Close Menu
JalaStoria.idJalaStoria.id
  • Home
  • Ragam
  • Perspektif
  • Storimini
  • Sosok
  • Telaah
    • Hukum
    • Riset
    • Buku
    • Film
  • Konsultasi
  • Mitra
  • Media
  • English Version
Facebook X (Twitter) Instagram YouTube LinkedIn TikTok
  • Tentang Kami
  • Makna Logo
  • Daftar Isi
  • Tim Kami
  • Kirim Tulisan
  • Kontak Kami
  • Arsip
Facebook X (Twitter) Instagram YouTube LinkedIn TikTok
JalaStoria.idJalaStoria.id
  • Home
  • Ragam
  • Perspektif
  • Storimini
  • Sosok
  • Telaah
    • Hukum
    • Riset
    • Buku
    • Film
  • Konsultasi
  • Mitra
  • Media
  • English Version
JalaStoria.idJalaStoria.id
Home»News»Menteri PPPA: Seni Angklung Jadi Media Edukasi Anak Tanamkan Nilai Pancasila

Menteri PPPA: Seni Angklung Jadi Media Edukasi Anak Tanamkan Nilai Pancasila

News Artika Kristanti28 Juli 2025
Menteri PPPA Arifah Fauzi bersama anak-anak Indonesia (foto: Dik KemenPPPA)
Menteri PPPA Arifah Fauzi bersama anak-anak Indonesia (foto: Dik KemenPPPA)

Jakarta (jalastoria.id) – Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA), Arifah Fauzi, menegaskan bahwa seni dapat menjadi medium edukatif dan ekspresif bagi anak-anak untuk menanamkan nilai-nilai Pancasila, khususnya nilai kemanusiaan dan persatuan.

Hal itu disampaikan saat menghadiri konser bertajuk Pancasila Voice of Humanity: Angklung Simbiosis yang digelar di Gedung Kementerian Budaya, Jakarta, Jumat (26/7).

Dalam konser yang menghadirkan permainan angklung oleh anak-anak dari berbagai latar belakang, Menteri Arifah menyampaikan rasa bangga sekaligus apresiasinya terhadap kepiawaian dan semangat para peserta.

“Perbedaan bukanlah penghalang, melainkan kekuatan untuk menciptakan harmoni. Seperti nada-nada angklung yang berbeda, namun bersatu menciptakan musik yang indah. Pancasila bukan sekadar lima sila di buku pelajaran, tetapi denyut nadi kebangsaan dan detak hati nurani Indonesia,” ujar Menteri Arifah.

Kolaborasi Seni yang Menyatukan Perbedaan

Konser yang mengusung tema “Pencarian Hati Nurani yang Hilang” ini merupakan pertunjukan seni kolaboratif yang menggabungkan berbagai elemen seperti angklung, sasando, teater, tari, mini orkestra, hingga pameran seni rupa. Alat musik tradisional dipadukan dengan instrumen modern seperti gitar, drum, bass, dan saksofon—menampilkan kekayaan budaya Indonesia dalam harmoni yang indah.

Acara ini didukung oleh Kementerian Kebudayaan RI, komunitas Luminare Domus, dan Kementerian PPPA. Keistimewaannya terletak pada partisipasi anak-anak dari berbagai komunitas, termasuk anak-anak pemulung, disabilitas netra, mahasiswa, hingga musisi dari The Professor Band Universitas Indonesia.

Turut hadir pula Guru Besar FISIP Universitas Indonesia, Prof. Dr. Paulus Wirutomo, M.Sc., yang mendampingi Menteri PPPA dalam sesi dialog dan orasi kebangsaan.

Pentingnya Ruang Sosial untuk Anak

Dalam sesi dialog, Menteri PPPA menekankan pentingnya ruang bermain dan interaksi sosial bagi anak-anak di tengah era digital yang serba terhubung.

“Ketika anak-anak bertemu dan bermain bersama, mereka belajar mengenali dan menghargai perbedaan. Jika ini dikelola dengan baik, maka akan tumbuh sebagai fondasi persatuan. Inilah makna dari Bhinneka Tunggal Ika,” jelasnya.

Arifah juga menyoroti kekhawatiran terhadap dampak negatif gawai terhadap tumbuh kembang anak, terutama dalam hal interaksi sosial dan risiko kekerasan daring. Kementerian PPPA, lanjutnya, terus mendorong kegiatan yang memperkuat nilai-nilai empati dan toleransi melalui pendekatan budaya dan permainan tradisional.

Menuju Generasi Emas 2045

Dalam penutupan, Menteri PPPA mengajak seluruh elemen masyarakat untuk mengambil peran aktif dalam menciptakan lingkungan yang aman dan mendukung bagi anak-anak Indonesia.

“Mari kita jadikan anak-anak Indonesia sebagai generasi yang cerdas, bahagia, dan terlindungi dari segala bentuk kekerasan. Dunia mereka adalah dunia bermain dan belajar dalam keberagaman. Kita orang dewasa wajib mengantarkan mereka menuju masa depan Indonesia Emas 2045,” tegasnya.

Konser Pancasila Voice of Humanity bukan hanya pertunjukan seni, melainkan juga bentuk nyata komitmen pemerintah dalam membangun karakter anak bangsa melalui kebudayaan, inklusi, dan semangat kebersamaan. (art)

anak-anak Indonesia Arifah Fauzi Indonesia Emas 2045 konser angklung Menteri PPPA nilai Pancasila Pancasila Voice of Humanity Perlindungan Anak seni sebagai edukasi
Share. WhatsApp Facebook Twitter LinkedIn Tumblr Email Telegram

Related Posts

JalaStoria dan Astra Gelar Program Literasi Pers Kampus dan Sosialisasi Lomba untuk Perkuat Kapasitas Mahasiswa di Bidang Jurnalistik Berperspektif Gender

16 Oktober 2025

Ibuisme Negara dan Penertiban Perempuan di Indonesia: Sejarah dan Kontinuitas

21 September 2025

UNICEF Apresiasi Komitmen Indonesia Wujudkan Hak Anak di Hari Anak Nasional 2025

28 Juli 2025

Comments are closed.

Relasi Gender di Suku Tuareg: Perempuan Tidak Bercadar, Laki-Laki yang Harus Melakukannya

9 Mei 2026

Mengecam Keras Pelaku Kekerasan yang Berlindung di Balik Otoritas Pendidikan dan Keagamaan

9 Mei 2026

Kala Split Bill Sentil Maskulinitas Pria

7 Mei 2026

Menjaga Perempuan atau Mendidik Laki-laki?

4 Mei 2026
banner jalastoria
Facebook X (Twitter) Instagram YouTube LinkedIn TikTok
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Makna Logo
  • Kirim Tulisan
© 2026 | All rights reserved

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.