Oleh: Ikfanny Alfi Muhibbah Shalihah
Tulisan ini berawal dari keresahan dan kesadaran kritis untuk menelaah secara empiris terkait bentuk cinta yang kerap menempatkan perempuan dalam posisi sabar menunggu, memaklumi, memaafkan dan merawat luka emosional laki-laki dalam korelasinya terhadap hubungan antar gender. Posisi semacam ini pasti semua orang, terlepas dari gender, tidak menyukai dan tidak ingin menempatinya.
Perempuan diminta untuk memahami luka laki-laki tanpa ruang untuk menyuarakan luka mereka sendiri. Akibatnya, pengalaman dan perasaan perempuan pun tidak diberi ruang yang setara untuk diungkapkan dan diproses. Ketimpangan ini mengindikasikan adanya stereotip dan ketidaksetaraan gender yang tak jarang masih muncul dalam hubungan percintaan.
Representasi seperti ini dapat kita temukan pada karakter Rangga dalam film layar lebar Indonesia Ada Apa dengan Cinta? (2002), Ada Apa dengan Cinta? 2 (2016), serta Rangga & Cinta: The Rebirth of Ada Apa dengan Cinta? (2025) yang diproduksi di bawah bendera Miles Films sebagai rumah produksi utama. Selanjutnya, ada kalanya akan disebut sebagai AADC?, AADC? 2, serta Rangga & Cinta dalam tulisan ini.
Karakter Rangga digambarkan sebagai laki-laki yang menghilang tanpa penjelasan, lalu kembali setelah empat belas tahun dengan luka yang belum selesai, sedangkan karakter perempuan bernama Cinta, diminta untuk memahami dan memaafkan perlakuan Rangga terhadapnya. Pengaruh nilai dan pesan yang disampaikan oleh Cinta dan Rangga beserta karakter lainnya secara visual, emosional, dan budaya, khususnya Indonesia, justru menarik untuk kita telaah secara kritis agar penggambaran cinta yang lebih setara dan sehat, bisa terus berkembang dalam ruang publik dan sinema.
Rangga dan Maskulinitas Melankolis: Romantis atau Red Flag?
Karakter Rangga dalam ketiga film ini merepresentasikan maskulinitas melankolis yang dipersepsikan sebagai pribadi romantis dan cerdas secara intelektual. Studi Hassan (2025) menyebut fenomena ini sebagai melancholic masculinity, yaitu bentuk maskulinitas yang menolak kekuatan fisik dengan tetap dominan secara emosional dan simbolik. Karakter Rangga tampil sebagai sosok introvert yang cenderung suka menyendiri dan menjauh dari keramaian, pendiam, puitis, kritis terhadap sistem sosial, serta menyimpan luka batin.
Rangga tidak bersikap agresif, tetapi tetap mengontrol arah hubungannya dengan cinta. Karakter seperti Rangga ini dianggap “romantis” dan “layak ditunggu” dalam budaya patriarki, seolah-olah ketidakhadiran dan keengganan untuk berbicara menjadi simbol kedalaman secara emosional dan intelektual dari seorang laki-laki. Daya tarik karakter Rangga menunjukkan cara sinema membingkai karakter “red flag” sebagai sosok yang romantis, selagi penggambaran karakternya dibalut dengan simbol kecerdasan intelektual dan kompleksitas emosional.
Narasi Film dan Ketimpangan Gender: Siapa yang Menggerakkan Konflik?
Karakter Rangga menunjukkan perilaku menghindar dan kurang komunikatif, tetapi narasi film justru meromantisasi sikap tersebut sebagai bentuk dari kompleksitas cinta. Menurut studi Rusputranto P. A dan Primadewi (2022), struktur naratif AADC? menempatkan karakter Rangga sebagai penggerak konflik. Berkaitan dengan itu, Nugroho dan Oktaviani (2017) menyebutkan bahwa dalam AADC? 2, karakter Rangga tetap mempertahankan pola “laki-laki sulit dijangkau” yang justru memperkuat daya tariknya dalam cerita.
