Close Menu
JalaStoria.idJalaStoria.id
  • Home
  • Ragam
  • Perspektif
  • Storimini
  • Sosok
  • Telaah
    • Hukum
    • Riset
    • Buku
    • Film
  • Konsultasi
  • Mitra
  • Media
  • English Version
Facebook X (Twitter) Instagram YouTube LinkedIn TikTok
  • Tentang Kami
  • Makna Logo
  • Daftar Isi
  • Tim Kami
  • Kirim Tulisan
  • Kontak Kami
  • Arsip
Facebook X (Twitter) Instagram YouTube LinkedIn TikTok
JalaStoria.idJalaStoria.id
  • Home
  • Ragam
  • Perspektif
  • Storimini
  • Sosok
  • Telaah
    • Hukum
    • Riset
    • Buku
    • Film
  • Konsultasi
  • Mitra
  • Media
  • English Version
JalaStoria.idJalaStoria.id
Home»Perspektif»Menggugat Weaponized Incompetence dan Kesenjangan Kesehatan Gender

Menggugat Weaponized Incompetence dan Kesenjangan Kesehatan Gender

Perspektif Redaksi Jalastoria10 Februari 2026

Oleh: Siti Nuraida

Pernahkah Anda melihat seorang suami yang mengaku tidak tahu cara menyalakan mesin cuci, atau seorang ayah yang berkata ia “tidak becus” memakaikan baju anak sehingga akhirnya sang istri yang mengambil alih tugas tersebut? Di permukaan, ini tampak seperti masalah sepele atau sekadar banyolan rumah tangga. Namun, di balik tawa tersebut, tersembunyi sebuah fenomena sistemik yang disebut Weaponized Incompetence atau ketidakmampuan yang disengaja.

Ini adalah salah satu bentuk diskriminasi gender paling halus namun merusak di era modern. Ia bekerja dengan cara yang sangat cerdik: salah satu pihak berpura-pura tidak mampu melakukan tugas domestik agar tanggung jawab tersebut secara otomatis jatuh ke pundak pihak lain—yang hampir selalu adalah perempuan.

Strategi di Balik Kata “Aku Tidak Bisa”

Weaponized Incompetence bukan sekadar masalah kemalasan. Ini adalah strategi kekuasaan yang tidak disadari. Ketika lingkungan sosial menganggap wajar jika laki-laki “payah” dalam urusan domestik, kita sebenarnya sedang melanggengkan diskriminasi. Pesan yang dikirimkan sangat jelas: waktu dan energi laki-laki terlalu berharga untuk urusan rumah, sementara perempuan dianggap memiliki insting alami untuk menanggung semuanya.

Dampaknya bukan hanya rumah yang berantakan atau cucian yang menumpuk. Dampak terbesarnya adalah mental load atau beban kognitif. Perempuan tidak hanya melakukan pekerjaan fisik, tetapi juga menjadi “manajer operasional” dalam rumah tangga. Mereka harus mengingat jadwal imunisasi anak, stok beras yang menipis, hingga kado ulang tahun mertua. Beban ini tidak pernah berhenti; ia terus berjalan di latar belakang seperti aplikasi ponsel yang menguras baterai hingga habis.

Ketika beban mental ini terus menumpuk selama bertahun-tahun, kita sampai pada masalah yang lebih fatal: Gender Health Gap. Diskriminasi gender dalam bentuk pembagian beban rumah tangga berkontribusi langsung pada buruknya kesehatan fisik dan mental perempuan.

Penelitian menunjukkan bahwa perempuan memiliki tingkat stres kronis, kelelahan hebat (burnout), dan gangguan tidur yang lebih tinggi dibandingkan laki-laki dalam posisi ekonomi yang sama. Namun, di sinilah ironi diskriminasi medis muncul. Ketika perempuan datang ke dokter dengan keluhan kelelahan atau nyeri kronis, gejala mereka sering kali diremehkan sebagai “hanya stres,” “masalah hormon,” atau “psikosomatik.”

Dunia medis memiliki sejarah panjang dalam mengabaikan rasa sakit perempuan. Gejala serangan jantung pada perempuan, misalnya, sering kali berbeda dengan laki-laki, namun karena parameter medis standar didasarkan pada tubuh laki-laki, banyak perempuan yang salah didiagnosis atau terlambat ditangani. Inilah diskriminasi gender dalam bentuknya yang paling mematikan: ketika rasa sakit Anda tidak dianggap valid hanya karena gender Anda.

