Close Menu
JalaStoria.idJalaStoria.id
  • Home
  • Ragam
  • Perspektif
  • Storimini
  • Sosok
  • Telaah
    • Hukum
    • Riset
    • Buku
    • Film
  • Konsultasi
  • Mitra
  • Media
  • English Version
Facebook X (Twitter) Instagram YouTube LinkedIn TikTok
  • Tentang Kami
  • Makna Logo
  • Daftar Isi
  • Tim Kami
  • Kirim Tulisan
  • Kontak Kami
  • Arsip
Facebook X (Twitter) Instagram YouTube LinkedIn TikTok
JalaStoria.idJalaStoria.id
  • Home
  • Ragam
  • Perspektif
  • Storimini
  • Sosok
  • Telaah
    • Hukum
    • Riset
    • Buku
    • Film
  • Konsultasi
  • Mitra
  • Media
  • English Version
JalaStoria.idJalaStoria.id
Home»Perspektif»Jika Perempuan Terus Diminta Sabar, Kapan Dunia Patriarkis Bisa Sadar?

Jika Perempuan Terus Diminta Sabar, Kapan Dunia Patriarkis Bisa Sadar?

Perspektif Redaksi Jalastoria3 April 2026

oleh: Adira Putri Aliffa

Miris ketika mendengar banyak kata “sabar” di situasi rumit yang mengguncang mental perempuan. Seperti pada kalimat: “Sabar, perempuan tuh harus nurut sama suami” padahal dirinya menjadi korban KDRT di rumah tangganya. “Sabar, perempuan tuh jangan lebay, harus kuat” padahal dirinya menjadi korban pelecehan seksual berkali-kali di sekolahnya. “Sabar, perempuan tuh emang seharusnya gak usah kerja aja, harus di rumah” padahal dirinya hanya ingin mendapatkan ruang untuk hal-hal yang disukainya agar merasa bahagia.

Apakah semua itu salah? Mengapa seolah “sabar” dan “penurut” harus menjadi solusi dari setiap ketidakadilan bagi perempuan? Dalam banyak ruang hidup, “sabar” telah menjadi simbol kedewasaan, kebijaksanaan, dan kemuliaan. Namun sayangnya, sabar juga telah dijadikan dalih untuk membungkam dan menenggelamkan fakta juga derita. Terutama ketika yang diminta sabar hanya dari satu sisi saja, yakni perempuan.

Pada tahun 2001–2023, tercatat sekitar 582.780 laporan kasus KDRT, sekitar 94% adalah kekerasan terhadap istri (KTI), termasuk berupa kekerasan psikologis, fisik, ekonomi, dan seksual. Data terbaru dari KemenPPPA melaporkan sebanyak 24.441 kasus kekerasan berbasis gender pada 2024, dengan 14.941 kasus terjadi di rumah tangga. Hal ini berarti lebih dari 60% kekerasan berbasis gender terjadi di ruang privat yang sering diselimuti budaya “sabar aja”.

Pepatah yang jadi Pemicu Stigma 

Kebanyakan kasus ini berada di Pulau Jawa, terlebih lagi terdapat pepatah jawa yang masih memegang teguh hal ini, yakni pepatah “swarga nunut, neraka katut” (ke surga ikut, ke neraka pun turut). Padahal perempuan juga berhak atas jalan hidupnya sendiri. Istilah “konco wingking” pun turut mempertegas label patriarkis bahwa perempuan selalu memiliki posisi di belakang laki-laki. Padahal yang benar adalah perempuan memiliki posisi sebagai teman hidup yang berada di samping laki-laki. Sayangnya, pepatah-pepatah ini yang mungkin dimaksudkan sebagai bentuk kebersamaan justru menjelma jadi alat pelumpuh kekuatan perempuan. Seolah-olah perempuan tidak punya hak untuk menolak, memilih, atau bahkan marah.

Kasus nyata membenarkan itu, yakni seorang perempuan di Gunungkidul bercerita bahwa ia harus mengubur keinginannya untuk kuliah karena orang tuanya berkata, “Jadi perempuan jangan sekolah tinggi-tinggi, nanti juga ikut suami.” Hal tersebut menguatkan hasil survei dari LSI tahun 2022 yang menunjukkan bahwa 28% masyarakat Indonesia masih percaya perempuan tidak perlu sekolah tinggi jika hanya akan berakhir di dapur.