Ketika Rangga di AADC? (2002) menghilang tanpa penjelasan dan kembali setelah empat belas tahun pada AADC? 2 (2016), penggambaran melalui film sama sekali tidak mengkritik perilaku tersebut. Alih-alih dikritisi, tindakan Rangga tersebut justru dijadikan sebagai momen penting yang menggerakkan emosi dan alur film AADC? 2 sehingga menjadi titik balik (turning point) secara emosional. Hal ini memperkuat pola hubungan tidak setara bergaya patriarki, yakni ketika perempuan menjadi pihak yang sabar menunggu dan memaafkan. Representasi karakter Rangga dengan memperlihatkan stereotip gender yang tidak sehat melalui romantisasi ketidakhadiran dan dominasi emosional dari tokoh laki-laki, berpotensi salah persepsi jika tidak dipahami dengan bijak oleh penonton, meski tujuannya untuk mengedukasi agar terhindari dari hubungan yang demikian itu.
Maskulinitas Asia Tenggara: Lembut, tetapi Tetap Patriarkis?
Karakter Rangga digambarkan sebagai representasi maskulinitas alternatif, yaitu laki-laki yang tidak agresif, lebih pendiam, dan puitis, sekaligus tetap sesuai kerangka budaya patriarki dengan menempatkan laki-laki sebagai pihak yang lebih berkuasa. Studi Mwedzi (2021) menunjukkan bahwa ketika karakter laki-laki dalam film digambarkan sebagai individu yang emosional ataupun pasif, mereka tetap mempertahankan kendali naratif dan menempatkan perempuan sebagai penjaga emosi atau kompas moral. Temuan ini sejalan dengan representasi karakter seperti Rangga, yang digambarkan sebagai laki-laki pendiam dan terluka, tetapi tetap menjadi pusat narasi dan menuntut pemakluman dari karakter Cinta sebagai perempuan.
Karakter laki-laki yang demikian mungkin tidak menunjukkan kekuasaan secara fisik, tetapi tetap menjadi pusat cerita dan pengambil keputusan dalam hubungan. Rangga adalah contoh dari maskulinitas melankolis; seperti yang telah disebutkan di awal, yaitu bentuk maskulinitas alternatif yang menonjolkan kesedihan, keheningan, dan luka batin sebagai daya tarik. Tidak tampil dominan secara fisik, tetapi Rangga tetap mengatur arah hubungannya dengan Cinta sehingga ia yang memutuskan waktunya hadir, waktunya bicara, dan cara konfliknya dengan Cinta diselesaikan. Ambiguitas karakter Rangga ini, perlu kita telaah secara kritis dalam kaitannya terhadap representasi laki-laki “puitis” yang tampak progresif, tetapi tetap mempertahankan pola hubungan yang tidak sehat (toxic relationship).
Representasi karakter Rangga juga tidak bisa dilepaskan dari latar sosial budaya tentang maskulinitas di Asia Tenggara, terutama di Indonesia. Studi oleh Hussin dan Paidi (2022) menunjukkan bahwa maskulinitas di kawasan ini sering dikaitkan dengan sifat “halus”, serta kemampuan mengendalikan emosi sebagai tanda kehormatan dan kedewasaan laki-laki. Rangga, yang digambarkan sebagai sosok tenang dan penuh pertimbangan, mencerminkan nilai-nilai lokal tersebut, termasuk kecenderungan untuk menghindari konfrontasi langsung.
Faktanya, sikap seperti karakter Rangga ini, juga bisa disalahartikan sebagai cara untuk menghindari tanggung jawab emosional dalam hubungan. Karakter Rangga memperlihatkan bagaimana nilai-nilai lokal tentang laki-laki berpadu dengan pengaruh global, sehingga membentuk gambaran maskulinitas yang kompleks, yaitu di satu sisi terlihat lembut, tetapi tetap menyimpan pola patriarki yang tidak selalu disadari.
Tiga Posisi Perempuan: Terpesona, Sadar, dan Menolak
Tidak semua perempuan tunduk pada pesona maskulinitas melankolis seperti yang ditunjukkan oleh karakter Rangga. Sebagian memang sempat terpesona oleh sikap Rangga yang tenang, puitis, dan tampak penuh pertimbangan, tetapi akhirnya menyadari bahwa hubungan semacam itu tidak selalu sehat. Sebagian lainnya, sejak awal tidak merasa terhubung dengan karakter Rangga karena menyadari adanya ketimpangan dalam cara ia membangun hubungan dengan Cinta. Persepsi ini sejalan dengan studi Mahadi (2025) yang menunjukkan bahwa perempuan menggunakan strategi bahasa dan narasi untuk melawan dominasi laki-laki dalam relasi.
