Close Menu
JalaStoria.idJalaStoria.id
  • Home
  • Ragam
  • Perspektif
  • Storimini
  • Sosok
  • Telaah
    • Hukum
    • Riset
    • Buku
    • Film
  • Konsultasi
  • Mitra
  • Media
  • English Version
Facebook X (Twitter) Instagram YouTube LinkedIn TikTok
  • Tentang Kami
  • Makna Logo
  • Daftar Isi
  • Tim Kami
  • Kirim Tulisan
  • Kontak Kami
  • Arsip
Facebook X (Twitter) Instagram YouTube LinkedIn TikTok
JalaStoria.idJalaStoria.id
  • Home
  • Ragam
  • Perspektif
  • Storimini
  • Sosok
  • Telaah
    • Hukum
    • Riset
    • Buku
    • Film
  • Konsultasi
  • Mitra
  • Media
  • English Version
JalaStoria.idJalaStoria.id
Home»Telaah»Film»Gelombang Feminisme dan Protes Sosial di Era Baru

Gelombang Feminisme dan Protes Sosial di Era Baru

Film Redaksi Jalastoria5 September 2025

 

Oleh: Anastasya Hilary Christie Theofilus

Di pergantian dekade, The Wave (La Ola) karya Sebastián Lelio muncul sebagai sebuah musical drama yang berhasil memadukan kisah feminisme dan protes sosial dalam satu narasi sinematik yang kuat dan berwarna. Film ini terinspirasi oleh gelombang besar protes sosial dan feminis yang mengguncang Chile pada tahun 2018, ketika jutaan orang, termasuk banyak perempuan muda bergerak turun ke jalan menuntut perubahan sistemik di berbagai bidang, mulai dari kesetaraan gender, keadilan sosial, hingga penolakan terhadap korupsi dan ketimpangan ekonomi yang berlangsung puluhan tahun.

Protes 2018 di Chile ini menjadi salah satu momen penting dalam sejarah negara tersebut, di mana suara-suara perempuan dan generasi muda mendapatkan ruang yang lebih besar untuk menyuarakan ketidakadilan yang mereka alami sehari-hari. Gerakan ini tidak hanya soal tuntutan politik, tetapi juga melibatkan ekspresi budaya, seni, dan musik sebagai alat perlawanan dan penyembuhan. Dalam The Wave, Sebastián Lelio menangkap semangat itu dengan menghadirkan kisah penyair muda dan musisi yang menggunakan suara dan karya seni mereka sebagai bentuk protes sekaligus perayaan identitas.

Melalui simbolisme yang kaya dan penggunaan musik yang energik, film ini menggambarkan bagaimana protes sosial di Chile pada masa itu menjadi sebuah gelombang perubahan yang kuat. Bukan hanya dalam konteks politik, tetapi juga dalam membentuk kesadaran feminis dan solidaritas antar perempuan. The Wave menunjukkan bagaimana suara individu dapat bergabung menjadi kekuatan kolektif yang mengguncang tatanan lama dan membuka ruang baru untuk keadilan dan kebebasan.

Empat Perempuan Muda Yang Melawan

Cerita berpusat pada empat perempuan muda; Julia, Luna, Rafa, dan Tamara yang merupakan mahasiswa di Santiago. Julia adalah mahasiswi musik yang aktif dalam gerakan feminis kampus; Luna juga terlibat dalam aksi protes dengan latar belakang seni pertunjukan; Rafa dan Tamara masing-masing menyalurkan ekspresi mereka melalui puisi, musik, dan seni visual. Keempatnya menyalurkan energi kemarahan, keraguan, sekaligus harapan melalui musik, puisi, dan seni di tengah pergolakan sosial. Mereka menentang tradisi patriarki, norma budaya yang mengekang, dan ketidakadilan gender di institusi pendidikan, menuntut akuntabilitas pihak berwenang dan ruang yang setara bagi perempuan. Latar Chile dalam film ini adalah negara demokratis, tetapi masih menghadapi ketimpangan sosial dan budaya patriarki yang membatasi kebebasan berekspresi dan kesempatan perempuan. Dalam konteks tersebut, perjuangan keempat perempuan bukan sekadar ekspresi artistik, tetapi juga bentuk perlawanan sosial dan politik terhadap norma yang menekan generasi muda, sambil menyuarakan perubahan dan menantang tirani sosial yang membatasi ruang hidup mereka.

