Close Menu
JalaStoria.idJalaStoria.id
  • Home
  • Ragam
  • Perspektif
  • Storimini
  • Sosok
  • Telaah
    • Hukum
    • Riset
    • Buku
    • Film
  • Konsultasi
  • Mitra
  • Media
  • English Version
Facebook X (Twitter) Instagram YouTube LinkedIn TikTok
  • Tentang Kami
  • Makna Logo
  • Daftar Isi
  • Tim Kami
  • Kirim Tulisan
  • Kontak Kami
  • Arsip
Facebook X (Twitter) Instagram YouTube LinkedIn TikTok
JalaStoria.idJalaStoria.id
  • Home
  • Ragam
  • Perspektif
  • Storimini
  • Sosok
  • Telaah
    • Hukum
    • Riset
    • Buku
    • Film
  • Konsultasi
  • Mitra
  • Media
  • English Version
JalaStoria.idJalaStoria.id
Home»Perspektif»Emotional Labor: Ketangguhan Perempuan dalam Relasi Romantik

Emotional Labor: Ketangguhan Perempuan dalam Relasi Romantik

Perspektif Redaksi Jalastoria2 Agustus 2025

Oleh: Aprilia Dwi Rasdiyanti

Dalam banyak relasi romantik, perempuan kerap memikul beban emosional yang tak kasat mata. Konsep emotional labor menjelaskan bagaimana perempuan sering diharapkan menjadi penopang suasana hati, penenang konflik, sekaligus penjaga kehangatan cinta. Beban ini sering kali dianggap wajar, padahal di baliknya ada kerja keras yang menguras tenaga dan perasaan.

Tanggung jawab untuk memahami, meredam amarah, atau menyesuaikan diri agar hubungan tetap harmonis membuat perempuan menjadi pejuang emosi. Mereka belajar menahan luka, bernegosiasi dengan perasaan sendiri, bahkan mengorbankan kebutuhan pribadi demi pasangan. Seringkali, pengorbanan ini tak disadari sebagai kerja padahal ia nyata melelahkan.

Fenomena emotional labor pada perempuan tidak muncul begitu saja. Norma sosial, budaya patriarki, hingga tuntutan menjadi perempuan baik-baik membentuk pola di mana perempuan diidealkan sebagai pengurus relasi. Ketangguhan perempuan inilah yang sering membuat hubungan bertahan, meski kadang mengorbankan kesehatan mental mereka.

Seorang Blogger yang juga pemerhati perempuan dan konsultan di bidang manajemen emosional perempuan bernama Bethany Webster menjelaskan emotional labor yang kerap dirasakan oleh perempuan dalam tulisannya berjudul Woman and Emotional Labor: Putting Down the Weight, menjelaskan jika struktur sosial yang tidak bisa dipisahkan dari unsur patriarki mencampuradukkan kerja emosional dengan etika yang salah. Perempuan dianggap sebagai tempat sampah yang berguna untuk menampung kekacauan emosional keluarga, pasangan, dan sekitarnya namun saat ia meluapkan perasaannya justru dicap memiliki etika yang buruk.

Perlawanan perempuan dalam menolak ketidakadilan dalam manajemen perasaan yang mereka rasakan nyatanya tidak lahir dari keinginan perempuan itu sendiri, terlebih dalam hubungan romantik. Namun lebih dari itu, mereka yang mulai melakukan penolakan ialah mereka yang sudah lelah berada di dalam situasi yang tidak membuat mereka bahagia dan merasa tidak dihargai.

Untuk melihat fenomena emotional labor lebih dekat, mari menyimak kisah yang tertulis dalam majalah online perempuan bernama ellecanada.com. Dalam salah satu artikel mereka membahas mengapa emotional labor paling sering dialami oleh perempuan bukannya pria. Koresponden mereka bernama Kristine (nama samaran) membagikan hubungan romantiknya yang membuatnya kelelahan secara mental, hal ini karena pasangannya menyandarkan kebutuhan emosional dan menganggap Kristine sebagai tempat bercerita dan mendapatkan solusi, tanpa melakukan hal sebaliknya. Hal itu membuat Kristine merasa tenaganya terkuras untuk membantu pasangannya.

