Close Menu
JalaStoria.idJalaStoria.id
  • Home
  • Ragam
  • Perspektif
  • Storimini
  • Sosok
  • Telaah
    • Hukum
    • Riset
    • Buku
    • Film
  • Konsultasi
  • Mitra
  • Media
  • English Version
Facebook X (Twitter) Instagram YouTube LinkedIn TikTok
  • Tentang Kami
  • Makna Logo
  • Daftar Isi
  • Tim Kami
  • Kirim Tulisan
  • Kontak Kami
  • Arsip
Facebook X (Twitter) Instagram YouTube LinkedIn TikTok
JalaStoria.idJalaStoria.id
  • Home
  • Ragam
  • Perspektif
  • Storimini
  • Sosok
  • Telaah
    • Hukum
    • Riset
    • Buku
    • Film
  • Konsultasi
  • Mitra
  • Media
  • English Version
JalaStoria.idJalaStoria.id
Home»Telaah»Film»Kisah Ruby, Anak dari Keluarga Disabilitas Tuli

Kisah Ruby, Anak dari Keluarga Disabilitas Tuli

Film jalastoria7 Juni 2022
Disabilitas Tuli
Gambar (Tangkapan Layar CODA -Trailer Resmi | Apple TV+)

Oleh: Alviani Sabillah

Tanggal terbit    : 13 Agustus 2021, (USA)

Sutradara           : Sian Heder

Diadopsi dari    : The Berlier Family

Penghargaan    : Film Terbaik Academy Award 2022

Durasi                : 1 jam 51 menit

CODA (Child of Deaf Adults) menceritakan kisah Ruby, seorang anak perempuan yang satu-satunya bisa mendengar di tengah keluarganya yang tuli. Film bergenre drama/musikal garapan sutradara Sian Heder ini sukses menduduki peringkat penilaian cukup tinggi, yakni 8.1/10 versi IMDb dan 95% versi Rotten Tomatoes.

Alur cerita yang sederhana membuat film ini ringan untuk ditonton dan tetap sarat makna. Sayangnya, film yang hanya bisa diakses melalui Apple TV ini tidak seinklusif Netflix atau platform film lain yang lebih populer. Terlepas dari itu, tulisan ini akan memuat sedikit cuplikan film untuk ditelaah lebih lanjut.

Sosok Ruby yang diperankan Emilia Jones berhasil menggambarkan bagaimana perjuangan Ruby sebagai anak perempuan dari keluarga tuli yang rentan akan perilaku diskriminatif dan tidak setara dari masyarakat/lingkungan. Ruby dan keluarganya berasal dan tinggal di Gloucester, Massachusetts. Daerah ini merupakan kota pantai yang sebagian besar kehidupan masyarakatnya menggeluti bisnis perikanan (nelayan, memancing, dan jual beli ikan) untuk diekspor ke daerah lain.

Baca Juga: Riset: Film dengan Protagonis Perempuan Raup Pendapatan Lebih Banyak

Di awal film, penonton diajak menyelami aktivitas ganda Ruby, sebagai seorang murid di suatu sekolah formal lokal dan seorang anak yang harus membantu ayahnya memancing. Pekerjaannya dia lakukan sejak dini hari sampai pagi menjelang waktunya ke sekolah. Film ini menunjukkan realita beban ganda seorang anak perempuan.

Film ini menggambarkan pandangan dan sikap masyarakat sekitar terhadap orang dengan disabilitas tuli secara individu juga keluarga.  Dalam beberapa cuplikan, perjuangan seluruh anggota keluarga Ruby mengalami kesulitan untuk berkomunikasi, bernegosiasi, dan menyampaikan pendapat. Tak jarang mereka ditipu oleh pengepul saat menjual hasil tangkapan dengan menjungkirbalikkan harga pasaran ikan. Ini dilakukan pengepul agar mendapatkan harga murah dari keluarga Ruby. Situasi ini membawa keluarga Ruby pada kondisi ekonomi yang sangat sulit. Makan seadanya, kebingungan untuk membeli bahan bakar kapal, bahkan hampir menjual kapal satu-satunya yang digunakan sebagai alat mata pencaharian.