Mitos “Superwoman” yang Menyesatkan

Masyarakat kita sering kali merayakan sosok “ibu hebat yang bisa melakukan segalanya.” Padahal, label Superwoman ini sering kali digunakan untuk menutupi kegagalan sistem pendukung di sekitarnya. Kita memuji ketangguhan perempuan agar kita tidak perlu merasa bersalah karena telah membiarkannya berjuang sendirian.

Diskriminasi ini terjadi karena kita masih memandang perawatan dan kasih sayang sebagai “tugas gratis” yang sudah sewajarnya diberikan perempuan. Kita mengomersialkan kerja profesional tetapi mendevaluasi kerja emosional. Akibatnya, banyak perempuan yang terjebak dalam kondisi exhaustion yang dalam, di mana mereka kehilangan waktu untuk merawat diri sendiri karena terlalu sibuk merawat dunia di sekitar mereka.

Untuk mengatasi ini, kita perlu bergerak melampaui sekadar “membantu pekerjaan rumah.” Kata “membantu” sendiri sudah menyiratkan bahwa tanggung jawab tersebut milik satu pihak, dan pihak lain hanya menjadi asisten sukarela. Kita perlu beralih ke konsep kepemilikan bersama (shared ownership).

Pendidikan menjadi kunci. Laki-laki harus didorong untuk kompeten secara domestik sejak dini. Ketidakmampuan mengurus diri sendiri dan rumah tangga tidak boleh lagi dianggap sebagai ciri maskulinitas, melainkan harus dilihat sebagai kekurangan keterampilan dasar sebagai orang dewasa.

Di sisi lain, sistem kesehatan kita harus mulai mendengarkan perempuan secara serius. Data kesehatan harus dipisahkan berdasarkan gender secara akurat agar pengobatan tidak lagi bersifat “satu ukuran untuk semua.”

Keadilan Dimulai dari Rumah

Diskriminasi berbasis gender dalam segala bidang kehidupan sering kali berakar dari apa yang terjadi di balik pintu rumah yang tertutup. Selama kita masih mentoleransi ketidaksetaraan di meja makan dan ruang keluarga, kesetaraan di ruang rapat atau parlemen akan selalu terasa semu.

Menghapus Weaponized Incompetence adalah tentang menghargai waktu dan kesehatan mental pasangan kita sebagai sesuatu yang sama berharganya dengan waktu kita sendiri. Dunia yang lebih adil bukan hanya tentang akses yang sama terhadap pekerjaan, tetapi juga tentang pembagian yang adil terhadap beban hidup. Karena pada akhirnya, tidak ada seorang pun yang harus mengorbankan kesehatannya hanya untuk menjaga dunia tetap berputar bagi orang lain.

Penulis adalah seorang Freelancer dan sangat peduli dengan kesenjangan sosial perempuan

Share. WhatsApp Facebook Twitter LinkedIn Tumblr Email Telegram

Related Posts

Ketika Tanggungjawab dibebankan Pada Penyintas melalui Kebijakan

22 Juni 2026

Fikih Klasik dan Konsep Perempuan yang Ideal

22 Juni 2026

Wajah Hukum, Permainan Catur dan Nasib Perempuan Pulau Buru

22 Juni 2026

Comments are closed.

DARI PENYEKAPAN KE POTENSI FEMICIDE: HUKUM PELAKU, PULIHKAN KORBAN DAN KENALI RED FLAG KEKERASAN DALAM PACARAN

23 Juni 2026

KEKERASAN BERLAPIS TERHADAP PEREMPUAN: KASUS YUVITA MENJADI PENGINGAT DARURAT PERLINDUNGAN PEREMPUAN DI RUANG PRIVAT DAN PUBLIK

23 Juni 2026

Ketika Tanggungjawab dibebankan Pada Penyintas melalui Kebijakan

22 Juni 2026

Fikih Klasik dan Konsep Perempuan yang Ideal

22 Juni 2026
banner jalastoria
Facebook X (Twitter) Instagram YouTube LinkedIn TikTok
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Makna Logo
  • Kirim Tulisan
© 2026 | All rights reserved

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.