Oleh: Siti Muliana
Dalam beberapa waktu terakhir, saya banyak menghabiskan waktu scroll sosial media dan pikiran saya masih tertuju pada salah satu komentar warganet pada sebuah konten video perbedaan perlakuan orang tua terhadap anak laki-laki dan perempuan. Inti dari komentar tersebut kurang lebih seperti ini, bahwa patriarki sebenarnya diciptakan oleh orang tua yaitu dari sosok ibu sendiri.
Tapi benarkah perempuan yang menjadi sosok “ibu” menjadi aktor utama dalam melanggengkan patriarki?
Sebelum lebih jauh, kita harus menyadari bahwa laki-laki sebagai pelaku kekerasan dan penindasan terhadap perempuan dalam budaya patriarki telah diasuh oleh ibu yang masih memegang peran utama dalam pengasuhan. Dari ibulah terutama nilai-nilai patriarkis diturunkan kepada anak, laki-laki dan perempuan. Tanpa disadari, perempuan telah dijadikan sebagai mitra laki-laki untuk turut melanggengkan patiarki (Lianawati 2023).
Sebab tidak dipungkiri, sebagai institusi terkecil dalam masyarakat, keluarga adalah salah satu tempat di mana karakter seseorang terbentuk. Layaknya pemikiran yang melekat pada manusia, karakter dan kebiasaan tidak lahir dari ruang kosong melainkan ia hadir dari berbagai instrumen yang melingkupinya, termasuk dari lingkungan ia tumbuh dan dibesarkan yaitu keluarga.
Dalam budaya patriarki di mana laki-laki memiliki kekuasaan primer dan mendominasi dalam peran kepemimpinan, kekayaan, dan otoritas dalam keluarga dan masyarakat, seringkali terbentuk dan diperkuat melalui praktik pengasuhan keluarga. Melalui praktik ini budaya patriarki ditanam dan diperkuat dari generasi ke generasi (Aini 2024). Meskipun tidak semua laki-laki kasar dan brutal, tetapi sejak kecil laki-laki telah distimulasi dan diarahkan pada kekerasan. Sedikitnya, ada dua sikap orang tua yang menurut saya menunjukkan bagaimana laki-laki dikonstruksi sebagai pelaku kekerasan.
Penegasan Atas Keistimewaan sebagai Laki-laki
Dalam sistem sosial patriarkal, sejak usia dini anak laki-laki tidak hanya dibesarkan untuk menjadi dominan, tetapi juga dibentuk mulai dengan penunjukkan baik secara simbolik maupun tidak bahwa mereka lebih utama, lebih layak, dan lebih berhak atas kekuasaan dan kesempatan. Tidak hanya dalam pengasuhan, tetapi juga secara kultural dalam sistem sosial masyarakat, laki-laki selalu dipertegas sebagai subjek utama. Sebuah kombinasi yang luar biasa, keluarga dan masyarakat luas.
Beragam bentuk wujud keistimewaan laki-laki dalam sistem sosial patriarkal ini sangat biasa dan mudah ditemukan dalam kehidupan sehari-hari. Laki-laki selalu diberi ruang yang lebih besar untuk berbicara, diberi toleransi lebih saat melanggar peraturan, dan lebih sering diposisikan sebagai pemimpin alami dalam keluarga maupun di masyarakat. Realitas ini sangat berbanding terbalik dengan apa yang dialami perempuan. Di mana perempuan sering diposisikan sebagai pelengkap, pendukung, atau objek dari keberhasilan laki-laki.
Dalam konteks pengasuhan, komentar “namanya juga laki-laki” sangat sering didengar sebagai sikap pemakluman orang tua terhadap kesalahan yang dilakukan anak laki-laki. Anak laki-laki cenderung lebih mudah mendapatkan pemakluman dan pengampunan, yang tanpa sadar akan menimbulkan rasa percaya diri laki-laki bahwa ia hadir memang untuk didengar, ditaati, dan dilayani. Maka ketika hak istimewa ini dipertanyakan dan digugat oleh orang lain, entah itu oleh pasangan atau rekan kerja, yang sering muncul adalah sikap agresif sebagai bentuk pemulihan atas kehormatan yang dirasa terganggu. Lagi-lagi sikap agresif yang muncul disebabkan oleh konflik harga diri.
