Oleh: Julita Puspita
Aku pertama kali benar-benar memahami betapa kejamnya label broken home bukan dari media sosial, melainkan dari meja makan orang lain. Tepatnya ketika kakak perempuanku—yang sedang bersiap menikah—dianggap “tidak pantas” oleh keluarga calon pasangannya. Alasannya sederhana, nyaris klise, tapi menghantam keras: ia anak broken home. Orang tuaku sering bertengkar. Itu saja sudah cukup untuk menggugurkan segalanya.
Tak ada yang menyinggung kepribadiannya. Tak ada yang bertanya tentang caranya mencintai atau nilai hidup yang ia pegang. Yang dipersoalkan hanya asal-usul keluarganya. Di titik itu aku sadar, label broken home masih bekerja diam-diam, dan dampaknya paling berat menimpa perempuan. Seolah luka masa kecil adalah dosa yang harus ditebus seumur hidup.
Di luar sana, anak perempuan dari keluarga broken home kerap ditempatkan sebagai “paket masalah”. Terlalu sensitif. Sulit percaya. Emosional. Dikhawatirkan akan membawa konflik ke dalam rumah tangga. Bahkan, ada pula yang langsung mengaitkannya dengan anggapan kurang didikan atau potensi mengulang kegagalan orang tua. Semua asumsi itu dilekatkan tanpa upaya mengenal siapa dirinya dan bagaimana ia tumbuh.
Stigma ini jarang disampaikan terang-terangan. Biasanya ia muncul lewat kalimat yang terdengar bijak: “demi masa depan”, “takut nanti kamu repot”, atau “lebih baik cari yang latar keluarganya jelas.” Pilihan katanya lembut, namun maknanya tetap sama: penolakan. Menariknya, jika dibandingkan, laki-laki dari keluarga broken home pun tidak sepenuhnya bebas dari stigma. Namun bentuknya berbeda. Mereka lebih mudah diberi toleransi. Bila tegas, dianggap wajar. Bila tertutup emosional, disebut maskulin. Sebaliknya, perempuan dituntut membuktikan bahwa luka masa kecilnya tidak akan mencemari hubungan. Ia diharapkan stabil, hangat, dan siap merawat, meski tumbuh tanpa rasa aman.
Ditinjau dari sisi ilmiah, anggapan bahwa broken home otomatis merusak kemampuan seseorang dalam membangun hubungan tidak sepenuhnya benar. Penelitian Little dan Sockol (2020) menunjukkan bahwa pengalaman perceraian atau konflik orang tua tidak serta merta menentukan buruknya kualitas hubungan romantis di masa dewasa. Faktor yang jauh lebih berpengaruh adalah gaya keterikatan—cara seseorang memahami, mengelola, dan menyampaikan perasaannya dalam relasi.
Kakak perempuanku adalah contoh nyata. Ia tumbuh di rumah yang dipenuhi pertengkaran. Hampir setiap hari ia menyaksikan hubungan yang retak. Dari situ,ia belajar satu hal penting: hubungan tidak akan bertahan tanpa usaha.
Dalam relasi, ia bukan perempuan yang menunggu diselamatkan. Ia paham batas dirinya. Ia tahu apa yang ia butuhkan. Ia berani membuka percakapan sulit. Bagi sebagian orang, sikap ini terlihat “terlalu kuat” atau “terlalu rumit”. Padahal, ia cuma terbiasa berdiri sendiri karena keadaan menuntutnya demikian.
Tentu saja, tidak semua anak perempuan broken home tumbuh dengan pola yang sama. Sejumlah penelitian (Wolchik, Schenck, & Sandler, 2009; Karela & Petrogiannis, 2018; Matondang dkk., 2024) mengindikasikan bahwa respons anak terhadap konflik keluarga sangat dipengaruhi oleh dukungan emosional, lingkungan sosial, serta cara mereka diajak memahami situasi. Tidak ada jalur tunggal. Tidak ada hasil yang dapat digeneralisasi.
Selain itu, keluarga yang tampak utuh tidak otomatis melahirkan individu yang matang secara batin. Banyak orang tumbuh di rumah yang terlihat harmonis, namun di dalamnya penuh penyangkalan, emosi yang ditekan, dan komunikasi satu arah. Saat keluarga calon pasangan kakakku mengatakan ia “tidak pantas”, yang sebenarnya mereka tolak bukan dirinya. Yang mereka hindari adalah bayangan konflik dan ketidaksempurnaan—sesuatu yang sejatinya bisa muncul di keluarga mana pun.
Cinta yang dewasa seharusnya tidak menilai seseorang dari latar keluarganya, melainkan dari caranya hadir saat ini. Apakah ia mau belajar? Apakah ia bertanggung jawab atas emosinya? Apakah ia bersedia tumbuh bersama? Anak perempuan broken home tidak kurang ideal untuk dicintai. Mereka hanya terus diminta membuktikan kelayakan dua kali lipat.
Jika stigma ini ingin benar-benar berubah, kita perlu berhenti menjadikan latar keluarga sebagai vonis karakter. Kita mesti belajar melihat manusia apa adanya—bukan dari rumah seperti apa ia berasal, tetapi dari bagaimana ia memilih mencintai hari ini.
Ditulis oleh perempuan yang percaya luka tidak membatalkan kelayakan untuk dicintai.
Sumber Referensi :
Feeney, J., & Fitzgerald, J. (2019). Attachment, conflict and relationship quality: Laboratory-based and clinical insights. Current opinion in psychology, 25, 127-131.
Karela, C., & Petrogiannis, K. (2018). Risk and resilience factors of divorce and young children’s emotional well-being in Greece: a correlational study. Journal of Educational and Developmental Psychology, 8(2), 2.
Little, K. K., & Sockol, L. E. (2020). Romantic relationship satisfaction and parent-infant bonding during the transition to parenthood: An attachment-based perspective. Frontiers in psychology, 11, 2068.
Matondang, F. S. P., Astuti, N. H., Rokan, N. H., Dewi, A. P., & Andinata, M. P. (2024). Peran Dukungan Sosial terhadap Trauma Broken Home pada Anak. Jurnal Pendidikan Tambusai, 8, 26622-26629.
Wolchik, S. A., Schenck, C. E., & Sandler, I. N. (2009). Promoting resilience in youth from divorced families: Lessons learned from experimental trials of the New Beginnings Program. Journal of personality, 77(6), 1833-1868.
Hussain, M., Naz, A., Khan, W., Daraz, U., & Khan, Q. (2015). Gender stereotyping in family: An institutionalized and normative mechanism in Pakhtun Society of Pakistan. Sage Open, 5(3), 2158244015595258.
Mayor-Silva, L. I., Moreno, G., Meneses-Monroy, A., Martín-Casas, P., Hernández-Martín, M. M., Moreno-Pimentel, A. G., & Rodríguez-Leal, L. (2025, February). Influence of Gender Role on Resilience and Positive Affect in Female Nursing Students: A Cross-Sectional Study. In Healthcare (Vol. 13, No. 3, p. 336). MDPI.
Barigozzi, F., Biroli, P., Monfardini, C., Montinari, N., Pisanelli, E., & Vitellozzi, S. (2025). Beyond Time: Unveiling the Invisible Burden of Mental Load.
Rechenberg, T., Fleischer, T., Sander, C., & Schomerus, G. (2024). Gender-related stigma toward individuals with a history of sexual or physical violence in childhood. BMC Public Health, 24(1), 2396.

