Oleh: Feby Farayola
Kita tentu sering mendengar bahwa Ayah adalah cinta pertama bagi anak perempuannya. Ungkapan ini sebenarnya menunjukkan bahwa begitu pentingnya peran seorang Ayah terhadap pembentukan karakter dan sifat anak. Lalu, apa yang terjadi jika seorang Ayah tidak mampu menjalankan perannya dengan baik? Melalui karakter Sofi di film Pantaskah Aku Berhijab, kita akan menyadari bahwa dampak fatherless tidak bisa dianggap remeh.
Film yang diproduksi oleh Narasi Semesta serta A&Z Films dan disutradarai oleh Hadrah Daeng Ratu ini tayang perdana di bioskip Indonesia pada 21 November 2024. Film ini dibintangi oleh Nadya Arina, Bryan Domani, dan Dhini Aminarti. Pada hari pertama penayangannya, film Pantaskah Aku Berhijab mendapatkan 10.699 penonton.
Film ini bercerita mengenai Sofi yang merupakan seorang anak broken home. Sebagai anak sulung, Sofi membantu ibunya mencari uang untuk menghidupi kedua adik perempuannya yang masih kecil dengan menjadi model. Dari sekian banyak casting yang diikuti, akhirnya perjuangan Sofi berbuah manis. Ia terpilih menjadi model utama untuk sebuah iklan.
Namun, permasalahan pelik justru datang bagai badai yang memporak porandakan mimpinya. Sofi dinyatakan hamil sementara pacarnya tidak bisa dihubungi dan mereka menjalin long distance relationship Jakarta-Bandung. Berbekal tekad, Sofi menghampiri pacar LDR-nya ke Bandung. Tetapi setibanya di sana, ia justru dihadapkan pada kenyataan pahit bahwa pacarnya tidak mau bertanggung jawab. Sofi justru dituding hamil dengan lelaki lain.
Ada beberapa dampak fatherless yang bisa disoroti dari film ini, termasuk bagaimana cara yang dipilih Ayah Sofi untuk “membantu” putrinya keluar dari masalah. Diantaranya adalah sebagai berikut:
Rentan Terjebak Hubungan Toxic
Seorang anak perempuan yang mengalami fatherless cenderung mencari kenyamanan pada lelaki lain yang ia rasa mampu memberikan kasih sayang dan melindungi layaknya seorang Ayah. Tetapi, nyatanya tidak semua lelaki hadir di hidup seorang perempuan berdasarkan ketulusan meski sikapnya terlihat begitu baik. Hal tersebut terkadang hanya dijadikan sebuah topeng untuk menutupi niat yang sebenarnya.
Saat mengetahui dirinya hamil, Sofi sempat mendatangi kontrakan ayahnya yang terletak di pinggiran kota. Bisa dibayangkan, kehidupan pasca bercerai Ayah Sofi juga jauh dari kata baik. Layaknya seorang Ayah yang mengetahui bahwa anaknya hamil di luar nikah, Ayah Sofi marah. Ia berjanji akan menemui pacar anaknya di Bandung untuk meminta pertanggung jawaban. Namun, apakah permasalahan selesai sampai di situ? Jawabannya tentu tidak.
Tingkat Kepercayaan Diri yang Rendah
Singkat cerita, Sofi tetap tidak mendapatkan pertanggung jawaban dari pacarnya. Ia mencoba melanjutkan hidup dan mulai bekerja di butik. Dari sini, ia bertemu dengan lelaki lain yang berstatus sebagai supplier dari butik tempat ia bekerja. Seperti yang sudah bisa ditebak, lelaki ini tertarik pada Sofi dan ingin meminangnya sebagai istri tanpa mempedulikan kondisinya yang sedang mengandung.
Sebelum akad, Sofi sempat mendatangi sahabat laki-lakinya bernama Aqsa yang selama ini selalu hadir di tengah permasalahan hidupnya yang rumit. Aqsa meyakinkah Sofi bahwa ia tidak perlu menerima lamaran dari laki-laki yang tidak ia cintai. Disamping itu, Aqsa menilai bahwa lelaki yang melamar Sofi terlihat agak aneh. Namun, dengan tegas Sofi mengatakan bahwa ini satu-satunya kesempatan memperbaiki hidup. Ia berpikir, tidak akan ada lelaki yang mau menerimanya dalam keadaan mengandung.
