Oleh: Desi Fajar Permatasari, Ania Safitri, Meisa Ruslina
Di jalanan kota yang padat, perempuan dengan jaket ojek online sering dianggap biasa saja. Mereka datang dan pergi, mengantar makanan, paket, atau penumpang, lalu hilang di antara lalu lintas. Kehadiran mereka kerap tak benar-benar dilihat sebagai bagian penting yang menopang kehidupan kota. Bahkan, di beberapa ruang seperti pusat perbelanjaan, mereka masih diminta melepas jaket, seolah identitas sebagai driver harus disembunyikan agar tidak mengganggu tatanan ruang publik. Di titik itu, jelas yang dipertaruhkan bukan hanya pekerjaan, tetapi juga pengakuan.
Tapi bagi Lily Pujiati, jalanan bukan sekadar tempat mencari nafkah. Jalanan adalah ruang perjuangan. Lily bukan hanya pengemudi ojek online. Ia adalah Ketua Serikat Pekerja Angkutan Indonesia (SPAI), sebuah organisasi yang lahir dari kegelisahan para driver yang merasa tidak pernah benar-benar dianggap sebagai pekerja.
Perjalanan hidupnya tidak sederhana. Ia pernah menjadi pekerja migran, berpindah dari satu negara ke negara lain, bahkan mengalami situasi eksploitasi. Dari pengalaman itu, ia belajar satu hal penting. Kalau tidak bersuara, tidak akan ada yang membela. Kesadaran itulah yang kemudian ia bawa ketika terjun ke dunia ojek online.
Perempuan di Balik Kemudi, Risiko di Balik Layar
Bekerja sebagai driver ojol bagi perempuan bukan sekadar soal mengantar penumpang atau pesanan. Ada banyak hal yang tidak terlihat. Banyak dari mereka adalah ibu tunggal. Mereka bekerja berjam-jam sambil tetap memikirkan anak di rumah. Tidak sedikit yang bahkan membawa anak saat bekerja.
Di sisi lain, risiko yang dihadapi juga berbeda. Pelecehan dari pelanggan, rasa tidak aman saat bekerja malam, hingga perlakuan tidak adil dari sistem aplikasi menjadi bagian dari keseharian. Kini, beberapa memilih hanya mengambil order makanan atau barang demi menghindari penumpang laki-laki. Pilihan yang sebenarnya bukan pilihan, tapi bentuk bertahan.
Ironisnya, ketika mengalami masalah, mereka justru takut melapor. Bukan karena tidak berani, tapi karena khawatir akunnya di-suspend atau bahkan diputus. Dalam sistem ini, kehilangan akun sama dengan kehilangan pekerjaan.
Fleksibilitas yang terasa seperti jebakan?
Ekonomi digital sering menjanjikan fleksibilitas. Katanya, driver bisa bekerja kapan saja, bebas mengatur waktu sendiri. Tapi bagi Lily dan juga banyak driver lain, fleksibilitas itu terasa semu. Driver tetap harus bekerja berjam-jam untuk mendapatkan penghasilan yang cukup. Kalau tidak, tentu tidak akan mendapat apa-apa. Tidak ada gaji tetap, tidak ada jaminan. Bahkan untuk hal sederhana seperti pembatalan order, driver bisa dirugikan. Sudah menempuh jarak beberapa kilometer, tiba-tiba order dibatalkan. Waktu hilang, bensin habis, tapi tidak ada kompensasi perusahaan.
Sistem aplikasi juga tidak sepenuhnya transparan. Driver merasa dikontrol oleh algoritma yang tidak mereka pahami. Kalau terlalu sering menolak atau melewati order, akun bisa sepi. Anyep. Kalau membatalkan, ada risiko penalti. Semua itu membuat posisi driver sangat rentan, tapi tetap dibungkus dengan istilah “kemitraan”.
Kenapa harus berserikat?
Dari situlah SPAI lahir pada 2022. Bagi Lily, berserikat adalah cara untuk mengubah posisi dari individu yang lemah menjadi kolektif yang punya suara. Anggotanya memang belum besar, sekitar seribuan orang. Tapi mereka aktif bergerak. Mereka berdiskusi, melakukan pendidikan tentang hak pekerja, hingga turun ke jalan untuk menyuarakan tuntutan.
SPAI juga tidak hanya bicara soal upah. Mereka bicara tentang hal-hal yang sering dianggap sepele, tapi sebenarnya sangat penting bagi perempuan. Seperti hak cuti haid, cuti melahirkan, jaminan sosial, hingga kebutuhan akan tempat penitipan anak. Karena bagi driver perempuan, bekerja bukan hanya soal mencari uang. Ada tubuh yang harus dijaga, ada peran domestik yang tetap berjalan, dan ada risiko yang terus mengintai.
Salah satu kritik paling keras yang disampaikan Lily adalah soal absennya negara. Menurutnya, pemerintah terlalu lambat merespons persoalan ini. Sudah ada audiensi, sudah ada diskusi, tapi hasilnya belum jelas. Padahal jumlah driver ojol di Indonesia sangat besar, jutaan orang. Dan sekitar empat puluh persennya (40%) adalah perempuan. Tanpa regulasi yang jelas, driver terus berada dalam posisi tidak pasti. Mereka bekerja seperti pekerja, tapi tidak mendapatkan hak sebagai pekerja. Bagi Lily, solusi paling mendasar sebenarnya sederhana. Akui driver sebagai pekerja. Dengan begitu, hak-hak dasar seperti jaminan sosial, upah layak, dan perlindungan hukum bisa mengikuti.
Melawan Rasa Takut
Perjuangan ini tentu tidak mudah. Ada tekanan, ada intimidasi, bahkan ada upaya memecah belah antar driver. Sebagian driver mendapatkan program khusus dari perusahaan dan kemudian berhadapan dengan driver lain yang lebih kritis. Situasi ini membuat gerakan menjadi tidak solid. Belum lagi rasa takut yang sudah terlanjur mengakar. Banyak driver memilih diam karena takut kehilangan penghasilan. Tapi Lily memilih jalan sebaliknya. Ia terus bersuara. Ia percaya bahwa kalau semua orang diam, kondisi tidak akan pernah berubah.
Yang menarik, perjuangan ini tidak berhenti di tingkat lokal. SPAI mulai membawa isu driver ojol ke forum internasional. Mereka pernah hadir dalam pertemuan di Jenewa, Bangkok, dan berbagai forum global lainnya. Tujuannya jelas, agar isu pekerja platform tidak hanya dilihat sebagai masalah lokal, tapi sebagai persoalan global. Karena pada kenyataannya, kondisi driver di banyak negara hampir sama. Mereka disebut mitra, dengan bekerja tanpa perlindungan.
Narasi hidup Lily Pujiati bukan hanya tentang seorang driver yang menjadi aktivis. Ini adalah cerita tentang bagaimana pengalaman hidup bisa berubah menjadi kesadaran, dan kesadaran itu tumbuh menjadi gerakan. Di tengah narasi besar tentang teknologi dan kemajuan, ada suara-suara dari pinggiran yang mengingatkan bahwa tidak semua orang mendapatkan manfaat yang sama.
Sosok seperti Lily menunjukkan bahwa, bahkan dari posisi yang paling rentan sekalipun, perlawanan tetap mungkin. Mungkin, perubahan besar justru dimulai dari mereka yang selama ini termarjinalkan.
Tulisan ini merupakan bentuk dukungan kepada Ibu Lily dan seluruh Ojol perempuan di dunia untuk terus semangat mencari keadilan, melawan rasa takut untuk memperjuangkan hak pekerja. Tulisan ini diterbitkan secara sukarela