Di tingkat global pun, narasi serupa menjalar. Pepatah seperti “Behind every great man, there’s a woman” seperti tampak memuji, tapi sesungguhnya menyimpan pertanyaan pada kata “behind”. Kenapa harus di belakang? Kenapa tidak “beside” atau di samping? Kenapa perempuan tidak ditempatkan setara melainkan ada di posisi tidak terlihat karena di balik punggung pasangannya?

Stigma patriarkis lainnya juga terlihat pada istilah “boys will be boys” yang telah lama dijadikan pembenaran untuk perilaku maskulin yang merugikan. Mulai dari cat-calling, gaslighting, hingga pelecehan sampai kekerasan fisik. Bahkan jika terdapat kasus pelecehan, beberapa orang masih menyalahkan perempuan dan menormalisasi kodrat lelaki dengan nafsunya.

Ketika Kata “Sabar” jadi Upaya Romantisasi Ketidakadilan 

Lihat saja kasus Meghan Markle, yang dihujat oleh media Inggris karena bersuara tentang rasisme dan kontrol terhadap tubuhnya. Sementara institusi kerajaan justru mendesaknya untuk lebih sabar dan menyesuaikan diri. Perempuan yang bicara dianggap pembuat onar dan diam dianggap mulia. Kesabaran memang bisa jadi kekuatan, tetapi bukan saat perempuan menjadi korban budaya sistemik yang tidak lagi relevan.

Ada juga kisah tahanan wanita yang dilecehkan oleh oknum polisi. Saat berani menyuarakan kebenaran, banyak pihak yang menyuruhnya diam. Dikarenakan posisinya rentan dan posisi polisi yang cenderung dominan. Tidak hanya itu, banyak korban pelecehan lainnya yang harus tutup mulut karena pelakunya memiliki jabatan tertentu. Entah itu tokoh agama, pejabat publik, guru atau dosen, dan lain sebagainya.

Lagi dan lagi kata “sabar” terus mereka dengar di manapun kejahatan itu berada. Sampai benar-benar menutup banyak kebenaran di depan mata. Pertanyaannya: “jika perempuan terus diminta sabar, kapan dunia patriarkis bisa sadar? kapan para pelaku bisa mendapatkan hukuman yang setimpal? kapan lelaki bisa evaluasi diri bukannya menyalahkan perempuan atas perilaku bejatnya?”

Pada akhirnya, kata “sabar” tetap boleh dipakai sesuai kebutuhannya, bukan untuk menormalisasi dan meromantisasi ketidakadilan. Perempuan tetap boleh sabar karena dia mau, bukan untuk menuruti sesutu yang tidak membuatnya nyaman, bukan untuk terus membenarkan luka atas nama “menjaga rumah tangga”, dan bukan untuk terus membungkam kebenaran demi mempertahankan citra lain manusia.

 

Penulis suka menyuarakan isi hati dan kepala lewat kata-kata untuk dunia

Referensi

https://komnasperempuan.go.id/download-file/949

https://kemenpppa.go.id/index.php/siaran-pers/menteri-pppa-banyak-perempuan-dan-anak-korban-kekerasan-tidak-berani-melapor

Share. WhatsApp Facebook Twitter LinkedIn Tumblr Email Telegram

Related Posts

Ketika Tanggungjawab dibebankan Pada Penyintas melalui Kebijakan

22 Juni 2026

Fikih Klasik dan Konsep Perempuan yang Ideal

22 Juni 2026

Wajah Hukum, Permainan Catur dan Nasib Perempuan Pulau Buru

22 Juni 2026

Comments are closed.

DARI PENYEKAPAN KE POTENSI FEMICIDE: HUKUM PELAKU, PULIHKAN KORBAN DAN KENALI RED FLAG KEKERASAN DALAM PACARAN

23 Juni 2026

KEKERASAN BERLAPIS TERHADAP PEREMPUAN: KASUS YUVITA MENJADI PENGINGAT DARURAT PERLINDUNGAN PEREMPUAN DI RUANG PRIVAT DAN PUBLIK

23 Juni 2026

Ketika Tanggungjawab dibebankan Pada Penyintas melalui Kebijakan

22 Juni 2026

Fikih Klasik dan Konsep Perempuan yang Ideal

22 Juni 2026
banner jalastoria
Facebook X (Twitter) Instagram YouTube LinkedIn TikTok
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Makna Logo
  • Kirim Tulisan
© 2026 | All rights reserved

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.