Kasus Sofi di film Pantaskah Aku Berhijab hanyalah contoh kecil. Faktanya di luaran sana, anak perempuan yang tumbuh tanpa figur seorang Ayah mempunyai tingkat kepercayaan diri yang jauh lebih rendah. Sebab para anak perempuan yang mengalami fatherless jarang bahkan tidak pernah mendapatkan dukungan, nasihat, atau bahkan sekedar kalimat afirmasi positif dari ayahnya yang menyatakan bahwa mereka cantik, berharga, dan cukup tanpa harus mendapatkan validasi dari siapapun, karena validasi dari ayahnya sudah lebih dari cukup.
Seorang Ayah yang Merusak Mental Anak Perempuannya di Film Pantaskah Aku Berhijab
Seorang Ayah seharusnya menjadi perisai kokoh yang melindungi anak perempuannya dari segala bahaya. Namun, di film Pantaskah Aku Berhijab Ayah Sofi justru merusak mental anak perempuannya sendiri.
Ternyata saat menemui pacar anaknya di Bandung, Ayah Sofi dihadapkan pada sebuah penawaran. Ia akan diberi uang tunai senilai lima belas juta rupiah oleh pacar anaknya asalkan lelaki itu tidak dilibatkan lagi dengan kehamilan Sofi. Tanpa pikir panjang, Ayah Sofi menerima penawaran itu lalu menghilang begitu saja tanpa pernah bisa dihubungi lagi.
Menjadi orang tua memang tidak mudah. Terlebih, perkembangan teknologi dapat dengan mudahnya menyeret anak ke arus yang mebahayakan. Di sini lah orang tua berperan penting sebagai perisai, khususnya Ayah. Karena mendidik seorang anak tidak bisa hanya mengandalkan sosok Ibu saja.
Ketidaksiapan mental dan finansial serta mungkin adanya luka yang belum sembuh tidak seharusnya diwariskan oleh orang tua kepada anak. Maka sebelum memutuskan untuk mempunyai anak, dibutuhkan perencanaan yang matang agar tidak ada anak perempuan lainnya yang mengalami hal sama seperti halnya Sofi.
Hal yang agak disayangkan dari film ini adalah gambaran tentang hidup mantan kekasih toxic Sofi yang baik-baik saja, setelah ia membuatnya hamil lalu lari dari tanggung jawab. Ia bahkan mendapatkan kekasih yang dirasa jauh lebih baik. Kasus seperti ini memang kerap terjadi di kehidupan nyata di mana hidup berjalan dengan tidak adil. Namun, dikhawatirkan hal ini dapat memancing trigger bagi penonton yang pernah mengalami hal serupa seperti Sofi.
Film ini mengajarkan bahwa benteng pertahanan yang kokoh seorang anak perempuan dapat dibentuk dengan hadirnya peran seorang Ayah di hidupnya. Film ini juga mengajarkan bahwa akan selalu ada orang yang mau menerima kesalahan yang kita perbuat dan bersedia menemani untuk memperbaikinya bersama-sama, seperti yang dilakukan tokoh bernama Aqsa terhadap Sofi.
Cara Mengatasi Fatherless Secara Struktural
Meski perkembangan zaman sudah semakin maju, sayangnya pola pikir bahwa Ibu adalah satu-satunya peran yang penting di rumah tangga masih mengakar kuat. Hal ini merupakan salah satu dampak penyebab fatherless terlebih bagi kaum patriarki. Namun, rantai semacam ini dapat diputus dengan menjalin komunikasi yang baik dan kesadaran akan pentingnya peran Ibu dan Ayah dalam rumah tangga, termasuk perihal mendidik anak.
Saat ini, mencari nafkah tidak hanya dapat dilakukan oleh kaum laki-laki. Perempuan juga dapat melakoni peran tersebut bahkan diiringi dengan peran sebagai ibu dan istri. Tentunya hal tersebut bukan sesuatu yang mudah. Di sini lah peran Ayah sangat dibutuhkan tidak hanya sebagai partner dalam membangun finansial keluarga yang kokoh, tetapi juga partner mendidik anak seumur hidup.
Sebenarnya, mendidik anak adalah upaya yang harus dilakukan oleh dua orang, yakni Ibu dan Ayah. Peran orang tua ibarat kaki agar pola asuh berjalan ke arah yang baik. Jika salah satunya tidak hadir, maka langkah tadi akan pincang. Terlebih peran seorang Ayah yang digambarkan sebagai perisai dan pengisi tangki cinta bagi anak perempuannya. Begitulah kiranya analogi yang dapat digambarkan.
Penulis meyakini bahwa perempuan berhak merdeka dalam menentukan pilihan hidup yang mereka inginkan.
