Oleh: Ikfanny Alfi Muhibbah Shalihah
Fenomena pengabaian emosional sering berujung pada emotional burnout, yaitu kelelahan mendalam akibat kerja emosional yang tidak seimbang dalam relasi gender. Lagu “Focus” karya NIKI yang bernama lengkap Nicole Zefanya, dapat menjadi representasi kolektif dari pengalaman perempuan dalam menghadapi patriarki. Lagu “Focus” ini menjadi metafora perlawanan terhadap ketimpangan gender sekaligus seruan untuk keadilan emosional dalam relasi. Lirik NIKI dalam lagu “Focus” yang berupa pengulangan seruan berbunyi, “Focus for once, what is it that you want?”, menjadi simbol tuntutan atas presence, recognize, dan emotional balance dalam hubungan, sekaligus menandai kondisi kelelahan emosional (emotional burnout) yang muncul ketika beban emosional tidak terbagi secara adil.
Sebagai penyanyi dan penulis lagu asal Indonesia yang dikenal memiliki gaya vokal lembut dan khas dengan kepekaan emosionalnya, NIKI menghadirkan narasi yang raw sekaligus reflektif. Gaya menyanyi NIKI yang seperti rambling to the friends, menyerupai curhat kepada sahabat, membuat pesan lagu-lagunya terasa lebih dekat dan relatable, sekaligus membentuk kritik sosial terkait pengalaman perempuan dalam ketimpangan relasi gender dan ketidaksetaraan emosional. Tulisan ini menjadikan “Focus” sebagai titik masuk untuk mengungkapkan bahwa fenomena emotional burnout dalam relasi gender ialah bagian dari kritik sosial yang lebih luas terhadap patriarki, bukan semata-mata pengalaman individual.
Berikut cuplikan lirik lagu “Focus” yang dirilis 9 Agustus 2024 bersama 12 lagu lainnya dalam Buzz, album studio ketiga karya NIKI, sebagai penyanyi-penulis lagu asal Indonesia yang berkarier di bawah bendera label 88Rising, Amerika Serikat.
And then my friends can’t say they were right
No guys I swear! He’s not emotionally unavailable, he’s just traumatized
No guys I swear! He’s not a lost cause, it’s just he hasn’t met the girl that will fix his life
(But who am I kidding?)
Pengabaian Emosional dan Ekspektasi Gender
Penelitian oleh Simon et al. (2024) menunjukkan pengalaman pengabaian di masa kanak-kanak dapat mengganggu kemampuan regulasi emosi ketika dewasa, sehingga individu lebih rentan mengalami keterputusan emosional dalam hubungan. Secara budaya patriarki, laki-laki dibentuk sejak kecil untuk menekan kerentanan dan tidak mengekspresikan kelemahan emosional, sedangkan perempuan justru diharapkan mengisi kekosongan tersebut dengan memberikan kejelasan, perhatian, dan stabilitas emosional. Ketidakseimbangan ini menciptakan siklus berulang, seperti narator perempuan dalam lagu “Focus” yang menuntut kehadiran dan timbal balik, sedangkan pasangan mereka tetap menjauh secara emosional.
McCrory dan Viding (2023) menyebutkan kekerasan dan pengabaian emosional, meskipun tidak sejelas bentuk kekerasan fisik, memiliki dampak mendalam terhadap kualitas hubungan pada usia dewasa. Sejalan dengan itu, penelitian Hochschild (1983) tentang kerja emosional (emotional labor) menunjukkan perempuan secara tidak proporsional mengelola iklim emosional dalam keluarga maupun hubungan romantis. Akibatnya, perempuan seringkali ditugaskan untuk menjaga kehangatan dalam relasi yang timpang serta menanggung beban akibat ketidakhadiran emosional laki-laki. Penggunaan metafora “you’re a complicated puzzle” menandakan kebingungan perempuan dan upaya memahami pasangan yang tidak ekspresif secara emosional sehingga diibaratkan sebagai kepingan puzzle rumit.
