Oleh: Desi Fajar Permatasari
Tren yang memuji perempuan karena mampu mengatur kebutuhan rumah tangga hanya dengan uang nominal kecil per hari (misalnya, Rp10.000) secara halus merayakan kemiskinan dan keterbatasan, alih-alih memberdayakan perempuan. Narasi ini menciptakan ekspektasi yang tidak realistis dan berujung pada kerugian finansial serta psikologis bagi perempuan.
Meromantisasi Keterbatasan dan Beban Mental
Tren ini secara implisit menetapkan standar bahwa istri yang baik adalah istri yang mampu berkorban dan berhemat ekstrem. Hal ini memungkinkan resiko adanya penyembunyian Mental Load. Pengelolaan uang dalam nominal kecil memaksa perempuan melakukan pekerjaan mental yang sangat besar (mental load). Mereka harus memikirkan setiap sen, membandingkan harga, menyusun menu yang sangat terbatas, dan mencari cara ajaib untuk memenuhi gizi keluarga dengan dana minimum. Ini adalah pekerjaan tak berbayar yang menguras energi kognitif dan emosional, namun tidak pernah diakui nilainya.
Selain itu, tren ini menggambarkan standar ganda yang tidak adil, narasi ini menempatkan tanggung jawab kesejahteraan gizi dan finansial seluruh keluarga di pundak perempuan dengan sumber daya terbatas. Sebaliknya, laki-laki (yang sering kali merupakan pencari nafkah utama) bebas dari beban perencanaan dan stres budgeting harian tersebut.
Melanggengkan Pelitnya Pasangan (Weaponizing Frugality)
Fokus pada keahlian istri mengelola Rp10.000 justru menjadi justifikasi bagi pasangan untuk bersikap sesuka hati dan pelit. Pembenaran kontrol finansial, ketika istri dipuji karena “hemat”, suami merasa dibenarkan untuk memberikan alokasi dana yang minim. “Lihat, istriku hebat, dia bisa menghemat dari uang segitu,” menjadi dalih untuk tidak meningkatkan alokasi meskipun pendapatan meningkat.
Tentu saja, dengan dalih mengikuti tren sebenarnya yang terjadi justru upaya untuk mengalihkan tanggung jawab. Pasangan dapat lepas tangan dari tanggung jawab perencanaan finansial dan pemenuhan kebutuhan dasar keluarga, karena mereka telah mendelegasikan tugas berat tersebut kepada istri, tanpa perlu mempertimbangkan kecukupan dana yang diberikan. Ini adalah bentuk ketidakadilan ekonomi.
Mengancam Kesejahteraan dan Otonomi Perempuan
Mengelola uang kecil membuat perempuan tidak memiliki otonomi finansial dan rentan terhadap risiko jangka panjang. Ketiadaan dana pribadi, anggaran Rp10.000 hanya cukup untuk pengeluaran dasar keluarga, tidak menyisakan ruang sama sekali bagi kebutuhan pribadi perempuan (perawatan diri, pendidikan, investasi). Perempuan menjadi pengelola dana keluarga, tetapi tidak memiliki dana pribadi untuk self-care atau pengembangan diri.
Risiko Financial Abuse, dalam konteks ekstrem pemberian nominal uang yang sangat kecil dapat menjadi bentuk kontrol paksa atau financial abuse. Ini menahan perempuan dalam posisi ketergantungan dan mencegah mereka memiliki kebebasan ekonomi untuk meninggalkan hubungan yang tidak sehat.
Menuju Kemitraan yang Adil: Mengganti Pujian Hemat dengan Pengakuan Nilai
Untuk mencapai keadilan finansial, kita harus mengganti pujian hemat ekstrem dengan pengakuan nilai pekerjaan perempuan dan tanggung jawab bersama.
- Tanggung Jawab Kolektif: Keuangan harus dikelola sebagai tanggung jawab kemitraan, di mana perencanaan anggaran dan pengalokasian dana dilakukan secara transparan oleh kedua belah pihak.
- Fokus pada Kecukupan, Bukan Kekurangan: Fokus harus dialihkan dari “seberapa kecil istri bisa menggunakan uang” menjadi “seberapa cukup dana yang dialokasikan untuk menjamin kesejahteraan dan gizi optimal seluruh anggota keluarga.”
- Nilai Otonomi: Pemberdayaan sejati terletak pada kepemilikan aset bersama dan jaminan bahwa perempuan memiliki dana pribadi otonom untuk kebutuhan non-rumah tangga, terlepas dari perannya sebagai manajer rumah tangga.
Tren “10.000 di tangan istri yang tepat” pada akhirnya adalah perayaan terhadap eksistensi perempuan yang dikompromikan. Sudah saatnya masyarakat menghargai perempuan bukan karena kemampuan mereka bertahan dalam keterbatasan, tetapi karena nilai setara yang mereka bawa dalam kemitraan.

