Jakarta (jalastoria.id) – Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA), Arifah Fauzi, menegaskan bahwa seni dapat menjadi medium edukatif dan ekspresif bagi anak-anak untuk menanamkan nilai-nilai Pancasila, khususnya nilai kemanusiaan dan persatuan.
Hal itu disampaikan saat menghadiri konser bertajuk Pancasila Voice of Humanity: Angklung Simbiosis yang digelar di Gedung Kementerian Budaya, Jakarta, Jumat (26/7).
Dalam konser yang menghadirkan permainan angklung oleh anak-anak dari berbagai latar belakang, Menteri Arifah menyampaikan rasa bangga sekaligus apresiasinya terhadap kepiawaian dan semangat para peserta.
“Perbedaan bukanlah penghalang, melainkan kekuatan untuk menciptakan harmoni. Seperti nada-nada angklung yang berbeda, namun bersatu menciptakan musik yang indah. Pancasila bukan sekadar lima sila di buku pelajaran, tetapi denyut nadi kebangsaan dan detak hati nurani Indonesia,” ujar Menteri Arifah.
Kolaborasi Seni yang Menyatukan Perbedaan
Konser yang mengusung tema “Pencarian Hati Nurani yang Hilang” ini merupakan pertunjukan seni kolaboratif yang menggabungkan berbagai elemen seperti angklung, sasando, teater, tari, mini orkestra, hingga pameran seni rupa. Alat musik tradisional dipadukan dengan instrumen modern seperti gitar, drum, bass, dan saksofon—menampilkan kekayaan budaya Indonesia dalam harmoni yang indah.
Acara ini didukung oleh Kementerian Kebudayaan RI, komunitas Luminare Domus, dan Kementerian PPPA. Keistimewaannya terletak pada partisipasi anak-anak dari berbagai komunitas, termasuk anak-anak pemulung, disabilitas netra, mahasiswa, hingga musisi dari The Professor Band Universitas Indonesia.
Turut hadir pula Guru Besar FISIP Universitas Indonesia, Prof. Dr. Paulus Wirutomo, M.Sc., yang mendampingi Menteri PPPA dalam sesi dialog dan orasi kebangsaan.
Pentingnya Ruang Sosial untuk Anak
Dalam sesi dialog, Menteri PPPA menekankan pentingnya ruang bermain dan interaksi sosial bagi anak-anak di tengah era digital yang serba terhubung.
“Ketika anak-anak bertemu dan bermain bersama, mereka belajar mengenali dan menghargai perbedaan. Jika ini dikelola dengan baik, maka akan tumbuh sebagai fondasi persatuan. Inilah makna dari Bhinneka Tunggal Ika,” jelasnya.
Arifah juga menyoroti kekhawatiran terhadap dampak negatif gawai terhadap tumbuh kembang anak, terutama dalam hal interaksi sosial dan risiko kekerasan daring. Kementerian PPPA, lanjutnya, terus mendorong kegiatan yang memperkuat nilai-nilai empati dan toleransi melalui pendekatan budaya dan permainan tradisional.
Menuju Generasi Emas 2045
Dalam penutupan, Menteri PPPA mengajak seluruh elemen masyarakat untuk mengambil peran aktif dalam menciptakan lingkungan yang aman dan mendukung bagi anak-anak Indonesia.
“Mari kita jadikan anak-anak Indonesia sebagai generasi yang cerdas, bahagia, dan terlindungi dari segala bentuk kekerasan. Dunia mereka adalah dunia bermain dan belajar dalam keberagaman. Kita orang dewasa wajib mengantarkan mereka menuju masa depan Indonesia Emas 2045,” tegasnya.
Konser Pancasila Voice of Humanity bukan hanya pertunjukan seni, melainkan juga bentuk nyata komitmen pemerintah dalam membangun karakter anak bangsa melalui kebudayaan, inklusi, dan semangat kebersamaan. (art)