The Wave (La Ola) menggunakan estetika musikal yang vibrant untuk menghadirkan atmosfer kolektif dari ruang konser hingga jalanan demonstrasi. Setiap lagu, tarian, dan dialog kreatif berfungsi sebagai petasan metaforis yang meledakkan suara-suara perempuan yang selama ini dibungkam. Melalui musik dan seni pertunjukan, film ini menyuarakan perlawanan terhadap patriarki, norma sosial yang mengekang, dan ketidakadilan gender, sekaligus menuntut keadilan bagi korban kekerasan seksual di institusi pendidikan. Selain itu, film menegaskan kebebasan berekspresi dan pemberdayaan perempuan, menyoroti bagaimana generasi muda menggunakan seni sebagai sarana protes dan penyampaian harapan mereka. Kritikus Guy Lodge menyebut film ini penuh energi, meski kadang repetitif dalam dramatiknya, namun kekuatan ekspresifnya tetap berhasil menyuarakan pesan sosial yang kuat.

Gender Performativity dalam La Ola

Film ini sejalan dengan teori gender performativity ala Judith Butler, di mana ekspresi gender, termasuk pemberontakan terhadap norma, dimaknai sebagai bentuk peneguhan identitas sekaligus kritik sosial. Judith Butler adalah seorang filsuf dan teoritikus gender asal Amerika Serikat yang sangat berpengaruh dalam kajian feminisme dan teori queer. Ia paling dikenal lewat konsep gender performativity yang ia kemukakan dalam bukunya Gender Trouble (1990).

Menurut Butler, gender bukanlah sesuatu yang melekat secara alami atau biologis dalam diri seseorang, melainkan sebuah “performa” atau tindakan yang terus-menerus diulang dalam interaksi sosial sehari-hari. Dengan kata lain, gender dibentuk dan dipertahankan melalui perilaku, bahasa, dan ekspresi yang kita tunjukkan kepada dunia. Jadi, gender bukan sesuatu yang “ada” secara tetap, melainkan sesuatu yang “dilakukan.”

Dalam konteks pemberontakan terhadap norma gender seperti yang disuarakan dalam film The Wave, teori Butler sangat relevan. Ekspresi perempuan dalam bentuk seni, musik, dan teater musikal bukan hanya sebuah cara untuk menunjukkan siapa mereka, tetapi juga sebuah tindakan politik yang menantang dan mengkritik norma sosial yang membatasi kebebasan mereka. Melalui performa tersebut, perempuan tidak lagi menjadi objek pasif dalam narasi sosial, melainkan menjadi subjek yang aktif membentuk dan mengubah realitas sosial itu sendiri.

Geraldine Farb’s Feminist Politics in Latin America juga menggarisbawahi: bentuk seni seperti musik dan puisi sering menjadi medan perlawanan yang efektif ketika ruang publik diblok oleh represifisme institusional.

Meskipun visual dan performa musikal The Wave mendapatkan banyak pujian, beberapa kritik menyebut struktur cerita terasa longgar dan dramatisasinya terlalu berulang. Durasi sekitar 129 menit membuat beberapa adegan terasa memanjang tanpa muatan emosional yang semakin dalam, sehingga pesan film yang kuat kadang terasa berulang-ulang. Namun, film ini tetap mampu memancing diskusi soal relasi antara perempuan, tradisi, dan perlawanan melalui seni.

The Wave bukan hanya film musikal feminis. Ia adalah naskah emosional tentang perempuan yang menolak diam dalam tradisi patriarki. Dengan visual glamor, energi revolusioner, dan narasi musikal yang membara, film ini menjadi panggilan bahwa perubahan budaya bisa dimulai dari satu nada, satu puisi, satu langkah berkumpul. Pengingat bahwa gelombang perubahan itu bersifat kolektif.