Baca Juga: 5 Tantangan Penyandang Disabilitas Korban Kekerasan Seksual

Dalam suatu forum dengar pendapat yang diikuti oleh semua nelayan di pelabuhan, tergambar jelas tindakan diskriminatif yang dilakukan oleh pemimpin forum bahkan nelayan sekitar. Minimnya kesadaran masyarakat atas pengetahuan bahasa isyarat, pemahaman kesetaraan, aksi afirmatif (affirmative action) melalui kehadiran juru bahasa isyarat dalam forum dengar pendapat semakin menyulitkan kondisi ayah dan kakak Ruby untuk berpartisipasi. Bukan hanya menghilangkan kesempatan berpendapat bagi penyandang disabilitas tuli, kondisi ini juga berdampak pada kerugian fisik yang dialami kakak Ruby. Sebab, perilaku diskriminatif kerap menyulut emosi kakak Ruby yang tidak terima ayah dan keluarganya diejek orang lain dalam forum itu.

Atas pengalaman tersebut, Ruby selalu diandalkan oleh keluarganya untuk berkomunikasi dengan masyarakat secara umum dalam forum formal maupun informal. Namun, benturan kepentingan menjadi pertentangan dalam diri Ruby. Satu sisi Ruby ingin menjadi “telinga” bagi keluarganya tapi dia juga ingin menggapai mimpinya sebagai penyanyi.

Pertentangan semakin mengemuka manakala Ruby mendapat atensi dari pelatihnya. Jadwal latihan bernyanyi seringkali bentrok dengan agenda penting yang harus dihadiri keluarga Ruby. Keributan tak dapat dihindari. Sampai suatu ketika, keluarga Ruby mengetahui bahwa putrinya memiliki minat dan potensi dalam bernyanyi.

Baca Juga: Mbrabak di Sudut-Sudut Balkon

Awalnya keluarga Ruby tidak percaya dengan potensinya. Mereka cenderung mempertanyakan “Bagaimana seorang anak yang lahir dan tumbuh bersama keluarga tuli dapat bernyanyi?” Akhirnya, keluarga Ruby mendukung keinginannya. Sebaliknya, Ruby juga  tetap berusaha untuk membantu keluarganya menjalankan bisnis.

Situasi semakin emosional ketika penampilan Ruby pada gelaran pentas seni akhir tahun sekolah. Keluarga Ruby tidak dapat mendengar indahnya alunan suaranya. Mereka hanya bisa menyaksikan gestur tubuh dan mulut Ruby saat bernyanyi. Tidak ada alat bantu dengar. Keluarga Ruby hanya melihat dalam sunyi. Ikut bersorak menepuk tangan dengan bahasa isyarat saat melihat kerumunan bertepuk tangan untuk Ruby. Sejak hari itu keluarga Ruby percaya bahwa Ruby CODA yang luar biasa. Mimpi Ruby semakin nyata saat usai pertunjukkan itu dia menerima tawaran untuk lanjut ke pendidikan tinggi musik di kota lain. Keluarga Ruby pun mendukung pilihan Ruby untuk merantau, melanjutkan pendidikannya.

*Peneliti Pusat Studi Hukum dan Kebijakan Indonesia (PSHK)

Disabilitas film
Share. WhatsApp Facebook Twitter LinkedIn Tumblr Email Telegram

Related Posts

Pangku: Tubuh yang Bekerja, Tubuh yang Bertahan

12 Januari 2026

Perjuangan Perempuan Korea dalam Menghadapi Triple Exploitation di Film Factory Complex

12 Januari 2026

Ketimpangan dalam Relasi Intim dan Dampaknya bagi Perempuan: Realita Kelam dalam Drama S Line

11 Januari 2026

Comments are closed.

Relasi Gender di Suku Tuareg: Perempuan Tidak Bercadar, Laki-Laki yang Harus Melakukannya

9 Mei 2026

Mengecam Keras Pelaku Kekerasan yang Berlindung di Balik Otoritas Pendidikan dan Keagamaan

9 Mei 2026

Kala Split Bill Sentil Maskulinitas Pria

7 Mei 2026

Menjaga Perempuan atau Mendidik Laki-laki?

4 Mei 2026
banner jalastoria
Facebook X (Twitter) Instagram YouTube LinkedIn TikTok
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Makna Logo
  • Kirim Tulisan
© 2026 | All rights reserved

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.