Majalah tersebut juga memaparkan studi penelitian di Kanada yang diambil dari salah satu jurnal ilmiah sosial. Hasil analisisnya menunjukkan bahwa perempuan memiliki tanggung jawab lebih besar membuat hubungan yang lebih bahagia secara keseluruhan. Studi tersebut melibatkan 2.000 pasangan heteroseksual yang memiliki komitmen dengan pasangan mereka.

Selain itu studi tersebut menjelaskan bahwa terjadi ketidakseimbangan dalam relasi romantik serta menimbulkan konsekuensi yang beragam. Misalnya saja perempuan mudah berselingkuh dengan pasangan mereka karena kebencian yang timbul dari banyaknya beban emosional yang mereka bawa.

Emotional labor tidak bisa dipisahkan dari konsep dan peran gender yang berkembang di masyarakat. Kaitan erat antara perbedaan pola asuh antara anak perempuan yang dibiasakan menanggung beban emosional dan anak laki-laki yang sering dididik sebagai pemimpin yang praktis, mandiri dan kompetitif juga menjadi alasan terbesar emotional labor paling banyak dialami oleh perempuan.

Tidak hanya pada relasi personal, emotional labour juga berdampak pada kerja-kerja publik perempuan. Di mana perempuan seringkali ditempatkan pada bidang-bidang pekerjaan yang menguras emosi Seperti customer service, front office, layanan pengaduan, dan pekerjaan lain yang sering menjadi sasaran emosi negatif dari pelanggannya.

Untuk membantu kalian memutus siklus emotional labor yang mungkin sedang kalian alami adalah dengan cara mempertimbangkan apakah kalian memberikan perhatian emosional lebih banyak daripada yang kalian dapatkan, serta meningkatkan kesadaran diri bahwa tanggung jawab menyelesaikan kekacauan emosional pasangan kalian bukanlah tanggung jawab kalian. Jika keputusan kalian memperparah hubungan dengan pasangan, maka memutuskan hubungan bisa jadi pilihan terbaik yang bisa kalian ambil.

Hal di atas juga dilakukan oleh Kristine yang memutuskan hubungan dengan pasangannya karena tidak mendapatkan haknya dalam memenuhi kebutuhan perasaan. Ia memutuskan untuk menyudahi hubungan mereka dan berkomitmen untuk menyadari kebutuhan emosional terlebih dahulu sebelum menjalin hubungan serius dengan orang baru kedepannya.

Namun jika masih di tahap ingin mempertahankan hubungan, dorong pasangan untuk sama-sama  belajar bahwa beban emosional dalam suatu hubungan adalah tanggungjawab bersama. Tidak hanya perempuan, laki-laki juga perlu memahami dan menyesuaikan diri dengan pasangan agar hubungan tetap awet.

Penulils merupakan lulusan Administrasi Publik, content writer, dan pegiat isu perempun.

Share. WhatsApp Facebook Twitter LinkedIn Tumblr Email Telegram

Related Posts

Kala Split Bill Sentil Maskulinitas Pria

7 Mei 2026

Menjaga Perempuan atau Mendidik Laki-laki?

4 Mei 2026

Teror terhadap Perempuan Pembela HAM dan Erosi Kebebasan Berpendapat

28 April 2026

Comments are closed.

Relasi Gender di Suku Tuareg: Perempuan Tidak Bercadar, Laki-Laki yang Harus Melakukannya

9 Mei 2026

Mengecam Keras Pelaku Kekerasan yang Berlindung di Balik Otoritas Pendidikan dan Keagamaan

9 Mei 2026

Kala Split Bill Sentil Maskulinitas Pria

7 Mei 2026

Menjaga Perempuan atau Mendidik Laki-laki?

4 Mei 2026
banner jalastoria
Facebook X (Twitter) Instagram YouTube LinkedIn TikTok
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Makna Logo
  • Kirim Tulisan
© 2026 | All rights reserved

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.