Close Menu
JalaStoria.idJalaStoria.id
  • Home
  • Ragam
  • Perspektif
  • Storimini
  • Sosok
  • Telaah
    • Hukum
    • Riset
    • Buku
    • Film
  • Konsultasi
  • Mitra
  • Media
  • English Version
Facebook X (Twitter) Instagram YouTube LinkedIn TikTok
  • Tentang Kami
  • Makna Logo
  • Daftar Isi
  • Tim Kami
  • Kirim Tulisan
  • Kontak Kami
  • Arsip
Facebook X (Twitter) Instagram YouTube LinkedIn TikTok
JalaStoria.idJalaStoria.id
  • Home
  • Ragam
  • Perspektif
  • Storimini
  • Sosok
  • Telaah
    • Hukum
    • Riset
    • Buku
    • Film
  • Konsultasi
  • Mitra
  • Media
  • English Version
JalaStoria.idJalaStoria.id
Home»Telaah»Film»Kejang; Isyarat Tubuh Melawan Patriarki

Kejang; Isyarat Tubuh Melawan Patriarki

Film Anastasya Hilary Christie Theofilus12 Juli 2025
jalastoria
(foto: ilustrasi)

“The body of a woman is never neutral; it is always political” (Tubuh seorang perempuan tidak pernah netral; ia selalu politis)  — Susan Bordo

Kalimat dari Susan Bordo, seorang filsuf dan penulis feminis asal Amerika, menggambarkan bagaimana tubuh perempuan kerap dijadikan medan tafsir politik, moral, dan budaya. Pernyataan ini berkorelasi dengan film The Fits yang disutradarai oleh Anna Rose Holmer pada 22 Januari 2015.

Satu hal yang membuat saya tertarik menonton film ini karena, kejang yang biasanya diidentikkan dengan dunia medis, dalam film ini justru dijadikan isyarat perlawanan/penolakan tubuh terhadap budaya patriarki. Di tengah gempuran narasi feminisme yang sering diartikulasikan lewat orasi lantang dan simbol perlawanan yang eksplisit, film berdurasi 72 menit ini hadir sebagai anomali yang menggugah.

The Fits menyuguhkan potret sunyi seorang gadis berusia 11 tahun bernama Toni yang tumbuh di lingkungan komunitas kulit hitam Cincinnati. Meski minim dialog, film ini berbicara banyak tentang tubuh perempuan, tekanan sosial, dan pilihan personal dalam memahami identitas gender. Di sinilah kekuatan The Fits terletak, sebagai karya sinematik feminis yang mengguncang cara pandang lewat kesunyian.

Dalam The Fits, Toni yang awalnya lebih nyaman berlatih tinju bersama kakaknya memutuskan bergabung dengan tim tari perempuan bernama The Lionesses. Tak lama kemudian, satu per satu anggota tim tersebut mengalami kejang misterius yang tidak dapat dijelaskan secara medis. Kejang itu bukan sekadar elemen cerita aneh, ia adalah alegori tentang bagaimana tubuh perempuan menjadi medan benturan antara ekspektasi sosial dan keinginan personal.

Teori dari Judith Butler, seroang penulis dari Gender Trouble (1990), bukunya yang terkenal, menekankan bahwa gender adalah sesuatu yang performatif, artinya ia dibentuk melalui pengulangan tindakan sosial. Dan hal ini menjadikan landasan yang kuat serta relevan tentang bagaimana identitas gender tidak bersifat alamiah atau tetap, melainkan dibentuk secara sosial dan kultural melalui tindakan-tindakan yang terus diulang, baik secara sadar maupun tidak. Dalam konteks The Fits, kita melihat bagaimana karakter Toni secara perlahan menolak untuk mengikuti serangkaian tindakan atau performa yang dikonstruksikan sebagai perilaku perempuan.

Misalnya, ketika teman-teman perempuannya mulai mengenakan anting, berdandan, dan bergerak secara anggun, Toni justru menunjukkan sikap kebingungan, bahkan ketidaknyamanan. Ia tidak serta merta menentang, tapi juga tidak ikut begitu saja. Penolakannya terhadap norma ini tidak dilakukan dengan perlawanan yang eksplisit, melainkan dengan cara yang sangat subtil, dengan memilih untuk tidak menirukan, tidak menyesuaikan diri, dan tidak menginternalisasi kode-kode performatif tersebut.

Dengan demikian, teori Butler menjadi kunci untuk membaca tubuh Toni sebagai ruang di mana pertarungan simbolik antara kebebasan personal dan tekanan sosial berlangsung. Toni bukan sekadar seorang anak perempuan yang bingung, ia adalah representasi dari subjek yang sedang menegosiasikan peran gendernya dalam masyarakat yang telah lebih dulu menyusun skrip untuk tubuhnya.

Yang membuat The Fits istimewa adalah bagaimana ia menyampaikan perlawanan tanpa kekerasan verbal. Toni hampir tidak banyak bicara sepanjang film. Ia menatap, meniru, mengamati, dan pada akhirnya memilih untuk tidak selalu ikut-ikutan. Ketika semua orang “masuk angin budaya” — istilah ini menggambarkan kondisi saat seseorang mulai terserang atau tunduk pada arus norma sosial dan tekanan budaya — Toni tetap berdiri tegak, bahkan di tengah tekanan agar ia fit in (menyesuaikan diri).

