Sumber foto: Nawal El Saadawi: Egyptian author and activist who challenged taboos | The Independent
Oleh: Muhammad Asyrofudin
Mesir memiliki sejarah dan budaya patriarki yang kuat. Beberapa gerakan perempuan di Mesir menjadi bukti nyata bahwa kondisi di negeri piramida ini –baik secara struktural maupun kultural– masih menomorduakan perempuan dalam segala aspek kehidupan.
Tokoh seperti Rifa’ah Al-Tahtawi, pelopor gerakan pembaharuan di Mesir, mengusung salah satu gerakannya yaitu pembaharuan kondisi perempuan dan upaya pemenuhan hak-hak mereka. Ia menulis Al-Mursyid Al-Amin Lil Banat Wal Banin (Petunjuk aman Untuk Anak Perempuan dan Laki-laki) pada 1872, yang memuat pemahaman bahwa reformasi kondisi perempuan dan perbaikan nasib mereka adalah hal yang sangat fundamental.
Setelah itu, muncul Qasim Amin yang menggulirkan beberapa pemikiran sebagai bentuk gerakan pembebasan perempuan pada masanya di Mesir. Ia mempertanyakan kembali persoalan jilbab bagi perempuan, membatasi hak suami atas talak dalam hubungan pernikahan, dan mengkritik maraknya praktik poligami. Ketiga pemikirannya tertuang dalam karyanya yang berjudul Tahriru Al-Mar’ah (Pembebasan Perempuan).
Estafet gerakan perempuan pun dilanjutkan oleh beberapa tokoh pembaharu setelahnya, seperti Muhammad Abduh, Malak Hafni Nasif, dan bahkan disuarakan lantang oleh Nawal El-Sadawi yang selalu memperjuangkan nilai-nilai keadilan dan kesetaraan antara laki-laki dan perempuan.
Namun demikian, beberapa gerakan yang dipromotori perempuan masih menjadi catatan minor dalam lanskap sejarah dunia. Dari sini, tulisan ini akan membahas hadirnya seorang revolusioner perempuan yang lahir dari kepungan budaya patriarki di negerinya sendiri, yaitu Nawal El-Sadawi.
Nawal El-Sadawi
Nawal El-Sadawi lahir dari keluarga kelas menengah ke atas di Mesir. Ayahnya seorang berpendidikan dan ibunya seorang pengajar di sekolah-sekolah Prancis. Selain itu, ayahnya menjabat di Kementerian Pendidikan dan berjuang melawan kekuasaan Inggris pada revolusi 1919. Akibat perlawanan tersebut, ayahnya diasingkan dan tidak dipromosikan selama 10 tahun di Delta Sungai Nil, sebuah kota kecil di Mesir. Namun, dari pengalaman ayahnya, Nawal belajar dan tumbuh menjadi seorang perempuan yang berani dan mau berpikir.
Nawal mengawali perjalanan intelektualnya di Universitas Cairo Medical School pada tahun 1949 dan lulus pada tahun 1955, ia berhasil menyandang gelar MD. Setelahnya, ia berlatih menjadi dokter medis selama dua tahun. Selanjutnya, dari tahun 1963 hingga 1972, ia belajar di Universitas Columbia New York, dan pada saat yang bersamaan ia juga bekerja untuk pemerintah Mesir sebagai Direktur Jenderal Pendidikan Kesehatan Masyarakat.
Dari perjalanan kiprahnya, ia melihat dan merasakan adanya kejanggalan dalam realitas empiris yang ia jalani. Di balik bayang-bayang traumatis, ia pun menyuarakan suaranya melalui beberapa karya—termasuk fiksi—untuk mengubah tradisi yang cenderung menyakiti perempuan.
Suara Nawal El-Sadawi yang Mengguncang Dunia
Sebagai perempuan yang lahir di lingkungan budaya patriarki, Nawal dengan karya-karyanya mampu mengguncang stabilitas konstruk sosial yang membentuk relasi laki-laki dan perempuan di Mesir. Pada tahun 1977, Nawal El Saadawi merilis novel kontroversial, yang dalam terjemahan Bahasa Indonesia nevel itu berjudul Perempuan di Titik Nol. Novel ini mengisahkan seorang perempuan yang menghadapi hukuman mati di penjara Mesir, di mana melalui karakter utamanya yang bernama Firdaus, Nawal menyoroti penderitaan dan ketidaksetaraan yang dialami perempuan dalam nuansa Masyarakat patriarki.
