Close Menu
JalaStoria.idJalaStoria.id
  • Home
  • Ragam
  • Perspektif
  • Storimini
  • Sosok
  • Telaah
    • Hukum
    • Riset
    • Buku
    • Film
  • Konsultasi
  • Mitra
  • Media
  • English Version
Facebook X (Twitter) Instagram YouTube LinkedIn TikTok
  • Tentang Kami
  • Makna Logo
  • Daftar Isi
  • Tim Kami
  • Kirim Tulisan
  • Kontak Kami
  • Arsip
Facebook X (Twitter) Instagram YouTube LinkedIn TikTok
JalaStoria.idJalaStoria.id
  • Home
  • Ragam
  • Perspektif
  • Storimini
  • Sosok
  • Telaah
    • Hukum
    • Riset
    • Buku
    • Film
  • Konsultasi
  • Mitra
  • Media
  • English Version
JalaStoria.idJalaStoria.id
Home»Telaah»Film»Tidak Perlu Menjadi Parasite untuk Menang Oscar

Tidak Perlu Menjadi Parasite untuk Menang Oscar

Film jalastoria17 Februari 2020
Parasite
(Foto: Pinterest/20centuryfox.online)

Di tengah gemerlap film Hollywood, Parasite berhasil mencuri perhatian dunia dengan premis antara si kaya dan si miskin. Sejatinya, isu kesenjangan sosial sudah sering diangkat dalam sebuah film. Lalu, apa yang membuat film Korea Selatan ini sukses mengubah stigma para juri Oscar?

 

Sebenarnya Parasite bukanlah film Asia pertama yang berhasil masuk nominasi Oscar, ada Rashomon (1952), Crouching Tiger Hidden Dragon (2001), Spirited Away (2003), Departures (2009), A Separation (2012), A Girl in the River: The Price of Forgiveness (2016), dan The Salesman (2017).

 

Namun dari ketujuh film tersebut tidak ada yang berhasil membawa pulang penghargaan “Best Picture” seperti Parasite. Dari 6 nominasi Oscar, Parasite menggondol empat piala, “Best Picture”, “Best Director”, “Best Foreign Language Film”, dan “Best Original Screenplay”.

 

Menilik keberhasilan Parasite di Academy Awards memang menarik untuk dibahas. Bagi pecinta film Korea Selatan, Bong Joon-ho bukanlah sineas baru. Sejak kemunculannya melalui Memories of Murder dan The Host, sutradara 50 tahun ini berhasil memberi angin segar pada industri perfilman Asia.

 

Melalui Parasite, Bong-Joon Ho menghadirkan narasi disfungsi sosial yang terjadi pada masyarakat global. Kekuatan sinematografi dan set dalam film ini juga patut diacungi jempol. Visual tersebut menjelaskan dengan gamblang bagaimana kehidupan dua sisi kelas sosial di Korea Selatan.

 

Sindiran pedas yang digambarkan melalui kehidupan keluarga Ki Taek yang tinggal di apartemen bawah tanah, menjelaskan potret kumuh yang jauh dari kata glamor. Berbanding terbalik dengan keluarga Park yang kaya raya dan tinggal di perumahan elit. Joon-ho memberi kesan yang kuat dalam setiap adegannya.

 

Atmosfer yang diperlihatkan oleh kedua keluarga berbeda kelas juga sangat apik. Salah satunya saat Ki Taek dan istrinya, Choong- Sook membicarakan istri Tuan Park. Bahwa dia baik justru karena dia kaya, bukan karena dia kaya dan baik. Dialog sinis yang menggelitik justru diambil Joon-ho dari perspektif si miskin.

 

Konflik yang terjadi dari awal hingga akhir juga digambarkan melalui eskalasi yang mulus tanpa cela. Membuat emosi para penonton campur aduk dan mengabaikan persepsi antara salah dan benar. Salah satunya saat Ki Taek dan keluarganya yang menghalalkan segala cara untuk menyingkirkan para pegawai di rumah keluarga Park.

 

Jelas sekali bahwa yang dilakukan keluarga Ki taek salah, namun saat menyaksikannya para penonton menganggap itu hal lazim. Ironis? Sudah pasti, memang banyak hal yang terjadi di masyarakat saat ini jauh dari penilaian hitam dan putih. Inilah gambaran nyata bahwa moral akan hilang saat masyarakat berusaha untuk bertahan hidup.

 

Parasite berhasil menggambarkan ironi nyata dengan pesan sederhana bahwa hidup itu tidak perlu direncanakan. Seperti yang Ki Taek katakan pada putranya Ki-woo, bahwa rencana yang tidak pernah gagal adalah tidak merencanakan sama sekali. Ki taek menjelaskan pada putranya bahwa hidup tidak perlu direncanakan, karena hal tersebut sia-sia belaka.

 

Mesti diakui Parasite berhasil mendobrak stigma masyarakat dunia dan Asia. Pasalnya, produksi dan promosi Parasite tidak sebesar nominator film terbaik lainnya. Karena pada akhirnya yang dibutuhkan hanya narasi kuat dan kesan yang ditinggalkan setelah menonton sebuah film.

 

Parasite juga berhasil menjadi film non-bahasa Inggris pertama yang memenangkan penghargaan tertinggi di Academy Awards. Sejatinya, bahasa tidak menjadi kendala untuk menghasilkan sebuah karya berkualitas. Hal ini juga menjadi tamparan bagi negara yang berlomba-lomba menghasilkan film berbahasa Inggris dan melupakan bahasa asli mereka.

 

Tidak perlu menjadi parasit untuk dilihat oleh dunia. Cukup menjadi diri sendiri Parasite berhasil membuktikan kepada dunia. Salut untuk Parasite!

 

Siti H. Hanifiah

Hobi nonton film dokumenter dan pernah bercita-cita ingin jadi jurnalis perang. Namun saat ini memilih untuk bekerja di salah satu e-commerce sebagai copywriter.

diskriminasi kemiskinan
Share. WhatsApp Facebook Twitter LinkedIn Tumblr Email Telegram

Related Posts

Pangku: Tubuh yang Bekerja, Tubuh yang Bertahan

12 Januari 2026

Perjuangan Perempuan Korea dalam Menghadapi Triple Exploitation di Film Factory Complex

12 Januari 2026

Ketimpangan dalam Relasi Intim dan Dampaknya bagi Perempuan: Realita Kelam dalam Drama S Line

11 Januari 2026

Comments are closed.

Relasi Gender di Suku Tuareg: Perempuan Tidak Bercadar, Laki-Laki yang Harus Melakukannya

9 Mei 2026

Mengecam Keras Pelaku Kekerasan yang Berlindung di Balik Otoritas Pendidikan dan Keagamaan

9 Mei 2026

Kala Split Bill Sentil Maskulinitas Pria

7 Mei 2026

Menjaga Perempuan atau Mendidik Laki-laki?

4 Mei 2026
banner jalastoria
Facebook X (Twitter) Instagram YouTube LinkedIn TikTok
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Makna Logo
  • Kirim Tulisan
© 2026 | All rights reserved

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.