Close Menu
JalaStoria.idJalaStoria.id
  • Home
  • Ragam
  • Perspektif
  • Storimini
  • Sosok
  • Telaah
    • Hukum
    • Riset
    • Buku
    • Film
  • Konsultasi
  • Mitra
  • Media
  • English Version
Facebook X (Twitter) Instagram YouTube LinkedIn TikTok
  • Tentang Kami
  • Makna Logo
  • Daftar Isi
  • Tim Kami
  • Kirim Tulisan
  • Kontak Kami
  • Arsip
Facebook X (Twitter) Instagram YouTube LinkedIn TikTok
JalaStoria.idJalaStoria.id
  • Home
  • Ragam
  • Perspektif
  • Storimini
  • Sosok
  • Telaah
    • Hukum
    • Riset
    • Buku
    • Film
  • Konsultasi
  • Mitra
  • Media
  • English Version
JalaStoria.idJalaStoria.id
Home»Perspektif»Susahnya Jadi Perempuan

Susahnya Jadi Perempuan

Perspektif jalastoria19 Februari 2020

Oleh: Siti H. Hanifiah

Susahnya jadi perempuan kalau terlalu pintar atau lebih sukses dari pria, dapat membuat para pria minder. Padahal itu hanya cara para pria untuk mendiskreditkan usaha perempuan untuk maju. Mereka hanya merasa gengsi apabila pasangan mereka melebihi mereka, harga diri mereka merasa diinjak-injak. Setidaknya itu yang diucapkan saat para perempuan lebih maju dari pria.

Susahnya jadi perempuan saat para pria dengan mudahnya kagum dengan estetika dan kecantikan instan, banyak tuntutan yang ditujukan kepada perempuan. Betapa kejamnya realita saat perempuan harus memosisikan diri mereka di tempat yang bias. Di mana perempuan harus tetap berpenampilan menarik (yang pasti untuk menarik perhatian kaum adam),  namun di sisi lain tidak boleh terlalu high maintenance.

Susahnya jadi perempuan saat harus bergelut dengan deadline yang tiada akhir, namun di rumah masih harus mengurus anak dan suami yang menunggu kepulangannya. Katanya jadi perempuan jangan terlalu mandiri, nanti pria pada kabur karena mereka tidak merasa dibutuhkan. Katanya pria senang apabila dirinya merasa dibutuhkan, walaupun saat perempuan terlalu manja mereka pun kesal sendiri.

“If you’re a woman, it’s almost impossible to establish a relationship. You’re too much for everybody. It’s too much. The woman always has to play this role of being fragile and dependent. And If you’re not, they’re fascinated by you. But only for a little while. And then they want to change you and crush you. And then they leave. So, lot’s of lonely hotel room my dear.” – Marina Abramovic

Kalimat di atas merupakan salah satu bukti dimana perempuan selalu kesulitan untuk menjadi diri mereka sendiri. Banyak tuntutan yang diberikan kepada mereka baik dari lingkungan, keluarga atau pria. Di zaman yang penuh tuntutan terhadap perempuan karena harus bisa multitasking sedangkan segalanya menjadi double standard.

Berbagai ancaman bukan hanya datang dari para pria yang dengan mudahnya menyakiti dengan kelakuan yang seenaknya. Namun juga ancaman dari diri mereka sendiri dan kaumnya, di mana para perempuan saling membenci karena merasa insecure. Iri dengan kecantikan para perempuan lain, yang habis-habisan dipuji oleh para media yang menjual kebohongan.

Kita dibangun oleh dunia yang membentuk persepsi bahwa kecantikan bagi perempuan adalah hal mutlak dan wajib. Berlomba-lomba menjadi yang tercantik terbentuk saat para petinggi produk kecantikan membuat standar sebuah kecantikan. Cantik katanya harus putih, kulit mulus, badan kurus, tinggi semampai, rambut panjang lurus, atau berbagai celotehan lainnya.

Jadi perempuan jangan terlalu sibuk kerja, jangan terlalu pemilih, jangan terlalu galak, nanti tidak ada pria yang mau. Berbagai macam kata “jangan ini”, “jangan itu”, “harus ini”, “harus itu” muncul sejak mereka dilahirkan. Saat sang perempuan menikah kemudian bercerai, yang disalahkan juga dirinya. Dibilang salah memilih pasangan, tidak berhati-hati saat memilih pasangan, dikira tidak mendengar nasihat orang tua, sampai yang paling kejam dibilang takut menjadi perawan tua.

Kejamnya realita kehidupan terhadap para perempuan membuat kita kaum hawa jarang merasa dihargai. Sejatinya, perempuan merupakan makhluk paling indah terlepas dari segala keharusan dan kesulitan yang mereka hadapi. Para perempuan hanya butuh untuk dihargai dan diterima dengan segala sifat manusiawinya.

Perempuan jadilah apapun yang kalian inginkan, jangan takut dengan stigma bias karena pria dewasa dan bertanggung jawab tidak akan membatasi potensimu.[]

 

Hobi nonton film dokumenter dan pernah bercita-cita ingin jadi jurnalis perang. Namun saat ini memilih untuk bekerja di salah satu e-commerce sebagai copywriter.

 

 

diskriminasi Pemberdayaan perempuan
Share. WhatsApp Facebook Twitter LinkedIn Tumblr Email Telegram

Related Posts

Parenting Ala Milenial dan Gen Z yang Melunturkan Patriarki

15 Juni 2026

Kala Split Bill Sentil Maskulinitas Pria

7 Mei 2026

Menjaga Perempuan atau Mendidik Laki-laki?

4 Mei 2026

Comments are closed.

Parenting Ala Milenial dan Gen Z yang Melunturkan Patriarki

15 Juni 2026

Memperkuat Komnas Perempuan Melalui RUU HAM

15 Juni 2026

Relasi Gender di Suku Tuareg: Perempuan Tidak Bercadar, Laki-Laki yang Harus Melakukannya

9 Mei 2026

Mengecam Keras Pelaku Kekerasan yang Berlindung di Balik Otoritas Pendidikan dan Keagamaan

9 Mei 2026
banner jalastoria
Facebook X (Twitter) Instagram YouTube LinkedIn TikTok
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Makna Logo
  • Kirim Tulisan
© 2026 | All rights reserved

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.