Close Menu
JalaStoria.idJalaStoria.id
  • Home
  • Ragam
  • Perspektif
  • Storimini
  • Sosok
  • Telaah
    • Hukum
    • Riset
    • Buku
    • Film
  • Konsultasi
  • Mitra
  • Media
  • English Version
Facebook X (Twitter) Instagram YouTube LinkedIn TikTok
  • Tentang Kami
  • Makna Logo
  • Daftar Isi
  • Tim Kami
  • Kirim Tulisan
  • Kontak Kami
  • Arsip
Facebook X (Twitter) Instagram YouTube LinkedIn TikTok
JalaStoria.idJalaStoria.id
  • Home
  • Ragam
  • Perspektif
  • Storimini
  • Sosok
  • Telaah
    • Hukum
    • Riset
    • Buku
    • Film
  • Konsultasi
  • Mitra
  • Media
  • English Version
JalaStoria.idJalaStoria.id
Home»Storimini»Refleksi Atas Hidup Tante, Surat Pendek dari Keponakannya

Refleksi Atas Hidup Tante, Surat Pendek dari Keponakannya

Storimini Redaksi Jalastoria6 Januari 2026

Oleh: Petricia Putri Marricy

Kekerasan dalam rumah tangga masih menjadi bayang-bayang para perempuan di lingkungan saya. Beberapa lelaki berdalih “memberi pelajaran” pada istri mereka hanya karena ingin melampiaskan amarah mereka. Hal tersebut juga terjadi pada kerabat saya. Beberapa kali ia yang saya panggil dengan sebutan “tante” menginginkan kisahnya ditulis.

Ingin sekali duduk berdua, mengobrol, sembari menyesap teh panas di pagi atau siang hari. Sayangnya, karakter pekerja keras membuatnya tak betah duduk diam di rumah kecuali pada saat momen menyedihkan tersebut. Satu hal yang saya ingat dari ceritanya adalah bahwa ia berhasil mengusir suami—hasil pernikahan siri—karena tak berhenti meminta uang tanpa sebab. Dari pernikahan yang dilakukannya diam-diam tersebut, lahirlah sepupu laki-laki saya. Usianya kini belum genap 10 bulan.

Sebelum pernikahan tersebut, ia pernah terperangkap dalam rumah tangga beracun. Dari pernikahan pertamanya, tante dikaruniai dua anak, laki-laki dan perempuan. Tante berpisah dengan suami pertamanya karena kondisi yang begitu memprihatinkan. Ia menjadi korban kekerasan dan terpaksa rela bekerja siang-malam hanya untuk melunasi hutang-hutang mantan suaminya.

Keputusan Berisiko di Usia Muda

Tante hanya lulusan SMP, ia memutuskan menikah di usia belia dengan suami pertamanya. Awalnya mungkin berlandaskan cinta, namun semakin lama semua berubah menjadi obsesi yang tidak sehat. Hubungan mereka pun berakhir di pengadilan agama. Hubungan tante dengan anak pertamanya pun berubah, bisa dibilang cukup kacau. Anak dari korban perceraian orang tua memang tidak mudah menerima alasannya. Di sisi lain, saya begitu bangga dan senang karena tante memilih untuk benar-benar melepaskan diri dari jeratan laki-laki jahat.

Meskipun hubungan keduanya tak berakhir baik pula, saya rasa tante cukup memiliki banyak waktu untuk berefleksi. Ia perlu paham tentang perjuangan yang selama ini ia lakukan, terutama untuk dirinya sendiri. Budaya patriarki yang begitu mengakar dalam keluarga saya rupanya membunuh tante pelan-pelan. Sebelum perceraiannya dengan suami pertama, ia terus-menerus dibujuk untuk rujuk saja. Saya sejujurnya tidak setuju, tetapi siapa saya? Saya hanya keponakan berusia belasan tahun kala itu. Meski sudah “pintar” tetap saja suara anak-anak tak terpakai dalam keluarga yang begitu kolot.

