Oleh: Athayu Mayang Sabilla
“Every conquest I had made, would make me more of a boss to you”
“Setiap pencapaian yang aku raih, akan membuatku terlihat lebih berkuasa di matamu”.Lirik lagu The Man, Taylor Swift
Taylor Swift merupakan salah satu musisi perempuan paling sukses dan berpengaruh di dunia saat ini. Walau demikian, ia menjadi contoh nyata dari ketimpangan gender yang terjadi di industri musik. Para pendengar masih kerap memandang artis perempuan lebih inferior dibandingkan dengan artis laki-laki.
Taylor Swift memulai kariernya pada tahun 2006 saat ia merilis album debut berjudul Taylor Swift, dan sejak saat itu, kesuksesannya terus tumbuh. Sayangnya, setiap pencapaian besar yang ia raih sering kali diiringi dengan komentar sinis atau pujian yang mengandung ejekan hingga kritik terhadap ranah personal hidupnya. Komentar terhadap kehidupan asmara hingga perubahan gaya musiknya hanyalah sekian dari serangkaian perlakuan negatif yang ia hadapi.
Salah satu momen yang mengubah segalanya terjadi pada ajang Video Music Awards tahun 2009. Taylor Swift yang saat itu berusia 19 tahun dan sedang naik daun, berhasil memenangkan penghargaan untuk Video Terbaik oleh Artis Perempuan. Namun saat ia sedang memberikan pidato penerimaan penghargaan, Kanye West yang merupakan seorang rapper, produser, serta pengusaha asal Amerika dan juga salah satu sosok paling berpengaruh sekaligus kontroversial dalam industri hiburan, secara tiba-tiba naik ke panggung dan menyela dengan mengatakan bahwa video musik Beyoncé adalah salah satu yang terbaik sepanjang masa. Tindakan ini bukan hanya karena tidak sopan, tapi juga simbol nyata dari bagaimana seorang pria bisa dengan mudah merendahkan seorang perempuan yang tengah mendapatkan pengakuan atas karyanya.
Tujuh tahun setelah kejadian itu, Kanye West merilis lagu berjudul Famous. Video klip lagu ini menampilkan sosok-sosok telanjang di atas ranjang, termasuk satu yang sangat menyerupai Taylor Swift. Walaupun itu bukan Taylor sungguhan, adegan itu bisa digolongkan sebagai bentuk revenge porn atau penyebaran konten seksual tanpa izin untuk mempermalukan seseorang.
Dalam lirik lagu tersebut, ia menyebutkan, “Aku merasa aku dan Taylor mungkin masih bisa berhubungan seks. Kenapa? Aku membuat jalang itu terkenal”. Selain narasi yang agresif dan seksis dalam lirik itu, pernyataan bahwa Kanye West membuat Taylor Swift terkenal mencerminkan narasi misoginis dalam industri hiburan yakni keyakinan bahwa kesuksesan perempuan selalu bergantung pada peran atau pengaruh laki-laki. Ungkapan ini bukan sekadar bentuk kesombongan pribadi, tetapi mencerminkan cara pandang yang merendahkan perempuan, seolah-olah mereka tidak mungkin meraih ketenaran atau pengakuan tanpa adanya keterlibatan laki-laki dalam perjalanan karier mereka. Narasi seperti ini sangat berbahaya karena menghapus kerja keras, bakat, dan dedikasi yang telah dibangun oleh perempuan selama bertahun-tahun.
Dalam kasus Taylor Swift, klaim tersebut sepenuhnya mengabaikan fakta bahwa ia telah menulis lagu-lagunya sendiri sejak usia muda, membangun koneksi kuat dengan para pendengarnya, dan menciptakan karya-karya yang tidak hanya populer secara komersil, tetapi juga mendapat pengakuan kritis. Kesuksesannya adalah hasil dari konsistensi, kecerdasan kreatif, dan keberanian untuk terus berkembang.
