Close Menu
JalaStoria.idJalaStoria.id
  • Home
  • Ragam
  • Perspektif
  • Storimini
  • Sosok
  • Telaah
    • Hukum
    • Riset
    • Buku
    • Film
  • Konsultasi
  • Mitra
  • Media
  • English Version
Facebook X (Twitter) Instagram YouTube LinkedIn TikTok
  • Tentang Kami
  • Makna Logo
  • Daftar Isi
  • Tim Kami
  • Kirim Tulisan
  • Kontak Kami
  • Arsip
Facebook X (Twitter) Instagram YouTube LinkedIn TikTok
JalaStoria.idJalaStoria.id
  • Home
  • Ragam
  • Perspektif
  • Storimini
  • Sosok
  • Telaah
    • Hukum
    • Riset
    • Buku
    • Film
  • Konsultasi
  • Mitra
  • Media
  • English Version
JalaStoria.idJalaStoria.id
Home»Perspektif»Laki-laki Bukan Mesin Penghasil Uang

Laki-laki Bukan Mesin Penghasil Uang

Perspektif jalastoria7 Juni 2020
Ilustrasi cincin kawin (pixabay/272447)

Oleh: Kennedy Jennifer Dhillon

Beberapa waktu belakangan ini, saya kerap kali mendapatkan pesan dari  teman-teman saya yang sudah menikah tentang bagaimana mereka berjuang untuk bisa tetap menjalankan hidup di tengah pandemi Covid-19. Mereka harus memikirkan bagaimana anak dan istrinya bisa tetap makan dan kebutuhan rumah tetap terpenuhi. Sungguh ini memang bukan hal yang mudah. Sudah hampir dua bulan kita semua berjuang untuk menyambung hidup di tengah wabah yang meresahkan ini.

Namun hal yang cukup membuat saya sedih adalah ketika banyak di antara mereka bercerita diperlakukan tidak baik oleh pasangannya karena tidak bisa memenuhi kebutuhan pasangan dari segi finansial. Yang mengalami ini pun tidak hanya satu orang atau  dua orang saja, tetapi banyak.

Curhatan pun berlanjut, di mana mereka bercerita bagaimana selama ini merasa tertekan dengan sikap istrinya yang menekan agar mereka menghasilkan uang lebih banyak lagi. Hal itu semata demi memenuhi pride sang istri agar dapat menyekolahkan anak di sekolah mahal, menggunakan mobil mewah, barang branded, dan gaya hidup first class.

Tentu saja saya tidak langsung memercayainya. Saya pun mencoba mencari tahu melalui interaksi dengan istri-istri mereka. Dan sangat disayangkan, ternyata menurut mereka sang suami adalah mesin penghasil uang yang harus memenuhi semua keinginan mereka. Sementara mereka sendiri tidak melakukan apa-apa, dan memiliki konsep bahwa semua tanggung jawab suami.

Okay, memang seorang suami memiliki tanggung jawab menafkahi keluarganya.  Namun bukan berarti pemahaman ini kemudian memperlakukan suami harus menjadi mesin penghasil uang untuk memenuhi semua keinginan istri. Konsep yang salah ini akhirnya menekan dan menjadi beban bagi sang suami.

Harusnya kita dapat membedakan mana yang menjadi kebutuhan dan mana keinginan. Termasuk perihal sekolah anak. Banyak dari kita terdoktrin bahwa sekolah bagus itu adalah sekolah mahal dan terkenal. Padahal, belum tentu brand yang mendunia punya kualitas yang bagus juga. Masih banyak sekolah lain dengan brand tidak terkenal dan harga terjangkau yang sebenarnya memiliki kualitas pendidikan bagus.

Begitupun dengan barang yang kita kenakan, seringkali kita berfokus pada brand tanpa memperhatikan kualitas karena kita hanya mengutamakan pride.

Sah-sah aja sih, jika seseorang ingin menggunakan barang mewah. Hidup mewah toh itu hak mereka. Namun pertanyaannya, apakah memiliki kemampuan untuk itu semua? Atau malah menekan orang lain untuk memberikan itu semua pada kita? Rasanya tidak adil juga menjadikan seseorang mesin penghasil uang untuk memenuhi keinginan kita. Sebagaimana sebaliknya, juga tidak adil menjadikan seseorang sebagai mesin penghasil anak atau pelayan di rumah.

Saya pribadi punya konsep bahwa pernikahan itu adalah team work, di mana kita tinggal dalam satu atap yang sama untuk merajut kehidupan. Dengan demikian, keduanya harus memiliki kontribusi. Saya punya konsep, kelak ketika saya menikah saya ingin segala sesuatunya bisa saya tanggung bersama dengan suami. Biaya anak ya 50:50, kebutuhan rumah 50:50, urus rumah bersama, mendidik anak bersama, dst. Toh kita kan hidup bersama! Bagi saya tidak adil menekan satu pihak atau menjadi pihak yang ditekan dalam menjalankan sebuah tanggung jawab yang seharusnya digarap bersama.

Mau hidup mewah? Buat saya ya kerja keras. Jangan berharap pada orang lain, even suami sendiri!

Seringkali orang mengatakan tidak bahagia dengan pernikahannya. Setelah ditelusuri, sebenarnya penyebab ketidakbahagiaan itu adalah konsep pernikahan yang salah. Oleh karena itu, sebaiknya sebelum menikah segala sesuatunya benar-benar dibicarakan dengan matang bersama pasangan, mulai dari prinsip-prinsip, rules, dsb. Dan satu hal yang harus ditanamkan bahwa pasangan kita bukan mesin penghasil keinginan kita, baik itu keinginan uang, anak, maupun lainnya.

Oleh karena itu, sebagaimana laki-laki bukan mesin penghasil uang, demikian juga perempuan bukanlah mesin penghasil anak dan pelayan rumah tangga. Saya mencoba adil sejak dalam pikiran saya, karena saya juga telah menulis mengenai perempuan bukan mesin penghasil anak dan juga bukan babu. Ini merupakan keresahan saya, bahwa budaya patriarki tidak hanya menekan perempuan melainkan juga laki-laki.[]

 

Penulis dan Sutradara Film

 

Antidiskriminasi Budaya patriarki kesetaraan gender Perkawinan Rumah Tangga Suami istri
Share. WhatsApp Facebook Twitter LinkedIn Tumblr Email Telegram

Related Posts

Kala Split Bill Sentil Maskulinitas Pria

7 Mei 2026

Menjaga Perempuan atau Mendidik Laki-laki?

4 Mei 2026

Teror terhadap Perempuan Pembela HAM dan Erosi Kebebasan Berpendapat

28 April 2026

Comments are closed.

Relasi Gender di Suku Tuareg: Perempuan Tidak Bercadar, Laki-Laki yang Harus Melakukannya

9 Mei 2026

Mengecam Keras Pelaku Kekerasan yang Berlindung di Balik Otoritas Pendidikan dan Keagamaan

9 Mei 2026

Kala Split Bill Sentil Maskulinitas Pria

7 Mei 2026

Menjaga Perempuan atau Mendidik Laki-laki?

4 Mei 2026
banner jalastoria
Facebook X (Twitter) Instagram YouTube LinkedIn TikTok
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Makna Logo
  • Kirim Tulisan
© 2026 | All rights reserved

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.