Kelebihan film ini terletak pada kemampuannya memadukan seni pertunjukan dengan pesan politik yang kuat secara harmonis dan mengena. Musik dan tarian yang energik bukan hanya sebagai hiburan, melainkan sebagai medium ekspresi kemarahan, harapan, dan solidaritas yang mendalam. Sutradara Sebastián Lelio berhasil menangkap dinamika sosial dan emosi para tokoh dengan sensitivitas tinggi, sehingga penonton bisa merasakan getaran perjuangan yang autentik. Selain itu, penggunaan simbolisme visual dan narasi yang puitis memperkuat daya tarik film, menjadikannya tidak hanya sebuah karya seni, tapi juga alat edukasi dan inspirasi bagi gerakan feminis dan perubahan sosial secara luas.

Menonton The Wave (La Ola) membuat saya menyadari betapa kuatnya seni sebagai medium ekspresi kolektif. Musik, puisi, dan pertunjukan kreatif yang digunakan oleh Julia, Luna, Rafa, dan Tamara bukan sekadar hiburan, tetapi alat untuk menyalurkan kemarahan, keraguan, dan harapan mereka. Film ini mengingatkan saya bahwa perubahan sosial bisa dimulai dari suara-suara yang berani bersuara, bahkan ketika sistem dan norma sosial mencoba membungkamnya. Saya merasakan energi dan keberanian para tokoh yang menuntut keadilan, yang membuat saya merenungkan bagaimana setiap individu memiliki peran dalam memperjuangkan kesetaraan dan kebebasan berekspresi.

 

Bagaimana dengan Konteks Indonesia?

Dalam konteks Indonesia, pesan film ini tetap relevan. Perempuan di berbagai institusi pendidikan dan ruang publik masih menghadapi norma patriarki dan kekerasan seksual, sementara suara mereka sering diabaikan atau dibungkam. Seperti para tokoh dalam film, gerakan feminis dan aksi kreatif di Indonesia, misalnya kampanye anti-kekerasan seksual di kampus atau aksi seni di media sosial, menunjukkan bahwa ekspresi kreatif dapat menjadi strategi efektif untuk menuntut perubahan dan keadilan sosial. Refleksi ini menegaskan bahwa pemberdayaan perempuan melalui seni dan solidaritas kolektif dapat menjadi salah satu cara yang kuat untuk melawan ketidakadilan, baik di Chile maupun di Indonesia.

—————————————————————————————————————————

The Wave (La Ola) (2025)

Sutradara: Sebastián Lelio

Penulis Skenario: Sebastián Lelio, Josefina Fernandez, Manuela Infante, Paloma Salas

Genre: Musical, Drama, Feminisme, Protes Sosial

Durasi: ± 120 menit (estimasi)

Pemeran: Lucas Saez Collins, Tamara Acosta, Avril Aurora, Florencia Berner sebagai Leo, Lola Bravo, Néstor Cantillana, Paulina Cortés, Álvaro Espinoza, Susana Hidalgo sebagai Piedad, Amalia Kassai, Mariana Loyola, Daniela López, Elvira López

Sumber gambar: IMdB

 

Penulis adalah seorang mahasiswa aktif.

Share. WhatsApp Facebook Twitter LinkedIn Tumblr Email Telegram

Related Posts

Ketika Pengguna Jilbab Kini Menjadi Mayoritas

28 April 2026

Kesadaran Mengenal Identitas Diri Sebagai Perempuan

12 Februari 2026

Perlawanan Perempuan pada Takdir

12 Februari 2026

Comments are closed.

Relasi Gender di Suku Tuareg: Perempuan Tidak Bercadar, Laki-Laki yang Harus Melakukannya

9 Mei 2026

Mengecam Keras Pelaku Kekerasan yang Berlindung di Balik Otoritas Pendidikan dan Keagamaan

9 Mei 2026

Kala Split Bill Sentil Maskulinitas Pria

7 Mei 2026

Menjaga Perempuan atau Mendidik Laki-laki?

4 Mei 2026
banner jalastoria
Facebook X (Twitter) Instagram YouTube LinkedIn TikTok
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Makna Logo
  • Kirim Tulisan
© 2026 | All rights reserved

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.