Saya ingat pada saat tante datang ke rumah mengenakan kacamata. Ingatan itu selalu melintas di benak saya sebab kepala terus bertanya, “Apa yang terjadi?” Tante tak pernah sedikit pun mengenakan kacamata, namun kala itu benar-benar membuat saya penasaran. Usut punya usut, rupanya semalam sebelum berkunjung, tante dan mantan suami pertamanya bertengkar hebat.

Dalam segala polemik di rumah tangga tante, rupanya ibu dan ayah saya tak berhenti ikut campur. Sering sekali saya mendengar ayah mewajarkan kekerasan dalam rumah tangga. Saya pun perlahan mulai menjauhkan diri dari ayah, sejauh mungkin kecuali memang sedang butuh uang untuk urusan pendidikan.

Dukungan Mungil dari Jauh

Mengingat tante saya sekarang merupakan ibu tunggal dengan tiga anak, sejujurnya sesekali saya ingin memeluknya. Saya ingin terus terang bahwa ia telah menjadi figur orang tua yang hebat sebab bertahan dari segala masalah dan ketidakadilan di dunianya itu. Saya ingin mengatakan bahwa ia begitu luar biasa karena dengan sukarela menjadi ayah, sekaligus ibu, bagi ketiga anak yang sebenarnya “masih” membutuhkan figur bapak.

Meskipun tertatih-tatih, saya melihat semangat yang luar biasa membara dalam diri tante. Semangat yang saya kira jauh lebih berharga daripada masukan dan kritikan orang tua saya kepadanya. Sejujurnya, saya amat bangga dan senang karena tante berani memisahkan diri dari laki-laki yang telah menjadi korban budaya patriarki.

Menjadi perempuan yang hebat, tentulah mengalami masa-masa kelam. Begitulah tante dari mata saya. Ia berdiri tegak, menanggung segalanya sendirian, dan saya rasa ia begitu pantas untuk dicintai. Meskipun sesekali memang sikap dan sifatnya kurang tegas ketika diinjak-injak orang lain, saya rasa itu wajar sebab pada akhirnya ia adalah perempuan yang diletakkan pada posisi inferior.

Kisahnya tak hanya menjadi pelajaran hidup bagi saya, tetapi juga menjadi bagian dari diri saya yang tak pernah bisa dilupakan. Saya telah melewati beberapa waktu bersamanya dan cerita-cerita tentangnya selalu tersimpan di hati. Bukan semata-mata karena ia adalah seorang tante, bagian dari keluarga, tetapi ia juga figur ibu dan perempuan yang layak untuk diapresiasi. Bukan hanya pelukan, mungkin sebuah tulisan pendek mampu menyembuhkan hatinya.

Penulis adalah mahasiswi Sastra dan Jurnalis mahasiswa yang tertarik pada isu perempuan dan feminisme

Share. WhatsApp Facebook Twitter LinkedIn Tumblr Email Telegram

Related Posts

Perlunya Dukungan Keluarga terhadap Perempuan Tulang Punggung Keluarga

3 April 2026

Maskulinitas Jalan Raya dalam Perspektif Pengendara Motor Perempuan

3 April 2026

Pernikahan Merenggut Identitas Perempuan

3 Maret 2026

Comments are closed.

Relasi Gender di Suku Tuareg: Perempuan Tidak Bercadar, Laki-Laki yang Harus Melakukannya

9 Mei 2026

Mengecam Keras Pelaku Kekerasan yang Berlindung di Balik Otoritas Pendidikan dan Keagamaan

9 Mei 2026

Kala Split Bill Sentil Maskulinitas Pria

7 Mei 2026

Menjaga Perempuan atau Mendidik Laki-laki?

4 Mei 2026
banner jalastoria
Facebook X (Twitter) Instagram YouTube LinkedIn TikTok
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Makna Logo
  • Kirim Tulisan
© 2026 | All rights reserved

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.