Penelitian Wollast et al. (2025) menunjukkan ketidaksetaraan gender memengaruhi cara ekspresi emosi di 24 negara, sedangkan Hosang dan Bhui (2018) menambahkan bahwa diskriminasi memperburuk kondisi kesehatan mental perempuan. Studi tersebut menunjukkan upaya menormalisasi ketidakbertanggungjawaban laki-laki sekaligus menuntut kesempurnaan dari perempuan, sehingga memperlihatkan bahwa kerja emosional perempuan dianggap wajar, sedangkan ketidakhadiran emosional laki-laki ditoleransi. Perempuan dituntut untuk diam dan sempurna pada budaya patriarki, sebagaimana lyric line NIKI dalam “Focus”, yakni “He’s not a lost cause, it’s just he hasn’t met the girl that will fix his life”.
Emotional Burnout dalam Relasi Gender
Berawal dari ekspresi frustrasi diubah menjadi perlawanan, kita dapat melihat bahwa “Focus” sekaligus merepresentasikan kondisi emotional burnout yang muncul akibat ketimpangan beban emosional dalam relasi gender. Fenomena emotional burnout terjadi ketika individu, khususnya perempuan, mengalami kelelahan akibat beban emosional yang terus-menerus ditanggung secara tidak proporsional dalam relasi gender. Hochschild (1983) menjelaskan bahwa perempuan sering diposisikan sebagai pengelola emosi, sehingga mereka harus menjaga stabilitas relasi, meskipun pasangan mereka tidak hadir secara emosional. Lagu ini mencerminkan struktur patriarki yang melanggengkan ketidaksetaraan dalam kerja emosional, lalu memperkuat rasa frustrasi dan perasaan tidak terlihat dalam hubungan.
Nada vokal NIKI menciptakan atmosfer curhat, seakan-akan ia sedang meluapkan isi hatinya tentang pasangan yang tidak pernah benar-benar hadir. Hal ini membuat pesan lagunya terasa lebih dekat dan relatable bagi pendengarnya. Permintaan NIKI kepada pasangannya dalam lagu ini untuk “Focus” merupakan ekspresi emotional burnout yang menuntut keadilan dan timbal balik. Lagu “Focus” sebagai bentuk curahan hati, lalu berubah menjadi kritik sosial bahwa suara perempuan yang menolak diam dan menuntut kesetaraan dalam hubungan, layak didengar.
Penulis adalah Female Storyteller yang Peduli terhadap Gender Equality, Sustainability, dan Public Policy
Referensi
Ghadery, F. (2022). Beyond international human rights law – music and
song in contextualised struggles for gender equality. Transnational
Legal Theory, 13(1), 31–58.
https://doi.org/10.1080/20414005.2022.2081906
Hochschild, A. R. (1983). The managed heart: Commercialization of
human feeling. Berkeley: University of California Press.
Hosang, G. M., & Bhui, K. (2018). Gender discrimination, victimisation
and women’s mental health. The British Journal of Psychiatry,
213(6), 682–684. https://doi.org/10.1192/bjp.2018.244
James, R. (2020). Music and feminism in the 21st century. Music
Research Annual, 1, 1–25.
McCrory, E., & Viding, E. (2023). Emotional abuse and neglect: Time to
focus on prevention and mental health consequences. The
British Journal of Psychiatry, 223(2), 89–91.
https://doi.org/10.1192/bjp.2023.78
Simon, E., Raats, M., & Erens, B. (2024). Neglecting the impact of
childhood neglect: A scoping review of the relation between child
neglect and emotion regulation in adulthood. Child Abuse &
Neglect, 153, 106802.
https://doi.org/10.1016/j.chiabu.2024.106802
Wollast, R., Lüders, A., Nugier, A., Guimond, S., Phillips, J. B., Sutton,
R. M., Douglas, K. M., Sengupta, N. K., Lemay, E. P., Zand, S.,
Van Lissa, C. J., Bélanger, J. J., Abakoumkin, G., Abdul
Khaiyom, J. H., Agostini, M., Ahmedi, V., Almenara, C. A., Atta,
M., Bagci, S. C., … Leander, N. P. (2025). Gender inequality and
cultural values in explaining gender differences in positive and
negative emotions: A comparison of 24 countries during the
COVID-19 pandemic. Current Psychology, 44(1), 7584–7602.
https://doi.org/10.1007/s12144-024-06989-0

