Close Menu
JalaStoria.idJalaStoria.id
  • Home
  • Ragam
  • Perspektif
  • Storimini
  • Sosok
  • Telaah
    • Hukum
    • Riset
    • Buku
    • Film
  • Konsultasi
  • Mitra
  • Media
  • English Version
Facebook X (Twitter) Instagram YouTube LinkedIn TikTok
  • Tentang Kami
  • Makna Logo
  • Daftar Isi
  • Tim Kami
  • Kirim Tulisan
  • Kontak Kami
  • Arsip
Facebook X (Twitter) Instagram YouTube LinkedIn TikTok
JalaStoria.idJalaStoria.id
  • Home
  • Ragam
  • Perspektif
  • Storimini
  • Sosok
  • Telaah
    • Hukum
    • Riset
    • Buku
    • Film
  • Konsultasi
  • Mitra
  • Media
  • English Version
JalaStoria.idJalaStoria.id
Home»Sosok»Muniba Mazari: Suara Dari Kursi Roda

Muniba Mazari: Suara Dari Kursi Roda

Sosok Redaksi Jalastoria12 Agustus 2025

Oleh: Caysa Kusuma Praditha

 

“You don’t need perfect legs to leave perfect footprints.”

(Kamu tidak butuh kaki yang sempurna untuk meninggalkan jejak yang bermakna)

– Muniba Mazari

Sumber gambar: detik.net.id

 

Kutipan itu bukan sekadar kalimat puitis. Bagi Muniba Mazari, perempuan asal Pakistan yang dikenal sebagai pelukis, pembicara motivasi, dan aktivis hak perempuan serta disabilitas, kalimat itu adalah kenyataan yang ia jalani setiap hari. Dalam dunia yang kerap mengukur nilai perempuan dari fisiknya- apakah ia cantik, ramping, sehat, dan bergerak lincah—Muniba justru muncul dari sisi yang berlawanan. Ia tidak bisa berdiri. Ia tidak bisa berjalan. Ia tidak memenuhi semua kriteria yang dikonstruksikan sebagai ideal. Namun justru dari keterbatasan itulah ia membangun kekuatan.

Hari yang Mengubah Segalanya

Muniba berasal dari keluarga Baloch -keturunan dari Iran-  yang konservatif di Kota Rahim Yar Khan, Pakistan. Sebagai perempuan dalam masyarakat patriarkal, ia menjalani banyak hal berdasarkan kehendak keluarga. Pada usia 18 tahun, ia dijodohkan dan menikah, sebuah keputusan yang ia jalani tanpa banyak pertanyaan. Namun ketika ia berusia 21 tahun, hidupnya berubah secara dramatis. Dalam sebuah perjalanan, mobil yang ditumpanginya bersama suami mengalami kecelakaan parah. Kendaraan itu terlempar dari jalan dan terjun ke jurang. Suaminya hanya mengalami luka ringan. Tapi Muniba? Ia menderita patah tulang belakang, cedera serius pada lengan, bahu, dan tulang rusuk.

Setelah dilarikan ke rumah sakit, ia terbangun dengan kenyataan pahit: ia tak bisa berjalan lagi. Lebih dari itu, dokter menyampaikan bahwa ia tidak bisa lagi memiliki anak. Ia kehilangan banyak hal dalam satu waktu—mobilitas, potensi menjadi ibu, serta akhirnya rumah tangganya, karena sang suami memilih pergi. Bagi banyak orang, mungkin ini adalah titik akhir. Tapi Muniba perlahan memilih untuk menjadikannya sebagai awal yang baru.

Berbulan-bulan Muniba terbaring di ranjang rumah sakit. Ia mengalami masa-masa gelap, depresi, kehilangan harga diri. Dalam budaya yang mengukur perempuan dari kemampuan merawat rumah, berpenampilan menarik, dan melahirkan anak, Muniba merasa tak punya ruang untuk pulih. Ia mengaku pernah takut melihat bayangannya sendiri di cermin.

Namun perlahan, ia mulai menemukan jalan keluar melalui lukisan. Dengan kondisi tangan yang masih terasa nyeri, ia mulai mencoretkan warna ke atas kanvas. Awalnya sebagai terapi emosional, namun belakangan menjadi jendela baru untuk hidup. Ia berkata dalam wawancara dengan Forbes, ” I couldn’t find a hero in my life, so I became one”. Muniba tidak menemukan sosol pahlawan dalam hidupnya dan memutuskan untuk menjadi pahlawan untuk dirinya sendiri.

Lukisan-lukisannya menggambarkan emosi yang kompleks—antara kehilangan, harapan, dan cinta. Dari ruang pribadinya, karya-karya itu menjangkau dunia. Ia mulai berbicara di berbagai forum, dari sekolah hingga panggung TEDx, dari televisi lokal hingga konferensi internasional. Tidak dengan nada mengiba, tapi dengan semangat ingin menginspirasi.

