Close Menu
JalaStoria.idJalaStoria.id
  • Home
  • Ragam
  • Perspektif
  • Storimini
  • Sosok
  • Telaah
    • Hukum
    • Riset
    • Buku
    • Film
  • Konsultasi
  • Mitra
  • Media
  • English Version
Facebook X (Twitter) Instagram YouTube LinkedIn TikTok
  • Tentang Kami
  • Makna Logo
  • Daftar Isi
  • Tim Kami
  • Kirim Tulisan
  • Kontak Kami
  • Arsip
Facebook X (Twitter) Instagram YouTube LinkedIn TikTok
JalaStoria.idJalaStoria.id
  • Home
  • Ragam
  • Perspektif
  • Storimini
  • Sosok
  • Telaah
    • Hukum
    • Riset
    • Buku
    • Film
  • Konsultasi
  • Mitra
  • Media
  • English Version
JalaStoria.idJalaStoria.id
Home»Storimini»Eksploitasi di Sekeliling Pekerja Migran Tidak Berdokumen

Eksploitasi di Sekeliling Pekerja Migran Tidak Berdokumen

Storimini jalastoria11 Januari 2020
Malaysia
(Ilustrasi/Foto: Pexels/Azri Suratmin)

Rabu pagi, (8/1) di acara Kementerian Luar Negeri, saya berkesempatan mengobrol dengan bu Rina. Beliau adalah Duta Besar RI untuk Bangladesh. Beliau bercerita bahwa kebanyakan kasus kekerasan yang dialami WNI perempuan di Bangladesh berupa penganiayaan atau eksploitasi oleh keluarga suami yang merupakan warga Bangladesh.

Saya juga bercerita ke bu Dubes, apa yang saya alami sewaktu menjadi Pekerja Migran Indonesia  undocumented di Malaysia dulu.  Saya menceritakan bagaimana perempuan Pekerja Migran Indonesia yang tidak berdokumen (kaburan, istilah kami) yang berpasangan dengan warga Bangladesh dan sekitarnya (Pakistan, India, dll) justru dieksploitasi oleh laki-laki pasangannya.

Pihak perempuan disuruh kerja, sementara  laki-laki pasangannya itu duduk diam di rumah. Pihak perempuan juga disuruh memenuhi semua kebutuhan, baik lahir maupun batin. Sungguh tidak manusiawi.  Bahkan ada yang dieksploitasi seksual  dengan dipaksa meladeni seksual anggota gerombolannya. Duh…sedih jika teringat teman-teman yang mengalami itu…

Dengan dalih supaya ada yang melindungi, banyak perempuan Pekerja Migran Indonesia yang tak berdokumen memilih (dan ada yang terpaksa juga sih) berpasangan dengan laki-laki Bangladesh, Pakistan, atau India. Dan mirisnya, para laki-laki itu juga tidak berdokumen.

Laki-laki gerombolan itu sangat jago merayu dan melontarkan  kata-kata manis. Tapi kalau sudah kena perangkap mereka, rasanya seperti masuk neraka.  Saya yang waktu itu tidak berdokumen juga sering dirayu mereka dengan kata-kata manis.  Tapi karena saya pernah mengalami terluka yang cukup dalam oleh suami waktu di Indonesia, saya tak mempan dengan rayuan.

Sialnya, teman saya sendiri, yang tinggal serumah dan sama-sama berasal dari Jawa Tengah, berusaha menjual saya ke lelaki gerombolan itu. Saya pun kemudian memutuskan pulang ke Indonesia. Saya tidak mau berlama-lama menjadi Pekerja Migran Indonesia tak berdokumen.  Kerentanannya berlipat-lipat.

Lah…kok saya jadi curhat ke bu Dubes? Berhubung waktunya kembali ke kantor, obrolan pun ditutup.

 

Siti Badriyah
Advokat

===

Kisah ini disampaikan oleh penulis melalui laman Facebooknya dan dituliskan kembali untuk JalaStoria.id

Pekerja Migran
Share. WhatsApp Facebook Twitter LinkedIn Tumblr Email Telegram

Related Posts

Perlunya Dukungan Keluarga terhadap Perempuan Tulang Punggung Keluarga

3 April 2026

Maskulinitas Jalan Raya dalam Perspektif Pengendara Motor Perempuan

3 April 2026

Pernikahan Merenggut Identitas Perempuan

3 Maret 2026

Comments are closed.

Relasi Gender di Suku Tuareg: Perempuan Tidak Bercadar, Laki-Laki yang Harus Melakukannya

9 Mei 2026

Mengecam Keras Pelaku Kekerasan yang Berlindung di Balik Otoritas Pendidikan dan Keagamaan

9 Mei 2026

Kala Split Bill Sentil Maskulinitas Pria

7 Mei 2026

Menjaga Perempuan atau Mendidik Laki-laki?

4 Mei 2026
banner jalastoria
Facebook X (Twitter) Instagram YouTube LinkedIn TikTok
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Makna Logo
  • Kirim Tulisan
© 2026 | All rights reserved

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.