Close Menu
JalaStoria.idJalaStoria.id
  • Home
  • Ragam
  • Perspektif
  • Storimini
  • Sosok
  • Telaah
    • Hukum
    • Riset
    • Buku
    • Film
  • Konsultasi
  • Mitra
  • Media
  • English Version
Facebook X (Twitter) Instagram YouTube LinkedIn TikTok
  • Tentang Kami
  • Makna Logo
  • Daftar Isi
  • Tim Kami
  • Kirim Tulisan
  • Kontak Kami
  • Arsip
Facebook X (Twitter) Instagram YouTube LinkedIn TikTok
JalaStoria.idJalaStoria.id
  • Home
  • Ragam
  • Perspektif
  • Storimini
  • Sosok
  • Telaah
    • Hukum
    • Riset
    • Buku
    • Film
  • Konsultasi
  • Mitra
  • Media
  • English Version
JalaStoria.idJalaStoria.id
Home»Perspektif»Tak Perlu Menyamar Jadi Laki-laki

Tak Perlu Menyamar Jadi Laki-laki

Perspektif Redaksi Jalastoria30 Maret 2026

Oleh: Kale

“Kita tidak sedang mandiri, kita sedang menyamar jadi laki-laki agar tidak ditindas”

Stigma masyarakat mengenai definisi perempuan manja sering menjadikan sosok perempuan menjadi seorang individu yang lemah. Masyarakat cenderung tidak menyadari jika stigma tersebut bisa membentuk karakter baru seseorang, terutama bagi perempuan yang mandiri secara mental. Perempuan yang memiliki kemandirian secara mental akan dianggap tidak penurut dan manja karena tidak menunjukkan kerja keras layaknya seorang laki-laki. Namun, bagi perempuan yang mandiri secara fisik biasanya lebih bisa ditolerir oleh masyarakat. Karena stigma masyarakat mengenai perempuan mandiri mental yang dianggap sulit diatur, akhirnya mereka mengalihkan energi mandiri mereka ke arah fisik. Misalnya kerja keras gila-gilaan dan angkat beban sendiri. Untuk apa? untuk membuat orang berhenti mempertanyakan otoritas mental mereka. Akhirnya perempuan melakukan etos kerja maskulin yang toksik demi mendapatkan rasa hormat.

Di masyarakat, kekuatan identik dengan maskulinitas kasar. Secara halusnya kalau seorang perempuan hanya mandiri secara mental, maka dia akan kalah karena hanya dianggap pemberontak. Tetapi jika perempuan itu mandiri secara fisik, seperti halnya punya uang, jabatan, dan bisa segalanya sendiri, barulah opininya dianggap valid. Hal ini yang menjadikan mereka ingin kemandirian tapi bukan karena ingin hidup sendiri di hutan, melainkan kenyataan bahwa di mata masyarakat, kerapuhan adalah celah bagi penindasan.

Tahukah kalian istilah internalized misogyny? Fenomena ini terjadi ketika perempuan secara tidak sadar mengadopsi dan memproyeksikan kepercayaan, stereotip, dan prasangka seksis tentang perempuan, yang kemudian membuat perempuan merasa bahwa eksistensial mental mereka saja tidaklah cukup. Mereka membenci kelemahan mereka sendiri, karena secara tidak sadar mereka sudah diajarkan bahwa perempuan=lemah. Itulah yang akhirnya membuat mereka melakukan inversi bertahan hidup dengan menjadi seorang perempuan dengan kemandirian fisik selaras dengan hasrat masyarakat. Masyarakat selalu mengagung-agungkan kemandirian terutama dalam hal fisik mungkin karena tekanan sejarah dan stigma masa lalu. Mereka harus bisa berpikir logis sekeras baja (mental), bekerja setangguh kuda (fisik), tetapi juga harus mengelola emosi keluarga (feminin). Padahal kemandirian fisik sering kali adalah bentuk teriakan minta tolong yang dibungkus dalam produktivitas tinggi.

Hal ini menjadikan perempuan cenderung merasa bahwa dia tidak berharga tanpa performa maskulinnya. Logikanya seperti ini, “aku boleh punya pendapat, asalkan aku bisa membuktikan jika aku bisa angkat beban, cari uang, atau kerja lebih keras dari laki-laki.” Akibatnya definisi mandiri yang berarti bertanggung jawab atas kehidupannya sendiri berubah menjadi mandiri adalah tidak butuh siapa pun.

Seorang perempuan yang terjebak dalam internalized misogyny akan melihat bantuan sebagai sebuah penghinaan. Mereka menolak bantuan fisik karena takut orang akan menilainya lemah, bukan karena mereka mampu melakukannya sendiri. Mungkin kemandirian fisik perempuan sebenarnya adalah evolusi paksa yang dilakukan masyarakat terhadap mereka. Namun ajaibnya adalah ketika perempuan menolak menjadi batu, dan memilih untuk tetap menjadi air yang bisa menghancurkan batu tanpa harus kehilangan sifat cairnya, justru yang membuat mereka menjadi sosok yang tangguh dan mampu bertanggung jawab atas hidupnya. Istilah dia tetap menjadi air bermakna bahwa dia mandiri secara mental—prinsipnya tak tergoyahkan, punya empati, intuisi, dan emosi. Perempuan tidak perlu jadi batu—maskulin kaku untuk menang. Justru dia menang karena dia beradaptasi tanpa kehilangan jati dirinya sebagai perempuan. Perempuan berhak hidup dengan penerimaan diri secara feminin atau maskulin, sebagai suatu padu.

Punya otoritas penuh atas definisi diri sendiri adalah bentuk kedaulatan mental yang sesungguhnya. Pilihannya ada di tangan kita—memilih menjadi seorang perempuan dengan kedaulatan diri penuh atau seorang perempuan yang terstigma standar masyarakat?

 

Penulis adalah seorang pemikir bebas yang tertarik membedah pola perilaku dan transformasi kepribadian manusia.

Share. WhatsApp Facebook Twitter LinkedIn Tumblr Email Telegram

Related Posts

Kala Split Bill Sentil Maskulinitas Pria

7 Mei 2026

Menjaga Perempuan atau Mendidik Laki-laki?

4 Mei 2026

Teror terhadap Perempuan Pembela HAM dan Erosi Kebebasan Berpendapat

28 April 2026

Comments are closed.

Relasi Gender di Suku Tuareg: Perempuan Tidak Bercadar, Laki-Laki yang Harus Melakukannya

9 Mei 2026

Mengecam Keras Pelaku Kekerasan yang Berlindung di Balik Otoritas Pendidikan dan Keagamaan

9 Mei 2026

Kala Split Bill Sentil Maskulinitas Pria

7 Mei 2026

Menjaga Perempuan atau Mendidik Laki-laki?

4 Mei 2026
banner jalastoria
Facebook X (Twitter) Instagram YouTube LinkedIn TikTok
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Makna Logo
  • Kirim Tulisan
© 2026 | All rights reserved

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.