Ragam hak istimewa terhadap laki-laki ini berlangsung selama berabad-abad dalam sejarah manusia, beroperasi melalui mekanisme sosial yang tidak kasatmata. Menjelma menjadi sistem hukum, tafsir agama, serta representasi media yang semuanya mendudukkan laki-laki sebagai pahlawan dan subjek utama. Dalam semua dimensi ini, kekerasan yang dilakukan laki-laki tidak lagi hanya muncul dari dalam dirinya, tetapi juga dari sistem yang meyakinkan bahwa ia berhak melakukan itu.
Bukankah kita sering melihat bagaimana laki-laki ketika ia memasuki usia baligh (cukup) yang ditandai dengan dikhitan dirayakan secara meriah dan menerima beragam hadiah. Sebaliknya, perempuan ketika ia baligh dengan ditandai menstruasi cenderung ditutupi seolah-olah menstruasi adalah aib. Ini adalah satu contoh dari banyak hal bagaimana laki-laki diposisikan istimewa dibanding perempuan.
Pemisahan dari Emosi, Kepekaan, dan Empati
Dalam beberapa konteks sosial budaya di dunia, khususnya di Indonesia, pola pengasuhan anak laki-laki sering kali dibingkai dalam nilai-nilai maskulinitas hegemonik yang menekankan kekuatan fisik, ketangguhan mental, dan superioritas atas nilai-nilai yang dianggap feminin. Artinya, menjadi laki-laki berarti tidak boleh jadi keperempuan-keperempuanan. Sejak kecil, anak laki-laki diarahkan untuk memisahkan diri dari emosi-emosi yang dianggap lemah seperti rasa sedih, takut, atau cemas. Kebalikan dari tuntutan terhadap anak perempuan, kepada anak laki-laki ia dijauhkan dari kelembutan dan kehangatan. Laki-laki bahkan telah didorong untuk selalu menampilkan ketegaran, dan dalam segala prosesnya, kepekaan serta empati secara perlahan dipinggirkan dari kepribadian mereka.
Beberapa ucapan yang kerap kali dilontarkan kepada anak laki-laki dan telah dianggap biasa seperti “laki-laki gak boleh nangis” atau “kamu laki-laki harus kuat, gak boleh lembek seperti itu” dan ragam ucapan serupa lainnya. Beberapa contoh ini adalah representasi simbolik dari proses sosial yang menyingkirkan ruang-ruang ekspresi emosional yang sehat untuk laki-laki.
Maka, tanpa disadari laki-laki tumbuh tanpa kesempatan untuk mengidentifikasi, menamai, atau mengolah emosinya. Dampaknya, laki-laki akan mengalami keterputusan dari aspek penting kemanusiaannya. Belum lagi dengan penghargaan masyarakat atas keberanian, kemampuan bertarung, atau penguasaan laki-laki yang dijejaki kepada kita menunjukkan bagaimana maskulinitas ini dipelihara.
Dua sikap orang tua kepada anak laki-laki ini sangat sering kita temui dalam kehidupan sehari-hari. Bahwa laki-laki menjadi pelaku kekerasan dan bagaimana maskulinitas dipelihara dan dilanggengkan tidak sesederhana yang tampak. Perempuan yang katanya memegang peranan penting dalam melanggengkan patriarki lagi-lagi menunjukkan bahwa menjadi perempuan penuh dengan stigma dan tekanan.
Dalam hal apapun, perempuan adalah pihak yang selalu disalahkan. Alih-alih fokus pada dominasi laki-laki yang menyetir pengasuhan melalui perempuan, kita tampaknya mengabaikan fakta bahwa dalam masyarakat patriarkal ini perempuan tidak banyak pilihan. Apalagi bagi perempuan yang tidak cukup memiliki akses terhadap literasi dan pendidikan.
Penulis adalah mahasiswi Pascasarjana PTIQ Jakarta
Sumber:
Aini, Kurrota. 2024. “Pendidikan Kesetaraan Gender Dalam Pengasuhan Anak Sebuah Analisis Dari Perspektif Islam.” Ummul Qura Jurnal Institut Pesantren Sunan Drajat (INSUD) Lamongan 19 (1): 46–57. https://doi.org/10.55352/uq.v19i1.864.
Lianawati, Ester. 2023. Akhir Penjantanan Dunia. Yogyakarta.

