukum tanpa batas menuju keberanian menjaga kemanusiaan, terutama untuk perempuan. Dan selama tubuh perempuan terus dijadikan panggung penghinaan, maka setiap hujatan terhadap satu perempuan akan selalu beresonansi sebagai ancaman bagi perempuan lain. Keadilan bukan diukur dari seberapa kejam kita menghukum, melainkan sejauh mana kita mampu menegakkan moral tanpa kehilangan kemanusiaan.
Tulisan ini merupakan refleksi kritis penulis atas fenomena sosial di ruang publik digital dengan perspektif feminisme, khususnya terkait dehumanisasi perempuan.
Sumber Rujukan:
Channel YouTube X. “Puas! Jule Panen Hujatan Netizen Usai Selingkuh Tinggalkan Suami & Anak.” YouTube, Desember 2025.
Konten TikTok bertema “roasting” & Hujatan terhadap Perempuan dalam Kasus Perselingkuhan. TikTok, Desember 2025.
Channel YouTube X. “Netizen Muak! Inara Ungkapkan Semuanya Disini?! Siapa yang Sebar CCTV? Siap Jadi Istri Kedua?” YouTube, November 2025.
Tautan TikTok: https://vt.tiktok.com/ZSaf9SA6u/
Tautan TikTok: https://vt.tiktok.com/ZSaf9tJYC

