Close Menu
JalaStoria.idJalaStoria.id
  • Home
  • Ragam
  • Perspektif
  • Storimini
  • Sosok
  • Telaah
    • Hukum
    • Riset
    • Buku
    • Film
  • Konsultasi
  • Mitra
  • Media
  • English Version
Facebook X (Twitter) Instagram YouTube LinkedIn TikTok
  • Tentang Kami
  • Makna Logo
  • Daftar Isi
  • Tim Kami
  • Kirim Tulisan
  • Kontak Kami
  • Arsip
Facebook X (Twitter) Instagram YouTube LinkedIn TikTok
JalaStoria.idJalaStoria.id
  • Home
  • Ragam
  • Perspektif
  • Storimini
  • Sosok
  • Telaah
    • Hukum
    • Riset
    • Buku
    • Film
  • Konsultasi
  • Mitra
  • Media
  • English Version
JalaStoria.idJalaStoria.id
Home»Telaah»Film»Perjuangan Perempuan Korea dalam Menghadapi Triple Exploitation di Film Factory Complex

Perjuangan Perempuan Korea dalam Menghadapi Triple Exploitation di Film Factory Complex

Film Redaksi Jalastoria12 Januari 2026

Oleh: Laurensia Junita Della

Film dokumenter Factory Complex yang disutradarai oleh Im Heung Soon terbilang sukses dalam menggambarkan kenyataan pahit para pekerja wanita di pedesaan dan wilayah pinggiran Korea Selatan. Kebanyakan dari mereka adalah perempuan-perempuan bergaji rendah dan tidak memiliki keterampilan. Dengan mengambil latar kronologis dari 1970-an hingga 2014, film ini mendokumentasikan kesaksian para pekerja wanita yang dipermalukan dan dieksploitasi habis-habisan.

Mulai dari buruh pabrik, kasir swalayan, pramugari, hingga pekerja di call center, mereka hidup dalam kemiskinan yang tak pernah berubah. Mereka bekerja dengan mengorbankan masa depan, jiwa, dan tubuh mereka. Mereka bekerja dengan gaji kecil, meskipun dibayangi resiko kematian, pelecehan, dan trauma. Film dokumenter ini berhasil menggugah sisi kemanusiaan penonton dengan menunjukkan adegan-adegan dan narasi secara jujur dan gamblang.

Segala bentuk perlawanan dan pertahanan telah diupayakan, mulai dari mogok kerja hingga berdemo. Namun hampir semuanya berakhir dengan situasi yang memprihatinkan, bahkan tak berlebihan jika disebut tragis. Meskipun demikian, para wanita tetap tabah menjalani hidup.

Bagi mereka, bekerja bukanlah panggilan atau pilihan, melainkan tuntutan agar dapat tetap bertahan hidup. Perjuangan mereka seolah tidak memiliki harga. Di sana, bekerja hanya akan dianggap sebagai perpanjangan dari tugas mulia dari ranah domestik. Melalui film ini, para penonton dapat turut merasakan kelelahan fisik dan mental yang para pekerja wanita alami akibat tindakan eksploitatif ini, dengan sangat sempurna.

Secara umum, film ini berhasil menggambarkan realita sosial yang dihadapi oleh para pekerja perempuan pedesaan Korea. Film ini mampu membawa penonton menjadi lebih humanis dan empatis. Setiap adegan dan kesaksian mampu menggambarkan ironi kehidupan dengan sentuhan emosional yang mendalam. Sayangnya, film ini tidak memberikan analisis lebih lanjut terhadap realita tersebut. Dalam hal ini, tulisan Dong-Sook mampu melengkapinya dengan analisis yang luas dan mendalam, mengenai keterkaitan antara relasi patriarki dengan praktik eksploitasi terhadap perempuan.

Bagian kedua tulisan Dong-Sook Shin Gills yang berjudul Rural Women and Triple Exploitation in Korean Development mampu memberikan modal yang tepat untuk menganalisis film ini secara lebih lanjut. Dalam tulisan Dong-Sook, eksploitasi terhadap pekerja perempuan di Korea berawal dari konsep dan budaya patriarki yang telah mengakar secara historis di sana.