Dari karya inilah, Nawal mendekap di penjara pada saat Mesir di bawah pimpinan Anwar Sadat (1981). Selain itu, ia menolak keras praktik sunat perempuan yang dibungkus oleh bingkai budaya. Pasalnya, saat berusia enam tahun, ia menjadi korban penyunatan perempuan; ia diperlakukan layaknya bukan manusia dan hal itu pula yang dirasakan oleh saudara-saudara perempuannya. Dari insiden yang traumatis itulah, ia berusaha mengubah praktik yang menyakitkan sekaligus berisiko menghilangkan nyawa perempuan tersebut, dengan dukungan ilmu-ilmu kedokterannya.
Sebab, tradisi sunat di mesir diyakini sebagai ritual kedewasaan, bahkan tradisi sunat perempuan di Mesir menjadi awal lahirnya tradisi sunat perempuan. Ia lahir dari perpaduan budaya antara Mesir Kuno dan Romawi. Sebagai tradisi yang sudah diyakini mayoritas masyarakat Mesir, meninggalkannya pun menjadi suatu yang sangat ganjil.
Selain itu, ia juga sering menyaksikan aksi kekerasan terhadap anak perempuan di negerinya. Di sisi lain, sikap kasar ayahnya terhadap ibunya menjadikan tekadnya untuk menyuarakan hak-hak perempuan semakin bulat. Melalui karya-karyanya, ia yakin bahwa fakta dan fiksi tidak dapat dipisahkan, sama halnya dengan tubuh dan pikiran. Oleh karena itu, ia menulis fiksi untuk mengungkapkan fakta yang sebenarnya.
Nawal dengan beberapa pemikiran dan suaranya, menjadi terkenal sebagai salah satu feminis terkemuka di dunia Arab. Karya-karyanya mampu terdengar hampir di seluruh lapisan dunia, termasuk di Indonesia. Lebih dari itu, Nawal dan pemikirannya berhasil mengubah cara pandang patriarkal dan telah menjadi rujukan bagi gerakan perempuan di dunia yang memperjuangkan hak-hak perempuan yang selama ini terabaikan.
Memperjuangkan Kedudukan Perempuan
Dalam salah satu karyanya yang sangat terkenal sekaligus kontroversial, Perempuan di Titik Nol (2019), Nawal mengungkapkan fakta yang terjadi di negerinya melalui fiksi dengan tokoh utamanya, yaitu Firdaus. Firdaus dalam cerita ini mengalami manifestasi ketidakadilan gender. Karena tidak ingin terus-menerus tertindas dan tersakiti, ia memilih bangkit dan melawan untuk menyuarakan hak dan harga dirinya sebagai perempuan. Sehingga, Firdaus berhasil terlepas dari kuatnya dominasi laki-laki dan ia berhasil mengaktualisasikan dirinya di tengah kepungan budaya patriarki di Mesir.
Kisah Firdaus yang diangkat Nawal dalam fiksinya adalah bentuk perlawanan sunyi perempuan yang lahir dari situasi pelik yang ia dan perempuan lainnya rasakan. Suara itu menjelma dalam teks yang berbisik, bahwa kehidupan perempuan juga sangat bermakna. Baginya, perempuan bukan hanya entitas kosong yang tidak memiliki eksistensi dan esensi.
Begitupun dalam karyanya, Woman and Sex (1972), yang membahas hal seputar kekerasan pada Perempuan, termasuk tradisi sunat Perempuan. Meskipun, buku ini memiliki batu sandungan tersendiri dalam penyebaranya, yang mana, buku ini dilarang beredar selama hampir 20 tahun di Mesir. Woman and Sex berhasil memberikan cara pandang baru bagi Masyarakat Mesir terhadap perempuan. Sebab, ia menjelma bukan sebagai fiksi, melainkan pengetahuan yang berbasis ilmiah.
Suara Nawal yang menjelma menjadi teks, merupakan sebuah gerakan sunyi untuk keluar dari tekanan hegemoni budaya yang masih bercokol hingga kini. Sehingga, Nawal dan beberapa karyanya adalah sebuah jawaban untuk menyingkirkan beberapa praktik yang cenderung menyakiti Perempuan, baik melalui budaya bahkan agama.
Penulis adalah mahasiswa UIN Raden Mas Said Surakarta, sekaligus santri Pondok Pesantren Ngeboran dan Alumni PP Daral Tauhid Arjawinangun-Cirebon
Referensi:
Syafiq Hasyim dkk., “Gerakan Perempuan dalam Islam: Perspektif Kesejarahan Kontemporer”, Majalah Tashwirul Afkar, No. 5, (1999)
