Close Menu
JalaStoria.idJalaStoria.id
  • Home
  • Ragam
  • Perspektif
  • Storimini
  • Sosok
  • Telaah
    • Hukum
    • Riset
    • Buku
    • Film
  • Konsultasi
  • Mitra
  • Media
  • English Version
Facebook X (Twitter) Instagram YouTube LinkedIn TikTok
  • Tentang Kami
  • Makna Logo
  • Daftar Isi
  • Tim Kami
  • Kirim Tulisan
  • Kontak Kami
  • Arsip
Facebook X (Twitter) Instagram YouTube LinkedIn TikTok
JalaStoria.idJalaStoria.id
  • Home
  • Ragam
  • Perspektif
  • Storimini
  • Sosok
  • Telaah
    • Hukum
    • Riset
    • Buku
    • Film
  • Konsultasi
  • Mitra
  • Media
  • English Version
JalaStoria.idJalaStoria.id
Home»Telaah»Film»Dua Garis Biru

Dua Garis Biru

Film jalastoria25 April 2020
(Ilustrasi: imdb.com)

Film Dua Garis Biru hadir untuk memberikan pemahaman betapa pentingnya pendidikan hak dan kesehatan seksual dan reproduksi (HKSR) kepada masyarakat. Walaupun tidak sebegitu eksplisit, namun pesan yang disampaikan dapat dimengerti oleh penonton. Saat ini, bahasan mengenai HKSR masih tabu untuk dibahas secara terbuka oleh orang Indonesia, dengan dalih akan merusak masa depannya. Film ini dapat memberikan pencerahan kepada penonton, bahwa edukasi mengenai hak dan kesehatan seksual dan reproduksi itu begitu pentingnya.

Film yang diproduksi oleh Starvision Plus  dan disutradarai oleh Gina S. Noer ini menceritakan sepasang remaja yang berpacaran, yaitu Bima yang diperankan oleh Angga Aldi Yunanda dan Dara yang diperankan oleh Adhisty Zara. Kurangnya pendidikan hak dan kesehatan seksual dan reproduksi akhirnya berujung pada kehamilan di luar nikah, dan mereka berusaha untuk mengatasi masalah tersebut.

Dua Garis Biru menurut penulis berhasil memberi pendidikan hak dan kesehatan seksual dan reproduksi untuk remaja, termasuk apa saja masalah yang akan timbul jika mereka melakukan hal-hal di luar batas. Bahwa masalah yang timbul bukan hanya berdampak pada mereka saja, melainkan keluarga keduanya.

Dalam film yang berdurasi 1 jam 53 menit ini, Dara dan Bima harus menghadapi problema hidup yang belum seharusnya mereka hadapi di usia mereka yang masih remaja.

Banyak rintangan yang dihadapi oleh Bima dan Dara setelah menikah. Salah satunya saat setelah melahirkan, keluarga Dara ingin memberikan anak yang dikandung oleh Dara kepada tantenya sehingga anak tersebut dapat dibesarkan oleh mereka dan Dara dapat melanjutkan pendidikannya ke universitas impiannya di Korea Selatan. Keluarga Bima menolak keputusan tersebut sehingga terjadi konflik antara Bima dan Dara. Akhirnya anak mereka tetap diurus oleh Bima dan keluarganya.

Dara dan Bima digambarkan sebagai remaja lugu yang begitu tertekan saat satu sekolah mengetahui bahwa Dara hamil saat insiden olahraga, apalagi mereka juga sudah dicap anak baik-baik. Keduanya jelas tak memikirkan hukum sebab akibat dari perbuatan mereka. Selain belum siap menjadi orang tua, rencana keduanya melanjutkan hidup selepas kelulusan SMA juga tergoyah hebat. Efek dari absennya pengetahuan mereka seks dan reproduksi begitu jelas tergambarkan.

Belum lagi dari orang tua Bima, yang merupakan tokoh masyarakat. Mereka mengalami beban moral tersendiri ketika mengetahui anaknya membuat Dara hamil di luar nikah. Orang tua Dara yang merupakan kalangan terpandang pun tak kalah kecewa dan marah kepada Dara dan Bima.

Pengambilan gambar di film ini sangat baik, alurnya mudah dipahami, dan banyak makna-makna tersembunyi di balik adegannya. Misalnya, visualisasi ondel-ondel yang dimaknai sebagai orang hamil dan buah stroberi yang dimaknai ukuran janin.

Film ini banyak memberikan pemahaman dan pencerahan tentang betapa pentingnya pendidikan hak dan kesehatan seksual dan reproduksi sejak dini, sehingga remaja dan orang tua memahami dan mencegah agar hubungan seksual di luar perkawinan dan pernikahan dini tidak terjadi. Film ini juga menjelaskan pentingnya peran orang tua dalam mendidik dan mengawasi kehidupan anak-anaknya, sehingga anak tidak merasa terabaikan.

Walaupun di awal perilisan film ini sempat ditentang ormas tertentu yang menganggap film ini mengajarkan hal-hal yang tidak baik, saya rasa hal tersebut tidak benar dan yang menentang mungkin harus diajak nobar, hehe…

Untuk yang belum sempat menonton di bioskop, kalian dapat menontonnya secara resmi dan gratis  di iflix https://www.iflix.com/id/id/title/movie/267380

dua garis biru film dua garis biru review film Zara
Share. WhatsApp Facebook Twitter LinkedIn Tumblr Email Telegram

Related Posts

Ketika Pengguna Jilbab Kini Menjadi Mayoritas

28 April 2026

Kesadaran Mengenal Identitas Diri Sebagai Perempuan

12 Februari 2026

Perlawanan Perempuan pada Takdir

12 Februari 2026

Comments are closed.

Relasi Gender di Suku Tuareg: Perempuan Tidak Bercadar, Laki-Laki yang Harus Melakukannya

9 Mei 2026

Mengecam Keras Pelaku Kekerasan yang Berlindung di Balik Otoritas Pendidikan dan Keagamaan

9 Mei 2026

Kala Split Bill Sentil Maskulinitas Pria

7 Mei 2026

Menjaga Perempuan atau Mendidik Laki-laki?

4 Mei 2026
banner jalastoria
Facebook X (Twitter) Instagram YouTube LinkedIn TikTok
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Makna Logo
  • Kirim Tulisan
© 2026 | All rights reserved

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.