Oleh: Siti Nuraida
Pernahkah kamu berdiri di lorong supermarket, memandangi dua buah pisau cukur yang diletakkan berdampingan? Yang satu berwarna biru tua dengan label “Man”, dan yang lainnya berwarna merah muda lembut dengan label “Women”. Jika Anda melihat lebih teliti pada label harganya, sering kali versi merah muda memiliki harga yang lebih mahal, meskipun fungsi, bahan, dan kualitasnya identik. Inilah yang disebut dengan Pink Tax atau “Pajak Merah Muda”.
Fenomena ini bukan sekadar masalah selisih harga seribu atau dua ribu rupiah. Ini adalah manifestasi dari diskriminasi sistemik yang merasuk ke dalam dompet dan ruang hidup kita, menciptakan beban ekonomi tambahan bagi perempuan dalam masyarakat yang secara bersamaan masih sering memberikan upah lebih rendah kepada mereka.
Pajak Tak Kasat Mata pada Label Merah Muda
Pink Tax adalah bentuk diskriminasi harga berbasis gender di mana produk yang dipasarkan kepada perempuan cenderung lebih mahal daripada produk serupa untuk laki-laki. Mulai dari pemotong kuku, sampo, hingga jasa laundry jas; perempuan sering kali harus membayar lebih untuk kebutuhan yang sama.
Masalahnya menjadi semakin pelik ketika kita melihat produk-produk esensial seperti pembalut dan kebutuhan sanitasi lainnya. Di banyak negara, produk ini sempat dikategorikan sebagai “barang mewah” dan dikenakan pajak tambahan, sementara barang-barang seperti Viagra justru mendapatkan subsidi atau keringanan pajak. Ini menunjukkan sebuah ironi yang menyakitkan: biologi perempuan dianggap sebagai beban finansial yang bisa dimonetisasi oleh pasar.
Diskriminasi ini bersifat akumulatif. Jika seorang perempuan membayar 7% hingga 13% lebih mahal untuk setiap barang yang ia beli sepanjang hidupnya, bayangkan berapa banyak modal yang hilang yang seharusnya bisa digunakan untuk investasi, pendidikan, atau jaminan hari tua.
Namun, diskriminasi tidak berhenti pada harga barang. Mari kita bicara tentang desain dunia kita. Dalam bukunya yang fenomenal, Invisible Women, Caroline Criado Perez mengungkapkan bagaimana hampir semua hal di dunia ini—mulai dari ukuran ponsel, suhu ruangan kantor, hingga desain keamanan mobil—dirancang berdasarkan data laki-laki (rata-rata tinggi 175 cm dan berat 70 kg).
Ambil contoh pengujian keamanan mobil (crash test). Selama berpuluh-puluh tahun, boneka uji coba tabrakan dirancang mengikuti proporsi tubuh laki-laki standar. Akibatnya, perempuan yang terlibat dalam kecelakaan mobil memiliki risiko cedera serius yang jauh lebih tinggi karena sabuk pengaman dan kantong udara tidak dirancang untuk anatomi mereka. Ini bukan sekadar ketidaknyamanan; ini adalah diskriminasi yang membahayakan nyawa.
Hal yang sama terjadi di dunia medis. Banyak obat-obatan diuji coba terutama pada subjek laki-laki karena hormon perempuan dianggap “terlalu rumit” untuk variabel penelitian. Akibatnya, perempuan sering kali mengalami efek samping yang lebih parah atau dosis yang tidak tepat karena dunia medis menganggap tubuh laki-laki adalah representasi mutlak dari spesies manusia.
Algoritma dan Bias Kecerdasan Buatan
Di era digital, diskriminasi ini bertransformasi menjadi kode-kode pemrograman. Kita melihat bagaimana algoritma rekrutmen AI sering kali secara otomatis menyaring kandidat perempuan karena data historis yang digunakan untuk “melatih” AI tersebut berasal dari masa di mana laki-laki mendominasi posisi kepemimpinan.
Begitu juga dengan teknologi pengenalan suara. Pernahkah Anda merasa asisten virtual seperti Siri atau Google Assistant lebih sulit mengenali suara perempuan dibandingkan suara laki-laki? Itu terjadi karena sistem tersebut dilatih lebih banyak menggunakan data suara laki-laki. Kita sedang membangun masa depan dengan alat-alat yang, secara teknis, masih memandang satu gender sebagai “standar” dan gender lainnya sebagai “pengecualian”.
Diskriminasi berbasis gender dalam bidang ekonomi dan desain infrastruktur adalah bukti bahwa kesetaraan tidak bisa dicapai hanya dengan slogan. Kita membutuhkan perubahan kebijakan yang radikal. Kita membutuhkan undang-undang yang melarang diskriminasi harga berbasis gender dan regulasi yang mewajibkan penggunaan data yang inklusif dalam setiap penelitian dan desain produk.
Bagi kita sebagai konsumen, langkah pertama adalah menjadi kritis. Berhenti membeli produk yang memberlakukan Pink Tax dan mulai mendukung merek-merek yang transparan dalam harga. Bagi para pembuat kebijakan, sudah saatnya melihat bahwa infrastruktur publik—mulai dari transportasi hingga fasilitas kesehatan—harus bisa diakses dengan aman oleh semua orang, tanpa kecuali.
Pada akhirnya, menghapus diskriminasi gender berarti mengakui bahwa tidak ada yang disebut “manusia standar”. Setiap individu memiliki kebutuhan, anatomi, dan tantangan yang berbeda. Dunia yang adil bukanlah dunia yang memaksakan keseragaman, melainkan dunia yang menghargai keberagaman kebutuhan manusia.
Kita harus berhenti memperlakukan kebutuhan perempuan sebagai “biaya tambahan” atau “masalah sekunder”. Ketika kita merancang dunia yang aman bagi perempuan, dunia tersebut secara otomatis akan menjadi lebih aman dan adil bagi semua orang—termasuk laki-laki, lansia, dan anak-anak. Menghapus Pink Tax dan bias data bukan hanya soal uang atau efisiensi; ini adalah soal menghargai martabat manusia di atas keuntungan jangka pendek.
Penulis adalah seorang Freelancer dan sangat peduli dengan kesenjangan sosial perempuan