Studi ini diperkuat oleh Rizvi (2025) dengan menegaskan bahwa perempuan yang menolak untuk memikul beban emosional laki-laki berkarakter silent broading male, yaitu sikap diam, penarikan diri, atau penolakan terhadap ketimpangan relasi, justru sedang menegaskan agensi mereka dalam ruang naratif yang selama ini didominasi oleh suara laki-laki. Sejalan dengan itu, Åhäll (2012) menjelaskan bahwa ketika perempuan digambarkan sebagai pahlawan, narasi tersebut menjadi bentuk agensi yang penting. Representasi ini menantang stereotip gender yang selama ini melekat pada perempuan sehingga memposisikan perempuan sebagai sosok yang pasif, terbatas pada peran merawat, serta dianggap tidak layak terlibat dalam urusan politik maupun ruang publik.
Karakter seperti Rangga memang bisa tampak menarik bagi sebagian orang karena ia berbeda dari laki-laki yang dominan secara fisik. Rangga terlihat sensitif, cerdas, dan tidak banyak bicara. Ketika perempuan mulai menyadari bahwa Rangga tetap mengatur arah hubungan berupa memutuskan waktu kehadiran, waktu bicara, dan cara konfliknya dengan Cinta diselesaikan, pesona itu berubah menjadi kesadaran kritis. Hal berbeda ditunjukkan oleh perempuan yang sejak awal tidak merasa cocok dengan karakter seperti Rangga sehingga ia menunjukkan kemampuan untuk mengenali pola toxic relationship, yaitu ketika komunikasi tidak terbuka dan tanggung jawab emosional tidak dibagi secara adil antara perempuan dan laki-laki.
Perempuan dengan persepsi tersebut juga langsung menolak karakter seperti Rangga. Hal ini karena ia menyadari bahwa keheningan dan luka batin yang tidak dibicarakan bukanlah tanda kedalaman emosional, melainkan bentuk penghindaran. Ketiga posisi ini, mulai dari yang terpesona lalu sadar, tidak pernah merasa cocok, hingga perempuan yang menolak sejak awal; adalah bentuk nyata dari feminist agency.
Feminist Agency dan Cinta yang Setara
Feminist agency sendiri merujuk pada kemampuan perempuan untuk membuat pilihan secara sadar, kritis, dan mandiri dalam menghadapi situasi sosial maupun hubungan personal. Definisi ini sesuai dengan studi Lund (2025) yang menekankan bahwa teori feminis tentang agensi menyoroti kapasitas perempuan untuk bertindak secara sadar dan reflektif dalam struktur sosial yang ada. Teori ini selaras dengan pentingnya hubungan yang setara antar gender. Menolak karakter laki-laki yang tidak terbuka secara emosional bukan berarti tidak romantis, melainkan bentuk keberanian untuk keluar dari pola hubungan yang timpang sehingga bisa terhindar dari toxic relationship. Lebih jauh, feminist agency bukan hanya soal menolak laki-laki tertentu, melainkan juga tentang membangun hubungan yang sehat (healthy relationship), terbuka, dan saling menghargai, serta mengkritisi stereotip gender yang sering menempatkan perempuan di posisi tidak setara dalam hubungan.
Narasi feminist agency ini sangat perlu untuk diperluas dalam film dan ruang diskusi publik, agar perempuan tidak terus-menerus dibebani peran tidak setara tersebut sehingga menempatkannya sebagai pihak yang harus selalu sabar menunggu, memaklumi, memaafkan, dan menyesuaikan diri terhadap laki-laki yang tidak memberi kepastian dalam hubungan. Posisi seperti ini, sebagaimana telah diuraikan sejak awal melalui karakter Rangga dalam AADC? (2002), AADC? 2 (2016), serta Rangga & Cinta (2025), bukanlah posisi yang nyaman dan tidak adil untuk siapa pun, terlepas dari gender.
Ketika perempuan memilih untuk menyadari ketimpangan tersebut, menolak hubungan yang membingungkan, ataupun tidak pernah merasa cocok dengan karakter seperti Rangga, tindakan tersebut bukan sekadar penolakan personal terhadap stereotip gender. Secara lebih luas, tindakan ini sekaligus merepresentasikan perubahan cara pandang terhadap cinta dan kesetaraan gender (gender equality) sehingga terbentuklah healthy relationship. Cinta yang setara dalam hubungan sehat adalah cinta yang tidak menempatkan satu pihak dengan peran menunggu dan pihak lain sebagai penentu arah hubungan.
