Oleh: Aura
Aku merupakan anak perempuan bungsu dari 4 bersaudara, kakak pertama dan kedua adalah perempuan, dan yang ketiga laki-laki. Kakak pertamaku sudah meninggal dunia pada tahun 2024. Saat ini aku baru lulus dari SMA dan Ibuku melarang bekerja di tempat yang jauh karena menurutnya itu tidak aman. Ia hanya memperbolehkanku bekerja di dekat rumah kakak perempuanku agar bisa tinggal di sana. Padahal, tempat yang ia sebut tempat yang aman itu adalah tempat yang paling tidak aman bagiku. Suami kakakku atau biasa kita sebut ipar melecehkanku.
Saat aku baru memasuki pendidikan Sekolah Menengah Pertama (SMP), ia beberapa kali menyentuhku dengan memeluk pinggangku ketika aku sedang berdiri, dia juga sering mengusap kepalaku. Dulu kupikir itu hanya sebuah bentuk kasih sayang seorang kakak kepada adiknya, ipar juga tetap kakak kan? Namun nyatanya, pelecehan ini terus berlanjut.
Trauma Malam Tahun Baru
Ketika aku baru saja menginjak usia 16 tahun dan dia mungkin sekitar 30 an, saat malam tahun baru aku menginap di rumahnya, aku tidur sendiri di kamar yang memang semua kamar di rumahnya tidak memiliki pintu. Aku lupa jam berapa tepatnya, yang pasti itu terjadi saat malam hari. Ketika aku tidur, dia memeluk tubuhku, tangannya mencoba meraba pinggang hingga perutku sampai titik paling menyakitkan adalah dia mencium dan mengendus leherku.
Seketika tubuhku seperti membeku, aku tak bisa membuka mata, berteriak bahkan sekadar bergerak dan berbicara. Tapi aku harus melawan agar tidak terjadi hal yang lebih dari itu, dengan perlahan, aku menyingkirkan tangannya dan menjauhkan kakinya yang menindihku dari belakang dengan sedikit menendang seolah aku sedang mengigau. Dia pun menjauh dan turun dari ranjang. Aku masih dengan keadaan terkejut dan tubuh gemetar sampai tidak bisa tidur kembali.
Beberapa lama kemudian dia kembali melakukan hal yang sama, aku mencoba berdiri keluar dengan perasaan yang sangat tidak nyaman, aku bingung harus bagaimana, di ruang tamu ada kakakku, aku bertanya “mamah mana teh, si mamah di mana” dengan langkah yang gemetar dan seperti orang yang linglung. Kakakku menjawab ibuku tidur di rumah bibi, tepat di samping rumah kakakku. Aku keluar dan mendapati keluargaku yang sedang tertawa melihat kembang api yang riuh di langit. Akupun bergabung dengan mereka masih dengan perasakan yang kalut. Setelah itu aku tidur di rumah bibiku dan besoknya kami pulang.
Selama hampir setahun, aku tidak pernah lagi datang ke rumahnya bahkan saat ada acara penting sekalipun. Bahkan ketika mereka yang datang ke rumahku, aku selalu menginap di rumah temanku. Itu terjadi sampai saat ini. Dan sampai sekarang, aku belum memberitahukan hal itu kepada keluargaku. Banyak sekali hal yang perlu dipertimbangkan dalam hal ini.
Kakak pertamaku merupakan korban perselingkuhan yang berakhir perceraian, saat kejadian itu, ibuku sangat terpukul sampai kondisinya drop. Jika aku memberitahu ibuku bahwa aku adalah korban pelecehan dari iparku (menantunya), mungkin ibuku akan drop kembali. Aku tidak ingin menambah beban ibuku. Alasan selanjutnya, kakakku mempunyai dua anak, yang pertama laki-laki dan yang kedua perempuan, anak keduanya ini sangat dekat dengan ayahnya, yaitu si pelaku. Jika aku memberitahu hal ini kepada kakakku, itu akan sangat menyakitkan baginya, kemungkinan rumah tangga mereka tidak akan bertahan. Aku tidak ingin keponakanku kehilangan peran ayah seperti keponakanku dari kakak yang pertama tadi.
Berjuang Merawat Mental
Sampai saat ini sudah 3 tahun dari waktu kejadian, aku masih trauma dengan hal itu. Bahkan setahun setelah kejadian, saat akhir tahun aku sampai dirawat inap karena terlalu trauma dengan tahun baru. Tapi aku sudah mulai berani pergi ke rumahnya, akan tetapi aku tidur di rumah bibiku meskipun masih dengan rasa takut yang sangat amat mengganggu.
