Close Menu
JalaStoria.idJalaStoria.id
  • Home
  • Ragam
  • Perspektif
  • Storimini
  • Sosok
  • Telaah
    • Hukum
    • Riset
    • Buku
    • Film
  • Konsultasi
  • Mitra
  • Media
  • English Version
Facebook X (Twitter) Instagram YouTube LinkedIn TikTok
  • Tentang Kami
  • Makna Logo
  • Daftar Isi
  • Tim Kami
  • Kirim Tulisan
  • Kontak Kami
  • Arsip
Facebook X (Twitter) Instagram YouTube LinkedIn TikTok
JalaStoria.idJalaStoria.id
  • Home
  • Ragam
  • Perspektif
  • Storimini
  • Sosok
  • Telaah
    • Hukum
    • Riset
    • Buku
    • Film
  • Konsultasi
  • Mitra
  • Media
  • English Version
JalaStoria.idJalaStoria.id
Home»Storimini»Menemukan Kedamaian Diri: Pengalaman Anak Perempuan Korban Kekerasan Seksual

Menemukan Kedamaian Diri: Pengalaman Anak Perempuan Korban Kekerasan Seksual

Storimini Redaksi Jalastoria3 September 2025
Ilustrasi (Sumber: Freepik.com/redgreystock)

Oleh: Denta Rizkiani Oktavia

Setiap hari timeline berita saya dipenuhi oleh berita-berita pilu dari korban pemerkosaan yang ternyata pelaku kebanyakan adalah orang terdekat korban. Berdasarkan data dari Simfoni PPPA, terdapat 19.222 jumlah kasus kekerasan yang terjadi pada tahun 2025. 4.023 kasus yang menimpa korban laki-laki dan 16.563 kasus yang menimpa korban perempuan. Selain itu Catatan Tahunan (CATAHU) yang dipublikasi oleh Komnas Perempuan mencatat kekerasan terhadap perempuan pada tahun 2024 yaitu berjumlah 445.502 dengan bentuk kekerasan yang paling tinggi adalah kekerasan seksual yaitu 36,43 %.

Data oleh Simfoni PPA juga menunjukan bahwa kasus kekerasan banyak terjadi di sektor rumah tangga. Ayah memperkosa anak, kakak memperkosa adik, paman memperkosa keponakan, kakek memperkosa cucu, dan masih banyak kasus lainnya. Dampak kekerasan seksual yang terjadi pada usia anak akan sangat mempengaruhi kehidupan perempuan di masa dewasa, dimulai dari gangguan stres yang berkepanjangan yang dapat menyebabkan kecemasan dan depresi. Tulisan ini berisi pengalaman dari seorang anak perempuan yang tumbuh besar dengan trauma yang menancap di hatinya serta ketakutan yang tidak pernah hilang dari ingatannya.

Sintia (Nama Samaran) mungkin hanya salah satu dari sekian banyak korban yang tidak terekspos oleh media mana pun, kisahnya bisa menjadi pembelajaran untuk kita semua bahwa anak perempuan kita, bisa dalam keadaan bahaya sekarang ini, waspadai seluruh orang terdekat karena siapa pun bisa menjadi pelaku kejahatan seksual.

Sintia, remaja perempuan berusia 19 tahun yang tumbuh bersama dengan trauma masa lalu yang terus menghantui dirinya. Sintia adalah korban kekerasan seksual semasa kecil yang dilakukan oleh keluarga dekatnya sendiri. Pada sosok Sintia, kita akan memahami perasaan korban pemerkosaan yang mungkin tidak banyak dibicarakan atau bahkan dipedulikan oleh masyarakat.

Pengalaman Sintia

“Saya tidak mengingat betul kejadian itu seperti apa, tapi saya ingat sekali apa yang terjadi pada saya,” ungkap Sintia.

Sintia kecil tidak mengerti apa yang terjadi dengan dirinya dan tidak pernah tahu bahwa ia telah menjadi korban pemerkosaan. Setelah ia tumbuh dewasa, ia paham betul dengan apa yang sudah terjadi, potongan-potongan ingatan di masa lalu terus menghantuinya hingga ia dewasa.

“Saya tidak bisa mengakui apa yang saya rasakan pada siapa pun, mamah saya atau papah saya. Semua kejadian itu terjadi dengan begitu cepat dan dilupakan dengan begitu cepat pula,” Ucap Sintia.

“Saya juga tidak mau membuka luka lama keluarga saya, yang terjadi biarlah terjadi, apa yang saya rasakan saat ini biarlah jadi masalah yang saya tanggung sendiri, yang saya sesali hingga detik ini adalah kejadian tersebut benar-benar terjadi pada saya dan saya merupakan seorang korban pemerkosaan. Itu adalah hal yang paling sedih dan tidak bisa saya lupakan seumur hidup saya. Saya takut, saya trauma, bahkan saya merasa terkadang Tuhan tidak adil pada saya. Apa salah saya? Kenapa semua ini harus terjadi pada saya? Apakah itu takdir yang telah diberikan yang maha kuasa kepada saya? Terkadang saya masih mempertanyakan hal tersebut,” lanjutnya.