Penulis adalah seorang Female Storyteller yang Peduli terhadap Gender Equality, Sustainability, dan Public Policy
Identitas Film
Berikut identitas dari tiga film layar lebar Indonesia Ada Apa dengan Cinta? (2002), Ada Apa dengan Cinta? 2 (2016), serta Rangga & Cinta: The Rebirth of Ada Apa dengan Cinta? (2025).
| Ada Apa denga Cinta? | Sutradara: Rudi Soedjarwo, Produser: Mira Lesmana, Riri Riza, Penulis Skenario: Jujur Prananto, Prima Rusdi, Rako Prijanto, Pemeran Utama: Dian Sastrowardoyo (Cinta), Nicholas Saputra (Rangga) | Rumah Produksi: Miles Films, Tanggal Rilis: 7 Februari 2002, Durasi: 112 menit, Negara: Indonesia, Bahasa: Indonesia |
| Ada Apa dengan Cinta? 2 | Sutradara: Riri Riza, Produser: Mira Lesmana, Penulis Skenario: Mira Lesmana, Prima Rusdi, Cerita: Mira Lesmana, Pemeran Utama: Dian Sastrowardoyo (Cinta), Nicholas Saputra (Rangga) | Rumah Produksi: Miles Films, Legacy Pictures, Primeworks Distribution, Tanakhir Films, Tanggal Rilis: 28 April 2016, Durasi: 124 menit, Negara: Indonesia, Bahasa: Indonesia
|
| Rangga & Cinta: The Rebirth of Ada Apa dengan Cinta? | Sutradara: Riri Riza, Produser: Mira Lesmana, Nicholas Saputra, Toto Prasetyanto, Penulis Skenario: Mira Lesmana, Titien Wattimena, Genre: Drama musikal romantis, Pemeran Utama: El Putra Sarira (Rangga), Leya Princy (Cinta)
|
Rumah Produksi: Miles Films, Surya Citra Media, Trinity Entertainment, Jagartha, Dwidaya Amadeo Gemintang, Barunson E&A, Imajinari Productions, Primeworks Studios, Tanggal Rilis: 2 Oktober 2025, Durasi: 119 menit, Negara: Indonesia, Bahasa: Indonesia
|
Referensi
Åhäll, L. (2012). The writing of heroines: Motherhood and female agency in political violence.
Security Dialogue, 43(4), 287–303. http://www.jstor.org/stable/26301918
Hassan, M. (2025). Masculinity in flux: Media representations and the shaping of gender norms
across cultural contexts. International Journal of Research and Innovation in Social
Science, 9(2), 2400–2404. https://doi.org/10.47772/IJRISS.2025.9020188
Hussin, H., & Paidi, R. (2022). Special review 365. The Review of Korean Studies, 25(2),
365–380. https://doi.org/10.25024/review.2022.25.2.365
Lund, R. (2025). Feminist Theories of Agency and Emotion in Academia: A Feminist Historical
Materialist Reading. Sociologica, 19(2), 139–154.
https://doi.org/10.6092/issn.1971-8853/20936
Mahadi, E. M. M. (2025). Pola bahasa perempuan melawan dominasi laki-laki melalui
konversasi dalam talk show publik [Women’s language pattern against male domination
through conversation in public talk shows]. Cantrik: Jurnal Ilmiah Ilmu Komunikasi, 5(1),
49–64. https://doi.org/10.20885/cantrik.vol5.iss1.art4
Mwedzi, D. (2021). On subversion: A critical assessment of the male gaze in contemporary film
and video games. Liberated Arts: A Journal for Undergraduate Research, 8(1), 1–9.
https://ojs.lib.uwo.ca/index.php/lajur/article/view/13515
Nugroho, S., & Oktaviani, D. (2019). Perubahan Karakter Rangga Sebagai Salah Satu Bentuk
Proses Kreatif Mira Lesmana Dalam Film Ada Apa dengan Cinta 2 (2016). Rekam, 13(2),
107-118. https://doi.org/10.24821/rekam.v13i2.1937
Rizvi, Q. (2025). Negotiating silence: A comparative study of female agency in Shashi
Deshpande’s That Long Silence and Anita Desai’s Fasting, Feasting. International Journal
of English Literature and Social Sciences, 10(1), 18–24.
https://doi.org/10.22161/ijels.101.3. ISSN: 2456-7620
Rusputranto P. A, A., & Primadewi, N. (2022). Naratologi film Ada Apa Dengan Cinta?.
Brikolase: Jurnal Kajian Seni, 14(2), 238–252. https://doi.org/10.33153/brikolase.v13i1.3356