Dalam tulisan Dong-Sook, patriarki bukanlah sebuah sistem yang berdiri sendiri. Lebih dari itu, patriarki adalah relasi sosial dan logika subordinasi perempuan yang dapat masuk ke dalam segala struktur dengan cara yang luwes (Gills, 1999). Patriarki tidak selalu hadir dalam bentuk yang kasatmata. Patriarki bekerja secara halus melalui sistem pembagian peran, ketimpangan, dan cara pandang yang dinormalisasikan dalam kehidupan sehari-hari. Sehinggga kodrat sering kali menjadi kata pelarian yang paling umum agar patriarki dapat diterima dan terus diwariskan.

Transisi kapitalis telah mengubah struktur di pedesaan, namun tidak dengan relasi patriarkinya. Akibatnya, perempuan pedesaan Korea mengalami tiga lapis eksploitasi sekaligus. Dong-Sook memperkenalkan konsep Triple Exploitation pada perempuan, yang secara umum terbagi atas eksploitasi reproduksi, eksploitasi produksi kapitalisme, dan eksploitasi sosial (Gills, 1999). Berikut adalah penjelasan sederhana mengenai bagaimana ketiga jenis eksploitasi tersebut bekerja.

Sederhananya, eksploitasi reproduktif terjadi ketika ketika tubuh dan peran biologis perempuan, seperti melahirkan, mengasuh, dan merawat, dianggap sebagai suatu kewajiban alamiah. Serta ketika kealamiahan itu hidup tanpa pengakuan atau kompensasi.

Eksploitasi produktif terjadi dalam kondisi ketika perempuan dilibatkan dalam pekerjaan berupah atau aktivitas ekonomi, namun tidak dianggap sebagai pekerja secara utuh. Hal ini masih dapat ditemui di mana saja. Dalam dunia kapitalis yang berorientasi pada hasil dan pencapaian, perempuan sering kali berada dalam posisi yang kurang menguntungkan.

Berbeda dengan laki-laki, perempuan perlu menghadapi kondisi alamiah seperti menstruasi dan melahirkan. Hal inilah yang membuat perempuan dianggap tak dapat memberikan hasil yang optimal jika dibandingkan dengan laki-laki. Sehingga, sering kali, perempuan mendapat bayaran yang lebih rendah, berada di posisi rentan, atau tetap dipandang sebagai pekerja tambahan bukan pekerja secara utuh.

Kemudian, eksploitasi sosial-kultural terjadi ketika perempuan dibebani norma, moral, standar, dan tanggung jawab sosial. Perempuan dianggap harus menjaga harmoni hidup bertetangga dan bermasyarakat. Belum lagi dengan adanya standar-standar sosial yang justru membatasi otonomi serta pilihan hidupnya. Entah itu kewajiban soal pernikahan atau jumlah anak yang harus dimiliki.

Ketiga lapis ini saling bertaut dan menguatkan. Tanpa banyak disadari, hal ini membuat posisi perempuan tetap ditekan dan kesulitannya selalu disamarkan sebagai bentuk kewajaran. Factory Complex menjadi salah satu film yang sukses mendokumentasikan perjuangan pahit tersebut. Film ini sangat cocok ditonton jika ingin menyaksikan kenyataan pahit yang dihadapi oleh perempuan.

 

Penulis saat ini sebagai mahasiswa aktif yang berminat pada topik-topik mengenai tradisi, pengetahuan lokal, dan filsafat. Suka jalan-jalan dan nonton anime.

 

Sumber Rujukan:

Gills, D.-S. S. ( 1999). Rural Women and Triple Exploitation in Korean Development. Great Britain: Macmillan Press Ltd.

Share. WhatsApp Facebook Twitter LinkedIn Tumblr Email Telegram

Related Posts

Ketika Pengguna Jilbab Kini Menjadi Mayoritas

28 April 2026

Kesadaran Mengenal Identitas Diri Sebagai Perempuan

12 Februari 2026

Perlawanan Perempuan pada Takdir

12 Februari 2026

Comments are closed.

Relasi Gender di Suku Tuareg: Perempuan Tidak Bercadar, Laki-Laki yang Harus Melakukannya

9 Mei 2026

Mengecam Keras Pelaku Kekerasan yang Berlindung di Balik Otoritas Pendidikan dan Keagamaan

9 Mei 2026

Kala Split Bill Sentil Maskulinitas Pria

7 Mei 2026

Menjaga Perempuan atau Mendidik Laki-laki?

4 Mei 2026
banner jalastoria
Facebook X (Twitter) Instagram YouTube LinkedIn TikTok
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Makna Logo
  • Kirim Tulisan
© 2026 | All rights reserved

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.