Pada saat itu ia masih berusia tujuh tahun dan menjadi siswa kelas satu Sekolah Dasar (SD). kehidupan masa kecilnya sangatlah terbilang normal, ia bermain dengan teman-teman seusianya, belajar matematika yang tidak pernah ia sukai, bermain petak umpet di siang hari, dan pulang dengan bau keringat yang menyengat di tubuhnya karena terlalu banyak berlarian di lapangan. Kehidupan normalnya tersebut tidak bertahan lama, ketika seorang laki-laki dewasa membawanya ke kamar tidur, menyentuhnya dari ujung kepala hingga ujung kaki, dan memperlakukannya bagai seorang istri.

“Saya tidak akan menyebutkan siapa pelaku tersebut, karena jujur saya merasa malu, saya merasa sakit ketika mengingatnya, saya merasa jijik dan ingin muntah. Namun, yang jelas pelaku tersebut tidak benar-benar pergi dari hidup saya, ia terus ada di sekitar saya bahkan hingga saat ini. Saya tidak pernah lupa bagaimana lelaki itu menyentuh saya, ketika saya sedang merasa stres dan tertekan, memori kejadian itu berputar di kepala saya dan pada saat itu juga saya ingin menyakiti diri saya sendiri. Seperti membenturkan kepala saya ke dinding atau menampar pipi saya dengan keras agar saya lupa,” Ujar Sintia.

“Mamah saya tahu, namun ia melarang saya untuk membicarakan hal ini kepada siapa pun. Pada saat itu ia menangis tersedu-sedu, memeluk erat dan mencium dahi saya. Semenjak kejadian itu, mamah sangat over protektif pada saya dan tidak akan membiarkan saya sendirian lagi. Namun, semuanya sudah terjadi, tidak ada yang bisa dilakukan lagi,” Ucapnya.

Sintia tidak pernah menyalahkan mamanya atas apa yang dilakukannya, ia sangat mengerti bahwa tidak mudah untuknya mengetahui bahwa gadis kecilnya telah menjadi korban pemerkosaan. Belum lagi pandangan masyarakat terhadap korban pemerkosaan sangatlah menakutkan. Sintia paham dengan perasaan mamanya. Pada saat itu, rasa malu dan bingung pasti terus menghantuinya. Tidak mudah untuk mamanya memberitahukan kepada semua orang tentang yang terjadi pada gadis kecilnya, mungkin itu juga menjadi salah satu bentuk perlindungan kepada Sintia, itulah yang dipikirkan Sintia.

Sintia mengaku bahwa mungkin sekarang ini orang tuanya sudah lupa dengan kejadian masa lalu yang memilukan, namun dirinya tidak akan pernah lupa. Kejadian tersebut akan terus menjadi bagian dari hidupnya, masa lalunya yang runyam, dan harus ia telan walau terasa pahit dan menyakitkan. Ia berusaha berdamai dengan dirinya sendiri atau bahkan dengan pelaku yang masih terus berkeliaran di sekitarnya.

“Saya tidak merasakan apapun lagi sekarang. Sedih? Tidak juga. Saya merasa telah mati rasa dan membiarkan Tuhan yang berkehendak. Bukankah semua terjadi atas kehendak Nya? Saya tidak tahu, terkadang saya tidak mengerti dengan semua ini,” ucap Sintia.

Ia hanya berharap peristiwa yang pernah terjadi padanya di masa lalu bisa menjadi pembelajaran untuk orang-orang di sekitarnya. Ia meminta kepada seluruh orang tua untuk menjaga anak-anak mereka dari siapa pun, memperhatikan mereka setiap saat, dan mengajarkan kepada mereka terhadap batasan-batasan sentuhan yang bisa dilakukan oleh orang lain. Tidak boleh ada korban lagi setelahnya, tidak boleh ada anak yang merasakan apa yang Sintia sudah rasakan. Semuanya itu harus berakhir padanya, Sintia harap begitu.

“Saya selalu ingin menjadikan kisah saya abadi pada sebuah buku. Namun, saya merasa malu untuk menulisnya, dan mungkin sekarang, setelah tulisan ini terbit, kisah saya akan benar-benar bisa abadi walau tidak dituliskan nama pribadi saya di dalamnya,” Ujar Sintia.

 

Kisah ini sudah mendapat persetujuan dari yang bersangkutan, dibagikan sebagai edukasi.

Penulis kerap dipanggil Denta, adalah seorang mahasiswi sains komunikasi yang berkuliah di salah satu kampus swasta di Bogor.

 

 

Share. WhatsApp Facebook Twitter LinkedIn Tumblr Email Telegram

Related Posts

Perlunya Dukungan Keluarga terhadap Perempuan Tulang Punggung Keluarga

3 April 2026

Maskulinitas Jalan Raya dalam Perspektif Pengendara Motor Perempuan

3 April 2026

Pernikahan Merenggut Identitas Perempuan

3 Maret 2026

Comments are closed.

Relasi Gender di Suku Tuareg: Perempuan Tidak Bercadar, Laki-Laki yang Harus Melakukannya

9 Mei 2026

Mengecam Keras Pelaku Kekerasan yang Berlindung di Balik Otoritas Pendidikan dan Keagamaan

9 Mei 2026

Kala Split Bill Sentil Maskulinitas Pria

7 Mei 2026

Menjaga Perempuan atau Mendidik Laki-laki?

4 Mei 2026
banner jalastoria
Facebook X (Twitter) Instagram YouTube LinkedIn TikTok
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Makna Logo
  • Kirim Tulisan
© 2026 | All rights reserved

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.