Oleh: Rachelita Silva
Banyak dari anak perempuan yang tumbuh ditengah lingkungan pengasuhan yang penuh dengan tekanan dan kontrol dari orang tua, sehingga perlahan membuat mereka kehilangan rasa percaya diri dalam menentukan pilihan hidupnya, akibat dari pola asuh strict parents. Dalam Studi Hasibuan (2024) Strict parents ialah pola asuhan orang tua yang bersifat memaksa, keras, dan terkesan kaku, dimana orang tua akan menetapkan variasi aturan yang tidak bisa ditawar dan harus dipatuhi dan berdampak pada terbatasnya hak kebebasan anak itu sendiri, terlebih di dalam mengutarakan pendapat mereka. Orang tua tidak memberi izin serta alasan pada setiap peraturan. Pola asuh Strict parents sering kali hadir dan bertujuan untuk membangun karakter anak agar tumbuh sebagai sosok yang tangguh dan berprestasi. Namun, jika aturan yang diterapkan disertai dengan hukuman tanpa diimbangi dengan sikap yang bijaksana dari orang tua, pola asuh tersebut tidak hanya mengekang kebebasan anak, namun juga perlahan merampas hak dasarnya sebagai manusia.
Pola Asuh Strict Parents
Bentuk Pola asuh Strict Parents merupakan metode pengasuhan yang menekankan pada kontrol penuh terhadap anak, dari cara berperilaku sampai dengan pilihan hidup. Dalam praktiknya, pola asuh ini bertujuan untuk membentuk karakter anak agar tumbuh sebagai sosok yang kuat, disiplin dan bijaksana. Dalam studi oleh Aprilia (2025) Pola asuh ini menyebabkan anak kurang mendapatkan ruang untuk berkembang secara emosional, sosial, dan kognitif, sehingga berpengaruh terhadap kepercayaan diri dan kemampuan mereka dalam bersosialisasi.
Hal tersebut menunjukkan bahwa pola asuh yang ketat dan otoriter akan membentuk anak menjadi sosok yang cenderung kehilangan kepercayaan diri, karena setiap tindakannya lebih sering diatur daripada diberikan ruang untuk benar-benar memilih. Sejatinya, anak hadir bukan luntuk menjadi sosok yang sempurna dari sebuah aturan, namun sosok yang juga layak untuk mendapatkan penerimaan dalam kondisi apa pun.
Dampak Pola Asuh Strict Parents Terhadap Anak Perempuan
Pola asuh Strict Parents juga memberikan dampak krusial terhadap perkembangan tumbuh anak perempuan, terutama dalam aspek emosional dan sosial. Dalam studi Hayyu (2024) menunjukkan bahwa dalam perkembangan emosional anak juga akan sulit untuk mengungkapkan emosi mereka karena orang tua membiasakan anak untuk tumbuh menjadi anak yang membentuk pribadi yang sangat mandiri dan orang tua juga tidak membebaskan anak untuk mengambil keputusan yang sesuai dengan yang mereka rasa nyaman dan orang tua yang Strict Parents akan mengambil keputusan sendiri tanpa melakukan komunikasi dengan anak dalam mengambil suatu pemecahan permasalahan.
Akibatnya, anak akan memilih untuk tidak mengungkapkan pilihannya karena takut akan penolakan dari orang tua dan cendurang tidak ingin bergantung terhadap orang lain. Kondisi ini perlahan akan membentuk pola keterikatan avoidant, di mana seorang anak terbiasa menekan kebutuhan emosionalnya dan menjauh dari hubungan karena takut mendapatkan penolakan. Dilansir dari laman fimela disebutkan bahwa Avoidant attachment berakar dari pengalaman masa kecil di mana kebutuhan emosional tidak terpenuhi dengan baik. Anak-anak yang dibesarkan oleh orang tua yang kurang peka terhadap kebutuhan emosional anak membuat anak lebih sering belajar untuk tidak menggantungkan diri pada orang lain dan mereka mengembangkan keyakinan, bahwa menunjukkan kebutuhan emosional justru berisiko dan tidak akan mendapatkan respons yang diinginkan.
Evaluasi Pola Asuh Sejak Dini
Orang tua kerap meyakini bahwa keberhasilan anak berasal dari pola asuh yang telah mereka tanamkan sejak kecil. Didikan yang penuh dengan kontrol dan ketat menjadi metode untuk membentuk anak yang unggul, baik dalam pendidikan maupun karakter. Pasalnya, pola asuh yang sehat tidak berorientasi pada sejauh mana seorang anak mendapatkan hasil yang sempurna, melainkan pada proses dan sejauh mana anak dapat mengenal dirinya dan merasa aman untuk mengembangkan ekspektasinya. Banyak anak perempuan yang tumbuh dengan rasa takut dan cemas untuk bisa merealisasikan ekspektasinya, karena sejak kecil keinginannya selalu dianggap salah dan tidak cukup baik untuk pilihan hidupnya.
Dalam situasi ini, anak sering kali meragukan kemampuan yang ia miliki dan merasa bahwa mereka tidak memiliki bakat. Dilansir dari laman halodoc, anak yang dibesarkan dengan pola asuh ketat cenderung memiliki harga diri lebih rendah, tingkat stres dan kecemasan lebih tinggi, serta lebih sering mengalami masalah perilaku. Anak-anak ini merasa tertekan untuk memenuhi harapan orang tua dan takut dihukum jika gagal, yang berdampak negatif pada kepercayaan diri mereka. Hal ini menjadi pertanda untuk orang tua meninjau ulang arti kata, mendidik. Mendidik bukan berarti memberikan kontrol penuh atau menghakimi mereka, ketika gagal memenuhi ekspektasi. Namun memberikan kesempatan agar anak dapat menemukan arah dan potensinya. Sejatinya, orang tua yang hebat bukan terlahir dari orang tua yang mewariskan luka lama untuk anaknya, melainkan orang tua yang mampu untuk menerima setiap sisi yang dimiliki oleh anak.
Referensi
Aprilia, N., & Mas’adah, N. L. 2025. Dampak Strict Parent terhadap Perkembangan Psikologis Anak Usia Dini. Educational: Journal of Educational Development.
Anisa, N. H. dkk. 2024. Pola Asuh Orang Tua Strict Parents terhadap Perkembangan Sosial Emosional Anak Usia Dini. Early Childhood Journal, Vol. 3 No. 1.
Hasibuan, R. T. dkk. 2024. Dampak Pola Asuh Strict Parents terhadap Perkembangan Psikologis Anak. Journal on Education, Vol. 7 No. 1, September–Desember.
Maulina, C. D. 2025. Mengenal Strict Parents: Pengertian, Ciri-Ciri, dan Dampaknya bagi Anak. Halodoc. Diakses dari: https://www.halodoc.com/artikel/mengenal-strict-parents-pengertian-ciri-ciri-dan-dampaknya-bagi-anak
Suatin, R. M. 2025 . Mengenal Sikap Avoidant dalam Hubungan dan Tanda-Tandanya. Fimela. Diakses dari: https://www.fimela.com/relationship/read/6131381/mengenal-sikap-avoidant-dalam-hubungan-dan-tanda-tandanya