Tindakan ini menunjukkan bagaimana Kanye, sebagai sosok pria berkuasa di industri musik, menggunakan seksualitas dan peran gender untuk merendahkan dan mempermalukan perempuan. Penggunaan kata “jalang” dalam lirik Kanye tersebut memiliki sejarah panjang sebagai kata yang digunakan untuk merendahkan perempuan, menstigma mereka dengan cara yang sangat merendahkan. Taylor sendiri menanggapi penggunaan kata ini melalui lagunya yang berjudul The Man. Lagu ini menjadi semacam anthem feminis yang mengisahkan pengalamannya sebagai seorang perempuan dalam industri musik yang didominasi laki-laki.
Dalam lagu tersebut, ia membayangkan bagaimana jika dirinya adalah seorang pria dan membandingkan bagaimana perilaku yang sama bisa dipandang berbeda hanya karena gender. Ia menyindir bagaimana pria yang pamer uang dan bergaul dengan banyak wanita dipandang keren, tapi jika perempuan melakukan hal serupa, maka ia langsung dicap buruk. Melalui lagu ini, Taylor menyuarakan kritik terhadap bagaimana perempuan sering kali diperlakukan tidak adil dan direndahkan hanya karena mereka perempuan. Di dunia hiburan, perempuan sering kali dipuja dan ditempatkan di atas panggung sebagai ikon, namun di balik itu mereka diabaikan, dikritik secara tidak adil, dan dituntut untuk selalu berubah agar tetap relevan dan sukses.
Meski menghadapi semua tantangan itu, Taylor Swift berhasil membuktikan dirinya sebagai sosok yang tangguh dan inspiratif. Mendekati usia 35 tahun, ia masih mampu memecahkan berbagai rekor dan mencetak sejarah dalam dunia musik. Salah satu pencapaian terbesarnya adalah tur dunia yang diberi nama The Eras Tour, yang berhasil menjadi tur musik dengan pendapatan tertinggi sepanjang masa. Selain itu, Taylor juga telah meraih berbagai penghargaan bergengsi, seperti 11 Grammy Awards, 14 Video Music Awards, dan bahkan gelar doktor kehormatan dari New York University.
Pada saat menerima penghargaan Woman of the Decade dari Billboard pada tahun 2019, Taylor berbicara mengenai bagaimana ia pernah mencoba membentuk dirinya agar sesuai dengan apa yang diinginkan publik. Ia pernah secara terbuka berbagi tentang tekanan standar kecantikan yang tidak realistis yang mempengaruhi kesehatan mentalnya hingga menyebabkan gangguan makan. Namun ia menyadari bahwa tidak mungkin membuat semua orang puas, sehingga lebih baik ia melakukan apa yang memang ia inginkan dan dirasanya benar. Sikap ini memperlihatkan kedewasaan dan keberanian Taylor untuk menjadi diri sendiri meski harus menghadapi kritik dan ekspektasi yang berat.
Dengan masifnya jumlah penggemar dan dampak yang bisa ia berikan, keberanian Taylor membuka diri tentang hal-hal tersebut dan berusaha mengubah stigma serta menyuarakan pentingnya dukungan bagi perempuan yang mengalami hal serupa. Kejadian ini juga menjadikannya tidak hanya sebagai ikon musik pop, namun juga sebagai salah satu figur berpengaruh, pelopor, dan inspirasi bagi perempuan muda di seluruh dunia, untuk terus berkarya dan menciptakan perubahan walaupun di tengah lingkungan yang masih memandang perempuan secara inferior.
Penulis adalah mahasiswi yang memiliki ketertarikan terhadap berbagai isu gender. Ketertarikannya pada isu ini lahir dari pengalaman, pengamatan, dan dorongan untuk menciptakan ruang yang lebih adil dan aman bagi perempuan dan kelompok rentan.
Lagu Kanye West Famous:
https://youtu.be/iRyKLQWY9CA?feature=shared
Lagu Taylor Swift The Man:
https://youtu.be/tbEekLA7J3Y?feature=shared
Taylor Swift memenangkan Video Music Awards

