Oleh: Heri Haliling
sumber: (betahita.id photos
Di Kalimantan Timur, tepatnya di Desa Nehas Liah Bing, Kecamatan Muara Wahau, terdapat Hutan Lindung Wehea , dengan luas sekitar 38.000 hektar. Hutan ini menyimpan habitat sekitar 61 jenis mamalia (termasuk orangutan), 114 jenis burung, 9 jenis primata, 12 jenis hewan pengerat, dan 59 jenis pohon dengan nilai ekonomi. Selain itu Hutan Lindung Wehea juga dihuni satwa langka yang meliputi orangutan, macan dahan, lutung dahi putih, burung enggang, burung umbuai, serta beruang madu. Terjaganya Hutan Wehea tak lepas dari sosok perempuan luar biasa yang telah mencuri perhatian banyak orang karena dedikasinya menjaga alam. Ya, namanya Yuliana Wetuq, perempuan tangguh dari suku Dayak Wehea. Sosok yang awalnya mungkin tak banyak dikenal, kini menjelma menjadi ikon perjuangan pelestarian lingkungan. Yuliana Wetuq tak hanya berjuang di daerahnya, tapi juga di tingkat nasional.
“Saya terlahir dari suku Dayak Wehea. Sejak kecil sudah dekat dengan alam dan hutan. Hal itu menjadi panggilan saya untuk melindungi hutan Wehea,” ucap Yuliana dengan penuh keyakinan usai menerima penghargaan sebagai perempuan inspiratif di Sangatta.
Perjalanan panjang Yuliana dimulai sejak tahun 2008. Saat itu, perhatian terhadap kerusakan hutan mulai menjadi isu besar di Kalimantan Timur. Penebangan liar, perburuan satwa, dan ekspansi tambang membuat kawasan hutan Wehea terancam. Di tengah tantangan besar itu, muncul langkah berarti, Yuliana bergabung dan kemudian memimpin Petkuq Mehuey, tim patroli adat Dayak Wehea yang diakui langsung oleh kepala adat. Dalam tim tersebut, hanya ada satu perempuan yaitu dirinya sendiri.
Perkuq Mehuey: Menjaga Hutan Wehea Tetap Lestari
Bersama sepuluh pemuda Wehea lainnya, ia menjaga kawasan hutan lindung yang bukan hanya bentangan pohon dan binatang liar. Bagi suku Wehea, hutan adalah jantung kehidupan. Tempat tumbuh obat-obatan alami, sumber pangan, air bersih, sekaligus penjaga tradisi dan nilai-nilai budaya yang diwariskan secara turun-temurun.
“Hutan adalah sumber kehidupan kami, orang Wehea,” tegas Yuliana dalam salah satu wawancara bersama yayasan konservasi. Kalimat itu bukan sekadar ucapan. Ia benar-benar hidup dalam prinsip tersebut dengan menjalani hari-hari dibalut tanggung jawab besar, yaitu menjaga alam dan budayanya tetap lestari.
Menjadi satu-satunya perempuan di tim patroli bukan perkara mudah. Dunia patroli hutan sering kali dianggap domain laki-laki. Tak sedikit yang meragukan kemampuannya. Namun Yuliana tak gentar. Ia menjawab semua keraguan dengan kerja nyata. Lewat patroli hutan, edukasi, hingga advokasi adat, Yuliana menunjukkan bahwa perempuan juga bisa berdiri di garis bujur pelestarian alam.
“Perempuan dianggap tidak mampu, seperti itu,” katanya. “Tapi saya bisa membuktikan. Saya mampu melindungi hutan.”
Kerja kerasnya pun berbuah manis. Pada Hari Kartini 2025, Yuliana menerima penghargaan Gender Champion dari pemerintah provinsi karena konsistensinya melindungi lingkungan dan memberdayakan perempuan. Penghargaan itu menjadi simbol bahwa peran perempuan dalam pelestarian alam sangat penting dan layak mendapat panggung.
Lebih dari sekadar menjaga hutan, Yuliana juga aktif dalam upaya pemberdayaan ekonomi warga lokal, terutama para perempuan. Bersama lembaga adat dan organisasi konservasi, ia mendorong pengembangan produk non-kayu dari hutan, seperti rotan dan kerajinan anjat. Produk-produk itu tak hanya memperkuat ekonomi desa, tapi juga menjadi bentuk penghormatan terhadap alam. Prinsipnya adalah mengambil secukupnya tanpa merusak.
Aktivitas tim Petkuq Mehuey juga beragam. Selain patroli rutin, mereka mengumpulkan data biodiversitas, mendampingi wisatawan, bahkan tinggal bergilir di hutan selama 3 bulan. Semuanya dilakukan demi menjaga keseimbangan antara manusia dan alam. Yuliana juga aktif memberi edukasi ke generasi muda. Mengajarkan nilai budaya, pentingnya konservasi, dan mengapa hutan harus dilindungi.
Namun, perjuangannya tidak selalu mulus. Ia pernah berhadapan langsung dengan pemburu bersenjata, medan yang ekstrem, hingga macan Dahan, salah satu predator yang dilindungi. Akan tetapi semua tantangan itu tak membuatnya mundur. Etos kerja tim dan keberanian moral menjadi kekuatannya. Jika ada pelanggaran adat atau hukum, mereka tak segan bertindak tegas melalui sanksi adat atau melibatkan kepolisian.
“Kalau masih bisa diajak kerja sama, kita kasih denda adat. Tapi kalau enggak, ya kita libatkan polisi,” ulang Yuliana. Salah satu pesan terkuat yang ia sampaikan ke masyarakat, terutama para perempuan nyatanya sangat sederhana namun dalam maknanya.
“Jangan berkecil hati. Tetap semangat dan lakukan hal-hal baik. Perempuan juga bisa menjaga dunia, mulai dari apa yang ada di sekitar kita,” Ucapnya dalam Jakarta Globe.
Kalimat itu Yuliana tujukan terutama untuk generasi muda perempuan di komunitas Wehea agar mereka tak takut untuk terlibat dalam urusan adat, lingkungan, dan masa depan desa. Harapan Yuliana sangat jelas supaya hutan Wehea tetap lestari bagi anak cucu dan budaya Dayak Wehea terus hidup bersama alam yang mereka junjung tinggi.
Kisah Yuliana Wetuq bukan hanya tentang keberanian perempuan menjaga hutan. Ini adalah cerita tentang kecintaan pada warisan leluhur, perlawanan terhadap ketidakadilan ekologis, dan tentang harapan masa depan yang lebih lestari. Dalam setiap langkahnya di hutan, Yuliana tidak hanya menjaga pohon dan tanah. Ia sedang menjaga ruh dari suku dan kehidupan itu sendiri.
Penulis telah menerbitkan beberapa novel dan kumpulan cerpen. Pembaca bisa menyapanya melalui kanal Instagram @heri_haliling