Dampak yang aku alami adalah keadaan mental yang tidak stabil, setiap hari selalu dihantui dengan rasa takut. Terlebih ibuku hanya memperbolehkan aku bekerja asal tinggal di rumah si pelaku. Bisa saja di rumah bibi, tapi kamar yang tersisa tidak memiliki pintu, sama saja tidak aman. Akupun terlalu malas untuk melihat wajahnya, bahkan jika kalian ingin tahu, setelah kejadian itu sampai hari ini, aku tidak pernah melihat wajahnya sama sekali, aku hanya bersalaman ketika bertemu karena tidak ingin membuat orang lain curiga, itupun sangat singkat seperti tidak tersentuh. Hal ini juga berdampak bagi masa depanku yang kini terbatasi. Di rumah kakak tidak aman, di tempat sendiri tidak dapat kerja, di tempat jauh juga tidak boleh. Katanya keluarga adalah tempat yang nyaman dan aman, nyatanya hanya mitos belaka ya?
Mulai Menghakimi Diri Sendiri
Satu hal yang selalu aku pertanyakan. Kenapa dia melakukan hal itu? Apa yang salah dengan kakakku? Dia sudah sempurna di mataku, apa kekurangannya? Kenapa dia harus diperlakukan seperti itu? Bukannya dulu ia yang menginginkannya? Mengapa setelah dapatkan malah dikhianati? Kenapa? Ilmunya, pendidikannya bahkan lebih tinggi dari iparku.
Kakakku. Dia sudah merelakan masa depannya dengan menikah, mengabdi, menjadi istri yang taat, ibu yang baik, tapi kenapa Iparku tidak menghargai semua itu? Tidak sadarkah ia telah menghancurkan 3 perempuan sekaligus? Aku, kakakku dan ibuku. Ipar adalah maut, bagi hidupku.
Pelajaran yang aku ambil dari kejadian ini adalah, jangan terlalu pasrah dengan keadaan. Contohnya seperti kakakku, dia menikah dengan laki-laki itu karena dijodohkan atau dicomblangin oleh pamanku. Ibu dan kakaku tidak nyaman jika menolak. Sebagai perempuan, kita juga berhak memilih kok, terutama untuk pasangan yang akan menjadi pendamping kita seumur hidup. Tolong dipikir sejuta kali sebelum menerima laki-laki. Meskipun pada dasarnya sifat asli hanya akan terlihat setelah menikah, akan tetapi kita harus tetap mempertimbangkan semuanya. Tidak usah memikirkan omongan orang lain jika kamu terlambat menikah karena terlalu pemilih, karena pernikahan bukanlah hal sepele yang bisa dipermainkan. Lebih baik telat tapi tepat, daripada cepat tapi sesat.
Ikhtiar untuk Sembuh
Untuk mengatasi trauma yang kualami, aku mengambil jarak dan menjauh dari pelaku. Aku juga mulai membangun kembali duniaku. Aku bertemu dengan teman-temanku. Di sana, aku bisa tertawa lepas dan berbagi cerita sehingga aku dapat sedikit melupakan rasa traumaku. Namun, tahu bahwa itu saja tidak cukup. Luka-luka dalam diriku terlalu dalam untuk disembuhkan dengan kebahagiaan sesaat. Dengan keberanian yang kukumpulkan selama berbulan-bulan. Akhirnya aku datang ke psikiater. Awalnya aku merasa takut dihakimi, akan tetapi setelah sampai di sana, aku merasa aman. Ia membantuku untuk sembuh dari luka yang kualami, ia juga memberiku obat agar aku merasa tenang setiap kali ingatan-ingatan buruk itu muncul.
Aku tidak tahu sampai saat ini pelaku merasa bersalah atau tidak, ia masih menginginkanku atau tidak, tapi aku berharap tidak! memang sudah sadar dan tidak akan melakukan hal itu lagi. Aku berharap kakak dan ibuku tidak mengetahui hal ini agar mereka tidak merasakan sakit seperti yang aku rasakan. Aku berharap aku bisa sembuh total dari trauma yang selalu menghantuiku ini. Aku juga berharap, orang-orang di luar sana yang mengalami pelecehan sepertiku dapat menemukan kembali dunianya, sembuh dari trauma dan kembali ceria bahkan lebih dari sebelumnya.
Semua identitas dalam tulisan ini termasuk nama penulis adalah nama samaran (bukan sebenarnya). Kisah ini dibagikan untuk tujuan edukasi dan telah disetujui oleh korban.