Keheningan Toni bukan kelemahan, melainkan bentuk resistensi yang subtil. Susan Sontag pernah menulis bahwa diam bisa menjadi senjata. Dalam kasus Toni, diamnya adalah penolakan terhadap sistem nilai yang ingin mengatur tubuhnya. Ia tidak mengikuti, tapi juga tidak frontal menolak. Ia hanya ada, dan dalam keberadaannya yang otentik, ia menolak menjadi boneka budaya.

Tak bisa diabaikan, The Fits juga memotret pengalaman seorang perempuan muda kulit hitam dari kelas pekerja — kelompok yang kerap tersingkir dalam narasi feminisme arus utama yang sering berpusat pada perempuan kulit putih dari kelas menengah ke atas. Toni adalah potret dari apa yang disebut oleh Kimberlé Crenshaw sebagai konsep interseksionalitas, yakni sebuah pendekatan dalam feminisme yang mengakui bahwa pengalaman perempuan tidak bisa dipisahkan dari identitas-identitas lain seperti ras, usia, dan kelas sosial. Crenshaw, seorang sarjana hukum dan aktivis, memperkenalkan istilah ini untuk mengungkap ketimpangan ganda yang dialami oleh mereka yang berada di persimpangan berbagai identitas.

Film ini tidak menyederhanakan perjuangan feminisme sebagai satu wajah tunggal. Sebaliknya, ia memperluas ruang narasi, menunjukkan bahwa perjuangan menjadi perempuan tidak selalu hadir dalam bentuk yang seragam. Toni tidak menuntut kesetaraan lewat pidato atau demonstrasi, tapi lewat keputusan untuk berdiri di antara norma dan keanehan. Sebuah posisi yang jarang dianggap radikal, padahal sangat revolusioner.

Film-film bertema coming-of-age perempuan kerap menempatkan transformasi karakter sebagai proses penerimaan diri dalam kerangka sosial yang ada — menstruasi sebagai momen pencerahan, makeup sebagai simbol kedewasaan, dan relasi cinta sebagai jalan menuju pemahaman identitas. Namun, The Fits menolak narasi ini. Toni tidak berubah demi diterima, ia tidak menyesuaikan diri untuk menjadi bagian dari kelompok.

Adegan terakhir film, di mana Toni akhirnya mengalami kejangnya sendiri namun dengan cara yang berbeda, adalah klimaks dari proses negosiasi identitasnya. Kejangnya tidak seperti yang lain,  ia lebih mirip tarian pribadi, sebuah ritual penyucian tubuhnya dari tekanan dan norma eksternal. Dalam konteks film ini, kejang bukan dalam arti medis, melainkan sebagai metafora visual yang menggambarkan ledakan emosi dan konflik batin yang tak terucapkan, sebuah bentuk ekspresi terhadap tekanan kolektif yang sulit dijelaskan secara verbal.

Namun demikian, The Fits tidak lepas dari kekurangan. Bagi sebagian penonton, narasi film ini terasa terlalu lambat dan minim dialog, sehingga menyulitkan untuk menangkap makna simbolisnya tanpa pemahaman konteks teoritis yang cukup. Selain itu, film ini bisa terasa terlalu subtil untuk penonton yang terbiasa dengan alur cerita yang eksplisit dan linear.

Meski begitu, kekuatan film ini justru terletak pada keberaniannya untuk menyampaikan perlawanan lewat bahasa tubuh. Ia mengingatkan kita bahwa ada banyak cara menampilkan wajah feminisme. Ada kalanya, feminisme hadir dalam suara lantang yang menggebu, ada pula yang hadir melalui tatapan bingung seorang anak perempuan yang mulai menyadari bahwa tubuhnya bukan hanya miliknya sendiri.

Lewat Toni, kita diajak untuk menyadari bahwa melawan patriarki bisa dengan beragam cara. Tidak hanya kata, bahkan dengan diam, dan berdiri — tidak lari, tidak menari — seseorang bisa menyampaikan perlawanan paling kerasnya.

 

Share. WhatsApp Facebook Twitter LinkedIn Tumblr Email Telegram

Related Posts

Pangku: Tubuh yang Bekerja, Tubuh yang Bertahan

12 Januari 2026

Perjuangan Perempuan Korea dalam Menghadapi Triple Exploitation di Film Factory Complex

12 Januari 2026

Ketimpangan dalam Relasi Intim dan Dampaknya bagi Perempuan: Realita Kelam dalam Drama S Line

11 Januari 2026

Comments are closed.

Relasi Gender di Suku Tuareg: Perempuan Tidak Bercadar, Laki-Laki yang Harus Melakukannya

9 Mei 2026

Mengecam Keras Pelaku Kekerasan yang Berlindung di Balik Otoritas Pendidikan dan Keagamaan

9 Mei 2026

Kala Split Bill Sentil Maskulinitas Pria

7 Mei 2026

Menjaga Perempuan atau Mendidik Laki-laki?

4 Mei 2026
banner jalastoria
Facebook X (Twitter) Instagram YouTube LinkedIn TikTok
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Makna Logo
  • Kirim Tulisan
© 2026 | All rights reserved

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.