Close Menu
JalaStoria.idJalaStoria.id
  • Home
  • Ragam
  • Perspektif
  • Storimini
  • Sosok
  • Telaah
    • Hukum
    • Riset
    • Buku
    • Film
  • Konsultasi
  • Mitra
  • Media
  • English Version
Facebook X (Twitter) Instagram YouTube LinkedIn TikTok
  • Tentang Kami
  • Makna Logo
  • Daftar Isi
  • Tim Kami
  • Kirim Tulisan
  • Kontak Kami
  • Arsip
Facebook X (Twitter) Instagram YouTube LinkedIn TikTok
JalaStoria.idJalaStoria.id
  • Home
  • Ragam
  • Perspektif
  • Storimini
  • Sosok
  • Telaah
    • Hukum
    • Riset
    • Buku
    • Film
  • Konsultasi
  • Mitra
  • Media
  • English Version
JalaStoria.idJalaStoria.id
Home»Telaah»Film»Instant Family

Instant Family

Film jalastoria1 Juni 2020
Instant Family (cinemags.co.id)

Buat kamu yang belum nonton Instant Family, film ini bagus banget lho kalo kamu pengin tau susah payahnya menjadi orang tua. Film yang pertama kali diluncurkan pada Januari 2019 ini mengisahkan pasangan Pete (diperankan oleh Mark Wahlberg) dan Ellie (diperankan oleh Rose Byrne) yang memutuskan mengadopsi anak.

Keduanya kemudian berkonsultasi dengan petugas sosial Karen (diperankan oleh Octavia Spencer) dan Sharon (diperankan oleh Tig Notaro). Alhasil, Pete dan Ellie memutuskan untuk mengadopsi seorang remaja 15 tahun bernama Lizzy (diperankan oleh Isabella Moner). Lizzy ternyata memiliki dua orang adik, bernama Juan (diperankan oleh Gustavo Quiroz) dan Lita (diperankan oleh Julianna Gamiz). Dan masalahpun dimulai. Pete dan Ellie yang belum pernah menjadi orangtua kini harus menghadapi Lizzy remaja pemberontak yang tidak suka diatur, Juan yang canggung dan ceroboh yang kadang mencelakakan, dan Lita yang suka berteriak dan susah makan.

Lizzy sebagai anak pertama cukup protektif lho terhadap kedua adiknya. Menurut petugas sosial, itu karena ia ditinggalkan orang tua kandungnya dan harus sendirian mengasuh kedua adiknya di usianya yang masih remaja.

Saat ibu dari Pete datang berkunjung, pola pengasuhan yang diterapkan Pete dan Ellie seperti ditantang untuk berubah. Sang ibu yang memanggil dirinya sebagai Nenek menunjukkan bagaimana cara memperlakukan seorang remaja, termasuk dengan memberi uang jajan dan membiarkannya bermain dengan kawan-kawan remajanya saat bermain di taman.

Namun, masalah tidak hanya sampai di situ. Pete dan Ellie melabrak seorang lelaki yang diduga mengirimkan gambar dan teks porno ke Elizabeth, yang justru berujung dengan penahanan keduanya di kepolisian. Keduanya juga meninggalkan Juan dan Lita dalam mobil, sehingga petugas sosial membawa kedua anak itu ke tempat tinggal sementara.

Sebagai orang tua adopsi, Pete dan Ellie harus mengikuti persidangan di pengadilan. Atas berbagai informasi yang disampaikan oleh Lizzy, dan juga mendengarkan kesiapan ibu kandung ketiga anak itu, pengadilan memutuskan hak asuh ketiganya dikembalikan kepada orang tua kandungnya.

Namun, di hari yang dinantikan, ibu kandung mereka tidak kunjung datang. Justru petugas sosial yang datang, mengabarkan pernyataan ibu kandung mereka tentang ketidaksanggupan mengasuh ketiga anak tersebut. Lizzy sangat terpukul, sehingga Pete dan Ellie harus meyakinkan Lizzy untuk tetap tinggal bersama mereka.

Film dari Paramount Picture ini disebut berlatarbelakang California, sebuah negara bagian di Amerika Serikat. Syarat pengasuhan yang diterapkan oleh negara bagian ini cukup ketat ga sih, sobat? Coba simak dialog hakim dalam persidangan di film ini deh. Pertama, orang tua harus punya kerjaan tetap. Kedua, orang tua juga harus punya tempat tinggal yang memadai untuk menampung jumlah anak yang ada.  (Kebayang ga kalo di Indonesia, berapa banyak orang tua yang ga memenuhi syarat ini?) Kalo syarat-syarat itu tidak terpenuhi, negara melalui petugas sosial berhak mengambil alih anak-anak tersebut dan kemudian mencarikan orang tua asuh dengan serangkaian seleksi yang ketat.

Selain itu, di film ini kamu juga bisa melihat lembaga peradilan yang kamu ga lihat di Indonesia. Namanya, Family Court atau Pengadilan Keluarga. Di Indonesia, mungkin nama lembaga ini ga ada, ya. Walaupun, fungsi seperti pengadilan keluarga dijalankan juga oleh peradilan umum dan peradilan agama di Indonesia.

Jadi, selain bisa melihat bagaimana orang tua berproses menjadi orang tua, di film ini kamu juga bisa melihat bagaimana jaminan perlindungan sosial itu disediakan oleh negara agar tidak ada yang namanya anak terlantar. Ga percaya? Coba tonton aja ya..[]

 

Pengasuhan Anak
Share. WhatsApp Facebook Twitter LinkedIn Tumblr Email Telegram

Related Posts

Ketika Pengguna Jilbab Kini Menjadi Mayoritas

28 April 2026

Kesadaran Mengenal Identitas Diri Sebagai Perempuan

12 Februari 2026

Perlawanan Perempuan pada Takdir

12 Februari 2026

Comments are closed.

Relasi Gender di Suku Tuareg: Perempuan Tidak Bercadar, Laki-Laki yang Harus Melakukannya

9 Mei 2026

Mengecam Keras Pelaku Kekerasan yang Berlindung di Balik Otoritas Pendidikan dan Keagamaan

9 Mei 2026

Kala Split Bill Sentil Maskulinitas Pria

7 Mei 2026

Menjaga Perempuan atau Mendidik Laki-laki?

4 Mei 2026
banner jalastoria
Facebook X (Twitter) Instagram YouTube LinkedIn TikTok
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Makna Logo
  • Kirim Tulisan
© 2026 | All rights reserved

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.