Kini, Muniba dikenal sebagai pelukis profesional, pembicara motivasi, dan aktivis sosial. Ia juga menjadi Duta UN Women Pakistan, menyuarakan hak-hak perempuan dan penyandang disabilitas. Kehidupannya tidak berhenti hanya pada ketenaran. Ia juga menjadi ibu dari seorang anak laki-laki yang ia adopsi, Nael—sebuah keputusan yang ia sebut sebagai simbol cinta yang tak tergantung pada kondisi fisik.

Ketika Standar Kecantikan Mulai Dipertanyakan

Muniba tidak hanya bangkit secara pribadi, ia juga menantang sesuatu yang lebih besar: standar kecantikan dan nilai perempuan yang dibangun secara sistemik. Sebelum kecelakaan, ia pun pernah mencoba menjadi perempuan ideal- taat, cantik, dan sesuai ekspektasi masyarakat. Namun setelah kehilangan sebagian besar fungsi tubuhnya, ia menyadari bahwa kecantikan tidak bisa lagi diukur dari hal-hal permukaan.

Baginya, kecantikan sejati terletak pada keberanian untuk menjadi diri sendiri. Ia berkata, “We are all perfectly imperfect.” Kita semua ini sempurna dalam ketidaksempurnaan dan penyataan ini menjadi pesan utamanya dalam setiap penampilan di publik. Seperti ketika ia tampil dalam kampanye kecantikan sebagai model pertama di Pakistan yang menggunakan kursi roda, ia tidak melakukannya untuk memamerkan tubuh. Ia melakukannya untuk menyampaikan pesan: bahwa perempuan tidak harus memenuhi standar visual untuk diakui keberadaannya.

Suara dari Kursi Roda

Kursi roda, bagi banyak orang, adalah simbol ketidakberdayaan. Tapi Muniba mengubahnya menjadi panggung. Ia menyuarakan hal-hal yang selama ini dibungkam: soal perempuan, soal disabilitas, soal trauma, dan tentang harapan yang terus hidup bahkan saat tubuh tak bisa berdiri.

Di atas kursi roda, ia hadir bukan untuk minta belas kasihan, tapi untuk memperlihatkan bahwa keberanian bisa berbentuk apa saja. Ia mengajarkan bahwa suara yang datang dari posisi terendah secara fisik, bisa jadi adalah suara paling lantang secara batin.

Bukan hanya perempuan Pakistan yang terinspirasi olehnya, tapi juga perempuan-perempuan di berbagai negara yang pernah merasa tidak cukup. Tidak cukup cantik. Tidak cukup sehat. Tidak cukup sesuai.

Kisah Muniba menyentuh karena ia hadir dari sisi yang jarang dibicarakan. Di tengah riuhnya dunia yang merayakan perempuan dengan kekuatan ekonomi, politik, dan intelektual, Muniba memperlihatkan bahwa kekuatan juga bisa lahir dari luka. Dan bahwa luka itu bukan untuk disembunyikan, melainkan untuk diceritakan agar orang lain bisa merasa tidak sendiri.

Saya pribadi merasa bahwa keberanian Muniba untuk tetap bersuara dari kondisi yang penuh batas adalah bentuk pemberdayaan paling otentik. Ia tidak memerlukan kekuatan fisik untuk menjadi pemimpin. Ia cukup menjadi jujur, utuh dalam ketidaksempurnaan, dan tetap percaya bahwa suaranya penting.

Muniba Mazari mengingatkan kita semua bahwa perempuan tidak harus sempurna untuk layak didengar. Mereka cukup ada, cukup berani, cukup jujur, dan itu sudah lebih dari cukup untuk mengubah dunia.

“Turn your wounds into wisdom. And your scars into art.”

(Ubah lukamu menjadi kebijaksanaan. Dan bekas lukamu menjadi karya seni.)

– Muniba Mazari

 

Share. WhatsApp Facebook Twitter LinkedIn Tumblr Email Telegram

Related Posts

Lily Pujiati dan Jejak Perjuangan Perempuan Ojol di Jalanan

15 April 2026

Jarang Orang Tahu! Inilah Memory Banda: Pejuang Hak Anak dan Perempuan dari Malawi, Afrika

25 September 2025

Mendengar Suara Nawal El-Sadawi di Tengah Kepungan Patriarki Mesir

11 September 2025

Comments are closed.

Relasi Gender di Suku Tuareg: Perempuan Tidak Bercadar, Laki-Laki yang Harus Melakukannya

9 Mei 2026

Mengecam Keras Pelaku Kekerasan yang Berlindung di Balik Otoritas Pendidikan dan Keagamaan

9 Mei 2026

Kala Split Bill Sentil Maskulinitas Pria

7 Mei 2026

Menjaga Perempuan atau Mendidik Laki-laki?

4 Mei 2026
banner jalastoria
Facebook X (Twitter) Instagram YouTube LinkedIn TikTok
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Makna Logo
  • Kirim Tulisan
© 2026 | All rights reserved

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.